Kata Ibu, Sehari Setelah Aku Lahir, Ayah Pergi Melaut (Lagi)

0
151
views
  • Artikel Dony P. Herwanto

Sore itu, laut Jawa kurang bersahabat. Angin di darat begitu kencang. Langit di Pulau Tunda tampak suram. Gelap. Barangkali, ini dampak dari Topan Sandy di Amerika dan Topan Bopha di Filipina yang meluluhlantakkan sejumlah bangunan dan merenggut puluhan nyawa serta kerugian material miliaran rupiah di dua negara yang memiliki waktu tempuh sekira 20 jam penerbangan itu.

Di Amerika, korban meninggal mencapai 97 orang dan melumpuhkan sistem transportasi kereta api bawah tanah. Bahkan kampanye Barack Obama dan Mitt Romney yang saat itu tengah bertarung dalam pemilihan Presiden Amerika harus terhambat. Sementara di Filipina, Topan Bopha merenggut nyawa 1.050 orang dan 2.662 lainnya luka-luka. Benar-benar tahun penuh duka.

Dan di tahun yang sama, aku lahir.

***

Ayah memutuskan untuk tetap melaut meski cuaca kurang bersahabat. Usia kandungan ibu memasuki 8 bulan 2 minggu. Ibu tidak tenang melepas kepergian ayah. Sambil bediri di depan pintu, ibu menatap punggung ayah yang semakin jauh. Ibu kembali ke dalam rumah. Menyalakan kompor. Di ruang tengah, televisi 24 inchi mengabarkan banjir besar di Tiongkok. Bahkan kata penyiarnya, ini banjir terbesar selama 6 dekade ke belakang. Banjir ini sendiri membuat 500 penerbangan dibatalkan. 8.200 rumah rusak, 57 ribu warga mengungsi dan berdampak pada 1,6 juta orang lainnya. 79 orang meninggal akibat hanyut terbawa arus. Negara ini rugi US$ 1,6 miliar.

Ibu mulai khawatir. Ayah dan empat orang temannya sudah melepaskan tali yang mengikat perahunya di dermaga Pulau Tunda, salah satu gugusan pulau dari 17 pulau yang ada di provinsi Banten, Indonesia. Ibu khawatir hal-hal buruk menimpa ayah. Pun aku.

Hujan turun membasahi pulau yang dulu bernama Pulau Babi. Silam, saat ibu masih remaja, nenek kerap bercerita tentang asal usul pulau yang menjadi tempat transit kapal-kapal besar dari Jakarta menuju Pulau Sumatera ini.

Kata nenek, ini pulau vulkanik, dari endapan beku lava yang penduduknya turun temurun dan semua berasal dari Kecamatan Pontang, daerah Pantura Kabupaten Serang. Dan di Pontang, kelak aku dilahirkan. Sebab di Pulau Tunda tidak ada dokter kandungan, bidan, dan dukun beranak.

Malam itu, perut ibu sakit hebat. Nenek menyarankan agar ibu segera dibawa ke Karangantu. Aku belum genap 9 bulan. Ibu mengalami pendarahan. Ayah belum pulang dari melaut. Entah ke bagian laut mana ayah mencari ikan. Ibu digandeng nenek menuju dermaga. Dua kakaku menjaga rumah. Menunggu ayah pulang. Nenek dan ibu berjalan lebih cepat. Bahkan sangat cepat untuk ukuran wanita yang sedang hamil dan satu perempuan paruh baya.

Ibu menyewa kapal milik tetangga menuju Karangantu. Dari Pulau Tunda ke Karangantu, waktu tempuhnya sekira 2 jam perjalanan laut. Dan di tengah laut, ibu membayangkan ayah yang belum juga ada kabarnya.

Ibu merasa sendiri. Yang pasti, ibu sangat sedih.

***

Ayah mengikat tali kapalnya di dermaga. Belum juga sampai rumah, seorang tetangga mengabarkan jika aku dan ibu pergi ke Karangantu. KMP Tunda membunyikan suara yang memekakkan telinga. Ayah bergegas berlari menuju KMP Tunda, satu-satunya kapal penumpang yang hanya memiliki 2 kali perjalanan dari Pulau Tunda ke Karangantu dan sebaliknya.

Dua jam perjalanan, bukanlah waktu yang sebentar bagi ayah. Ia ingin melipat jarak jika bisa.

Aku lahir dengan nama Rizky Maulana. Ayah yang memberikan nama itu kepadaku. Pendarahan hebat yang mengawali kelahiranku menjadi peristiwa yang tidak bisa dilupakan. Dan kelahiran dengan normal menjadikan ibu dan ayah menganggap aku sebagai sebuah rejeki yang diberikan sang pencipta.

Ayah mendekati ibu yang sedang memberiku ASI.

“Aku tidak ada uang untuk menebus anak kita,” kata ayah. “Aku minta ijin untuk melaut lagi,” tambah ayah. Ibu hanya tersenyum dan menggenggam tangan ayah.

Ayah mencium keningku yang masih wangi. Menatap jauh lebih dalam mata ibu. Ayah, sekali lagi, menatap wajahku. Aku hanya bisa menutup mata. Aku simpan mata ayah ke dalam mataku. Ibu, sekali lagi, meneteskan airmata saat melihat punggung ayah menjauh dari pandangannya.

Dari ujung lorong rumah sakit, ayah membalikkan badannya yang makin legam itu. Menatap ibu dan aku dari kejauhan. Dia seolah ingin berkata bahwa perpisahan ini sangat berat. Tapi, ayah tak punya kuasa. Ia tetap harus pergi melaut.

***

Kini, usiaku sudah 5 tahun. Ayah sudah jarang melaut. Reklamasi dan pembangunan sejumlah pabrik di Cilegon dan Karangantu menyebabkan ikan-ikan berkurang jumlahnya. Untuk membantu ekonomi keluarga, ibu ikut membantu ayah mencari rupiah. Ibu berjualan Keripik Sukun di pulau seluas 300 hektare dengan jumlah penduduk sekira 1.115 jiwa.

Ya, Pulau Tunda menjadi salah satu tujuan destinasi wisata pulau-pulau terluar yang cukup banyak dikunjungi wisatawan karena keindahan terumbu karang dan lumba-lumbanya. Tapi sayang, kerusakan lingkungan mengancam pulau yang terletak di sebelah utara Teluk Banten akibat dari pengerukan pasir untuk reklamasi di utara Jakarta.

Ibu menjual satu bungkus keripik sukun seharga Rp 5.000. Dari berjualan keripik sukun ini, setiap hari, ibu bisa mendapatkan uang sekira Rp 30.000 – Rp 50.000. Itupun jika banyak wisatawan yang datang. Jika sedang sepi, ibu hanya bisa membawa pulang Rp 20.000 – Rp 25.000. Karena ibu tidak sendirian berjualan di Pulau Tunda.

Pulang dari sekolah, aku sering menyusul ibu ke tepian dermaga, tempat di mana ibu menjual keripik sukunnya. Tak jarang, aku membawa satu keranjang kecil berisi 5-10 bungkus keripik sukun untuk aku jual. Biasanya, aku membawa keripik sukun ke sisi timur dermaga. Di sana, biasanya para wisatawan menikmati keindahan Pulau Tunda.

***

Sekarang, ibu dan ayah sering sakit-sakitan. Kedua kakaku bersekolah di luar Pulau Tunda, dan menetap di sana. Dan aku masih berusia 5 tahun. Masih sangat kecil untuk bisa membantu.

Dony P. Herwanto, documentary maker, peminum kopi setia dan pembaca buku. Menulis untuk menjaga kewarasan dan ingatan.

(Visited 44 times, 1 visits today)
Please follow and like us:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here