Kami Terjepit, dan Kami Harus Melawan

0
63
views
Ilustrasi: Graditio
  • Artikel Dony P Herwanto

Subuh baru saja usai. Irma meletakkan mukena dan sajadah di tubir ranjangnya. Ia mengatupkan kedua telapak tangannya. Kemudian menggosok-gosoknya. “Dingin di sini sudah biasa kang,” kata Irma saat melihat saya juga merasa kedinginan di teras rumah kayu yang bersebelahan dengan Sungai Cisadane itu.

Ditemani Sandi – suami Irma – kami bertiga lantas meninggalkan rumah. Matahari beranjak tinggi. Kami berjalan melewati rumah-rumah yang penghuninya memilih meninggalkan pekerjaan di kampung halaman untuk menjadi buruh pabrik. Tangan kiri Irma membawa golok. Sandi, menggendong tas dari anyaman bambu.

Kami bertiga memang berencana menuju hutan milik Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang berbatasan langsung dengan Kampung Ciwaluh, Desa Watesjaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kami berniat mengambil batang-batang kayu dan kopi.

“Banyak warga yang takut ke hutan. Takut di tangkap pihak Taman Nasional,” jelas Irma. Kampung ini, tepat berada di tengah-tengah kawasan Taman Nasional yang kerap dituding warga memberikan “teror”.

Kami berjalan menyusuri pematang sawah yang mulai dimiliki perusahaan-perusahaan besar. Warga Ciwaluh hanya buruh tani. Padahal, mereka dahulu adalah pemilik lahan yang sah. Seiring laju kebutuhan materi yang semakin tinggi, mau tidak mau, profesi sebagai petani harus ditinggalkan. “Itu dulu kang. Sekarang, banyak yang jadi buruh pabrik,” ucapnya.

Sebelum menjadi pemetik kopi, Irma sempat bekerja sebagai buruh di pabrik elektronik di Cigombong. Sekira 1 jam jarak tempuhnya dari Kampung Ciwaluh. Sempat pindah ke pabrik air mineral, Irma akhirnya memilih kembali ke kampung. Menjadi istri dari laki-laki yang sedang memperjuangkan ekowisata di kampungnya.

Warga Ciwaluh sebagian besar memang turun temurun tidak ada pendatang yang benar-benar baru tinggal. Tradisi mengolah tanah adalah keahlian mereka. Sayang, sejak ada kabar akan adanya taman hiburan skala internasional, Disneyland, banyak warga yang menjual sawahnya. “Banyak yang tergiur uang kang. Itu tidak munafik,” ungkap Irma.

Kami berjalan sekira 30 menit untuk sampai di hutan. Pemandangan yang luar biasa. Tatanan persawahan yang begitu indah. Sinar matahari yang santun dan suara ricik air dari sungai Cisadane menjadi lengkap dengan suara burung-burung yang saling bersahutan. Ciwaluh menjadi kampung paling ujung di hulu Cisadane.

Kami tiba di tapal batas Kampung Ciwaluh dan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Dengan cekatan, Irma memotong ranting dan mengumpulkan batang-batang pohon yang jatuh ke tanah. Ini kerap dilakukan Irma dan warga Ciwaluh. Mengambil ranting dan batang pohon yang sudah jatuh. “Kami tak pernah menebang pohon,” tegas Irma.

Di sisi yang lain, saya melihat Sandi memanjat pohon kopi setinggi sekira 2-3 meter. Ia tak kalah cekatan dari Irma, istri yang sudah dinikahi sekira 3 tahun itu. Saya menyaksikan dua warga Ciwaluh ini mengambil apa yang ada dengan secukupnya. Karena mereka yakin, yang berlebihan itu tidak baik.

Apa yang dilakukan Sandi dan Irma bukan tanpa ancaman. Pernah suatu ketika, pihak Taman Nasional melepasliarkan seekor macan di hutan. Polisi hutan pun kerap menangkap warga yang dengan sengaja mengambil kayu dan kopi di lahan milik Taman Nasional.

“Pernah kami dengar, pihak Taman Nasional melepas seekor macan. Ada beberapa ternak warga yang mati. Untung tidak makan manusia,” sinisnya.

Saya masih memerhatikan Irma dan Sandi beraktivitas. Sesekali, saya melihat dua bukit yang mengapit Kampung Ciwaluh. Tegakan pohon pinus di kedua bukit itu menunjukkan bahwa perhutani memang serius menjaga kawasan taman nasional. Dan saat saya memandang jauh ke hamparan di sela-sela kedua bukit itu, terlihat hamparan tanah merah di atas bukit yang pohonnya sudah ditebang.

Ya, itu adalah lokasi megaproyek milik PT. MNC Land dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Megaproyek setara Disneyland itu nantinya akan memakan lahan seluas 2.000 hektare milik Kabupaten Bogor dan Sukabumi. Kucuran dananya seperti air mata warga yang terus menyaksikan satu per satu lahan garapan mereka dibeli pemodal-pemodal besar yang berada di bawah kendali PT. MNC Land dan Agroforestry Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Tahun 2016 saja, PT MNC Land menerima Letter of interest dari China Export and Credit Insurance Corporation senilai 500 juta dolar AS atau jika dirupiahkan sebesar Rp 6,75 triliun. Dengan dana sebesar itu, seisi Kampung Ciwaluh bisa dibeli. Sayang, kampung yang sudah ada sejak penjajahan Jepang sekira tahun 1942 dan menjadi basis Tentara Keamanan Rakyat itu terus melawan.

Sandi menghampiri saya. Di kantung plastik hitam yang dia bawa sudah terkumpul biji-biji kopi merah. “Ini lumayan untuk kita nikmati besok dan besoknya lagi, kang,” kata Sandi. “Itupun kalau tidak turun hujan,” sambungnya.

Sandi dan Irma sudah selesai bekerja. Sandi mengambil biji kopi yang pernah ditanam orangtunya. Sementara, Irma membawa potongan-potongan kecil kayu kering yang terjatuh di tapal batas taman nasional. Kami kembali ke rumah melewati jalan yang sama dengan jalan saat kami berangkat.

Di kanan kiri kami tegak berdiri pohon pinus. Pohon yang mulai ditanam Perum Perhutani sejak 1977. Pada tahun itu pula, Perum Perhutani membagikan bibit-bibit pinus ke warga Ciwaluh untuk ditanam di lahan garapannya. Pada saat itu pula, Perum Perhutani memberikan upah tanam ke warga. Sayangnya, setelah warga beramai-ramai menanam pohon pinus, oknum Perhutani mulai menarik pajak lahan ke warga.

Dari jalan yang kami lalui, saya melihat ketidakadilan itu. Langkah Irma dan Sandi sedikit melambat. Sandi meminta saya untuk lebih dekat dengannya. Dia menunjukkan areal persawahan sudah bukan milik warga lagi. “satu-satunya tanah yang masih kami miliki adalah rumah. sawah dan kebun, sudah bukan milik kami lagi, kang,”. Saya menepuk pundak Sandi.

Kami melanjutkan perjalanan memasuki perkampungan. Rumah-rumah tertata rapih, bersih dan sejuk. Lahan garapan warga memang tak jauh dari pemukiman. Lahan yang dulu menjadi milik warga, termasuk orang tua Irma dan Sandi sudah berganti pemilik. Sejak tahun 1980, kawasan Gunung Gede Pangrango dijadikan Taman Nasional, dan sejak 2003 saat Taman Nasional Gunung Gede Pangrango memperluas wilayahnya, lahan garapan milik warga menjadi bagian taman nasional.

Dari situlah, konflik antara warga dan pengelola taman nasional bermula.

Irma bergegas membuka pintu. Menyandarkan potongan kayu ke dinding rumah. Sandi dan saya masih berbincang di teras rumah, menikmati sejuknya udara dan ricik air dari Sungai Cisadane. “Mungkin kami tak sanggup melawan jika sendirian,” ujar Sandi. Saya menarik nafas panjang.

Sandi mulai tak tenang. Beberapakali, dia terlihat gusar. Memang, saat berada di Kampung Ciwaluh, saya tak banyak melihat anak-anak muda seusia Sandi. Pilihan untuk meninggalkan kampung di saat kebutuhan hidup makin tinggi adalah pilihan tepat. Tapi Sandi dan Irma menolak pilihan itu. mereka tetap memilih setia menjaga kampungnya.

Dari dalam rumah, Irma memanggil kami untuk masuk. Di meja, sudah tersedia dua cangkir kopi yang pekat dan aromanya belum pernah saya kenal. Apakah ini harum kopi ciwaluh? Dan tebakan saya benar. Sandi mempersilahkan saya menikmati seduhan kopi istrinya.

Irma menyalakan lampu untuk menerangi ruang tamunya. Di luar, hujan mulai turun. “Dengan kopi ini, kami ingin melawan, kang. Kami ingin anak-anak muda tak meninggalkan kampung ini,” ucap Sandi. Sekali lagi, saya menarik nafas panjang. Saya benar-benar cemas seandainya megaproyek milik PT MNC Land itu benar-benar diwujudkan.

Saya membayangkan, kampung yang sejuk dan indah itu akan hilang dari peta. Tinggal nama. Saya takut melihat Irma dan Sandi bahu membahu bersama warga yang lain berjaga di garis depan mengusir para taipan yang pongah. Pasti mereka tak mampu membayar aparat untuk melindunginya, karena harta satu-satunya yang mereka miliki adalah air mata.

Dony P. Herwanto, documentary maker, peminum kopi setia dan pembaca buku. Menulis untuk menjaga kewarasan dan ingatan.

(Visited 20 times, 1 visits today)
Please follow and like us:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here