Sebuah Cerita dari Segelas Kopi

0
293
views
Artikel Turasih Semakin tua barangkali orang akan semakin menghargai momentum dalam hidupnya, sekecil apa pun itu. Semakin tua waktu tidur menjadi semakin sedikit, bukan sebab tak bisa, tapi lebih karena ada banyak hal yang jauh lebih penting daripada sekedar tidur yaitu kebersamaan dengan orang-orang terkasih.

Hari dimulai dengan bangun lebih pagi dengan panjatan doa yang tak pernah pupus, juga malam dimasuki menjelang dini hari agar tak terlepas satu pun ingatan tentang sanak famili. Setidaknya begitu menurutku, itulah yang kulihat dari Bapak. 

Laki-laki yang sudah bercucu itu akan menghabiskan isi gelas kopinya persis sebelum matahari terbit. Entahlah, terlalu melankolis kadang ketika menuliskan rasa kagum dan cinta yang sekaligus ada. Jarang sekali aku menatapnya langsung, paling hanya lewat telepon sesekali waktu dalam satu hari. Tapi aku tahu bahwa ia adalah penggemar kopi.

"Sedang apa Pak?" tanyaku di ujung telepon.

"Biasa, ngopi nduk..." jawabnya tenang, Suaranya masih sehalus dan setegar saat muda dulu, tapi aku tahu rambut dan jenggotnya telah beranjak memutih.

Kopi adalah teman duduk baginya, barangkali saat ia termangu menelisik sedang apa anak dan cucunya. Juga saat ia menunggu waktu untuk bertanya kabar apakah ia bisa menelpon, jika mungkin anaknya tidak sibuk. Sesederhana itu pengharapan Bapak, tidak semuluk impian anaknya untuk berpetualang mengelilingi dunia.

Waktu terus bergerak, perubahan terus terjadi, hanya kenangan-kenangan terbaik yang hidup abadi dalam ingatan seseorang.

Kopi untuk Bapak tidak diracik oleh barista seperti pada cafe-cafe mahal. Kopinya buatan ibu, aku, adikku, atau kadang Bapak sendiri yang membuatnya. Satu sendok bubuk kopi dan satu sendok gula. Kopinya pun tak mengenal label dan merk, yang penting berwarna hitam atau cokelat karena tambahan susu, diseduh dengan air panas yang mengepulkan asap maka jadilah kopi.

Tidak perlu cangkir mahal dan estetis, kopi untuk bapak diseduh di gelas beling yang kadang sudah berkerak bagian bawahnya karena usia gelas itu sudah sama dengan usiaku. Pada kopi itu tak ada kemewahan, tak ada gengsi, tak ada pula ajang untuk memamerkannya di sosial media. Kopi untuk Bapak adalah kenikmatan yang tak mahal namun tidak akan bisa terbeli nilainya.

"Nduk, Bapak kangen kopi bikinanmu...."

Jika dapat kujabarkan, masa tua adalah masa dimana seseorang -barangkali- merindukan kelengkapan formasi dalam rumah yang sudah ia bangun. Masa dimana waktu menjadi semakin penting untuk dilalui bersama dengan yang terkasih.

Pada segelas kopi untuk Bapak....

Tidak terdapat barista handal.

Tidak ada merk kopi mahal.

Tidak pula prestise fenomenal.

Segelas kopi untuk Bapak adalah makna tentang hidupnya kenangan yang pernah ia lalui. Tentang kebersamaan dan harapan, mungkin esok gelas yang akan terisi adalah hasil racikan anaknya, akan ia nikmati sembari duduk menggenggam tangan istrinya. Juga melihat cucunya berlarian di halaman sambil mendengarkan kisah dari anak-anaknya.

Turasih, seorang ibu, peneliti dan penulis aktif.

(Visited 49 times, 1 visits today)
Please follow and like us:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here