Aina, Percayalah Tuhan tidak Tidur

0
85
views
Foto : Abul Ala Maududi

  • Artikel Dony P Herwanto

Pagi belum bangun benar. Perkebunan sawit masih gelap dan dingin. Tepat di tengah perkebunan sawit seluas sekira 33.000 hektare, Aina terbangun dari tidurnya. kedua orangtuanya masih terlelap, saat Aina turun dari ranjang tanpa dipan. Sangat perlahan, Aina membuka pintu kamar yang hanya diterangi lampu 5 watt itu. Ia tak ingin langkahnya membangunkan kedua orangtuanya.

Kaki kecilnya ringan melangkah menuju meja belajar. Merapikan alat sekolah. Memasukkan buku, pensil dan jas hujan ke dalam tas yang lebih besar dari ukuran tubuhnya. Dari jauh, suara parau dari pelantang masjid mengumandangkan azan subuh. Pucuk-pucuk pohon kelapa sawit memperlihatkan siluet yang begitu indah.

Aina berjalan menuju kamar mandi. Mengambil air wudhu. Tak lama, kedua orangtuanya terbangun karena mendengar gemericik air di kamar mandi. Aina menyusun letak sajadah untuk salat berjamaah. Paling depan, sajadah untuk sang ayah. Di belakangnya, dua sajadah tertata rapih. Satu untuk ibu. Satu untuk Aina.

***

Untung Wahono duduk di depan pintu masuk kantor perusahaan perkebunan sawit di Desa Kenepai, Kecamatan Semitau, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Indonesia. Areal perkantoran itu terlihat sepi. Hanya dua orang satpam yang terlihat sibuk menjaga pintu masuk areal perkantoran yang letaknya di tengah-tengah perkebunan sawit. Sesekali, Untung Wahono melihat jam di tangan kanannya. Bus sekolah berwarna kuning menunggu dengan tenang di samping kantor.

Satu per satu, anak-anak sekolah dan para guru masuk areal perkantoran. Aina masih di rumah. Untung Wahono adalah seorang sopir polling. Mengendarai Toyota Hilux. Tugasnya jelas. Mengantar atasan-atasan perusahaan, sekedar melihat-lihat keadaan kebun atau bahkan mengantarkan belanja ke Kecamatan Semitau, salah satu wilayah yang cukup ramai dan tidak jauh dari areal perkebunan kelapa sawit.

Ya, Untung Wahono, istri dan Aina tinggal di emplasment atau rumah karyawan yang dibangun perusahaan yang berada di tengah-tengah perkebunan sawit. Jauh dari keramaian, memang. Bahkan, signal pun kadang ada, kadang tidak. Lebih banyaknya, signal tak ada di sini.

Untung Wahono sudah duduk di dalam mobil Hilux silvernya. Mesin dieselnya sudah panas. Buru-buru Untung Wahono memacu Hiluxnya melewati jalan tanah merah yang masih basah akibat hujan. Di rumah, Aina sudah bersiap berangkat sekolah.

“Ayah kok lama ya, bu?” tanya Aina kepada ibunya. Sang ibu hanya tersenyum. Ia tahu, anak perempuan semata wayangnya ini sudah tak sabar ingin berangkat sekolah.

***

Saya teringat masa kecil saya saat melihat Aina. Saya teringat ibu saya. Perempuan yang selalu memiliki kesabaran dan ketabahan yang begitu besar. Saya teringat masa-masa sekolah saya. Saya teringat semuanya. Dan saya teringat almarhum ayah saya. Terimakasih, Aina.

***

Sepeda motor Yamaha melaju sangat pelan. Pengemudinya, Arif Budi Prayitno, Kepala SD Tunas Prima Khatulistiwa, satu-satunya sekolah dasar di tengah-tengah perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Semitau, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Indonesia. Usianya masih 26 tahun. Dan di usia semuda itu, Yayasan Tunas Lestari Sejahtera memercayakan manajemen sekolah kepadanya. “Saat saya ditunjuk menjadi kepala sekolah, posisi saya sedang tidak ada di tempat pemilihan,”.

Arif tinggal di perumahan yang dibangun perusahaan kelapa sawit, bersama sejumlah karyawan. Istri dan anak yang belum genap berusia setahun, tinggal di Klaten, Jawa Tengah bersama kedua orangtuanya. Dia kerap teringat dua orang yang paling dicintainya itu.

***

Arif memarkir motornya di samping kantor perusahaan. Di dalam bus sekolah, sejumlah siswa dan guru sudah menunggu. Saya datang bersama Anam, Kepala TU perusahaan sawit ini. Arif menyalami saya terlebih dahulu sebelum berbincang dengan Anam. Tak lama, Anam meminta Arif untuk segera masuk ke bus sekolah, karena hari sudah beranjak siang, meski masih mendung.

Mobil yang dikendarai Untung dan Aina memasuki areal kantor. Aina mencium tangan Untung. Untung membalas ciuman Aina. Gadis kecil dengan tas punggung besar itu berjalan menuju bus sekolah. Teman-teman Aina sudah menunggunya. Aina melambaikan tangan kepada Untung saat bus sekolah meninggalkan areal kantor. Mata Untung terus mengikuti kemana bus sekolah itu berjalan.

Mesin mobil Hilux dimatikan. Untung berjalan masuk ke ruangan di mana Anam sudah menunggunya.

***

Bus sekolah terus melaju. Menerobos jalur sawit yang masih basah karena hujan. Di dalam bus, Aina, Arif dan sejumlah murid serta guru bernyanyi. Menggunakan motor, saya mengikuti dari belakang. Saya mendengar lagu-lagu kebangsaan dinyanyikan di dalam bus sekolah yang dengan sabar melewati terjal dan licinnya jalanan di perkebunan sawit yang sejak malam hingga menjelang subuh diguyur hujan.

***

SD Tunas Prima Khatulistiwa merupakan sekolah yang dibangun oleh Yayasan Tunas Lestari Sejahtera untuk memenuhi hak perusahaan kepada karyawan. Dibangun di areal bekas long house karyawan. Dari atas sekolah ini, kita bisa melihat hamparan hijau kelapa sawit di Desa Kenepai. Tertata rapih dan teratur. Jelas, ini disengaja karena untuk menghasilkan buah sawit yang berkualitas.

Sekolah ini menjadi satu-satunya harapan orangtua yang kebetulan menjadi karyawan di perkebunan kelapa sawit tersebut. Karena jika tidak ada sekolah tersebut, anak-anak mereka akan bersekolah di tempat yang lokasinya sangat jauh dari rumah-rumah karyawan. Akibat lain yang bisa ditimbulkan adalah, anak bisa saja malas pergi sekolah karena jarak tempuhnya sangat jauh. Selain itu, proses belajar mengajar di sekolah-sekolah di luar perkebunan kerap singkat. Masuk kelas sekira pukul 07.00 sampai 11.00.

Aina mungkin tak pernah merasakan hal di atas. Dia saat ini baru duduk di kelas 1. Kelas di mana dia belajar segalanya tentang budi pekerti dan pendidikan lingkungan hidup.

***

Untung Wahono duduk di beranda sekolah. Matanya menerawang. Entah apa yang dipikirkan. Sesekali, dia berjalan ke arah ruang belajar, di mana Aina berada. Saat berdiri tepat di jendela, Untung tersenyum menatap Aina. Anak perempuan yang giginya belum lengkap itu membalas senyum ayahnya. Aina juga melambaikan tangan.

“Saya bangga dengan Aina. Meski masih kelas satu, dia sangat mandiri,”

“dia juga lebih sopan. Tak hanya Aina, hampir semua murid di sini berubah karakternya setelah sekolah di sini,” lanjut Untung.

Untung mengenang saat-saat dirinya menjadi sopir bus sekolah. Ada satu anak di dalam bus yang memanggil Untung tanpa embel-embal om atau pak. “Ada anak yang memanggil saya langsung nama, untung, untung. Saya sedih,” kenangnya.

Daun pohon gelam yang ditanam di halaman bagian depan sekolah melayang dan jatuh ke tanah. Dari jarak sekira 50 meter, wangi melaleuca leucadendra tercium. Sesaat, kami memandang hamparan pohon kelapa sawit di Khatulistiwa Estate.

“Anak-anak ini semangat sekolahnya luar biasa”

“Saat menjadi sopir bus sekolah, saya pernah meneteskan air mata melihat semangat mereka menuntut ilmu.” terang Untung. Saya melihat kisah yang begitu nyata dari mata Untung Wahono. Saya yakin, dia tidak sedang membanggakan, atau lebih tepatnya tidak mengada-ada cerita.

***

Tahun 2011, Aina lahir. Tahun di mana Negara Jepang, yang berjarak sekira 4.819 kilometer dari Indonesia terkena gempa berkekuatan 8,9 skala ritcher dan disusul gempa berkekuatan 7,4 skala ritcher yang mengakibatkan tsunami. Sekira 16 ribu orang tewas, 4 ribu orang hilang dan 6 ribu orang terluka. Reaktor Nuklir Fukusima pun meledak. Fukusima benar-benar menjadi kota mati, kala itu.

Dan bayi Aina saat itu jauh dari Untung Wahono. Di Desa Kenepai, Untung Wahono tinggal di Long House yang dibangun perusahaan bersama puluhan pekerja lainnya. Hanya foto bayi Aina yang berada di dompetnya yang lebih sunyi daripada kebun kelapa sawit di malam hari. Nasib perantau selalu sama di awal titik perjuangan. Dan Untung Wahono menolak mengeluh. Karena dia merasa tidak sendirian di pulau seluas 743.330 kilometer per segi itu.

2013, Aina dibawa sang ibu menemui Untung Wahono. Bertiga, tinggal di tengah perkebunan kelapa sawit yang makin lebat dan luas di Kalimantan Barat, Indonesia.

***

Arif Budi Prayitno mengendarai sepeda motor lebih cepat dari biasanya menerobos jalur sawit yang semakin merepotkan. Sementara itu, Aina dan 96 murid lainnya menunggu kepala sekolah dan beberapa guru tiba di sekolah.

***

Di kantor perusahaan kelapa sawit, tempatnya bekerja, Untung Wahono memanaskan mesin Hilux silvernya. Bersiap mengantarkan bos-bos perusahaan berkeliling kebun sawit yang di beberapa bloknya nampak menguning.

***

Aina bersama teman-temannya menyanyikan lagu Indonesia Raya. Ia menghormat merah putih dengan begitu tegap. Kelak, ia ingin menjadi dokter. Ia tak ingin ayah ibunya sakit. Ia ingin menjadi dokter yang bisa menolong semua orang.

Aina percayalah kepada Tuhanmu. Ia tidak tidur sedetik pun. Bahkan saat kita tertidur.

Dony P. Herwanto, documentary maker, peminum kopi setia dan pembaca buku. Menulis untuk menjaga kewarasan dan ingatan.

(Visited 30 times, 1 visits today)
Please follow and like us:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here