Penikmat Alam dan Puisi Lord Byron

0
354
views
  • Artikel dan foto Rizza Hujan
Saat diminta untuk menulis untuk Seluang.id, saya masih belum tahu artikel seperti apa yang sesuai dengan gaya mereka. Dony, yang memberikan titah tersebut menyarankan mengangkat tema tentang pengalaman saat saya naik gunung. Ah semakin bingung, karena saya ini bukan pendaki apalagi pecinta alam yang harusnya paham esensi dari naik gunung. Muncak saja baru dua kali, sisanya hanya bermain-main di hutan di kaki gunung dekat tempat tinggal saya.

Saat diminta untuk menulis untuk Seluang.id, saya masih belum tahu artikel seperti apa yang sesuai dengan gaya mereka. Dony, yang memberikan titah tersebut menyarankan mengangkat tema tentang pengalaman saat saya naik gunung. Ah semakin bingung, karena saya ini bukan pendaki apalagi pecinta alam yang harusnya paham esensi dari naik gunung. Muncak saja baru dua kali, sisanya hanya bermain-main di hutan di kaki gunung dekat tempat tinggal saya.

Penikmat alam adalah sebutan yang lebih cocok untuk saya karena saya tahu mencintai itu berat. Tapi demi menjaga kewarasan, saya paksakan berimajinasi guna memenuhi permintaan beliau. Sambil berharap, mudah-mudahan setelah menulis ini, kewajiban saya mengisi konten Hujanmusik! kembali lancar.

Mungkin, alasan Dony meminta mencurahkan pengalaman naik gunung karena tidak sengaja melihat unggahan di media sosial pribadi saya. Memang saat ini saya sedang rajin mengunggah gambar yang berkaitan dengan alam, tepatnya Lomba Lintas Alam. Bukan apa-apa, unggahan tersebut merupakan bagian dari promosi kegiatan yang digarap oleh saya dan komunitas Sapala Adventure.

Pengalaman pertama saya bersentuhan dengan kegiatan alam bebas adalah ketika diajak kemping sekedarnya oleh saudara saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Tenda berbentuk seperti rumah dalam lukisan anak SD jaman dulu dipasang di tengah kebun rumput milik Balitvet. Letaknya sekitar 800 meter dari rumah orang tua saya. Waktu itu kemping bertiga, dua anak SD dan satu orang dewasa bernama Entus. Menjelang tengah malam, Entus meninggalkan saya dan Ruli, katanya ada yang ketinggalan di rumah.

Jujur, waktu itu saya ketakutan setengah mati, tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena mau pulang pun takut, begitu pula Ruli. Akhirnya kami berdua berbincang tak tentu arah sampai tertidur pulas. Dan ternyata, Entus tidak kembali ke tenda malam itu. Dia datang saat matahari mulai terbit. Seram dan pahit, tapi ternyata pengalaman tersebut memiliki pengaruh besar untuk saya pribadi. Seiring bertambahnya usia, rasa penasaran dan ketertarikan saya pada alam terus tumbuh.

Hingga di kampus tempat menimba ilmu, saya masih sering kemping atau "ngalintas" (menjelajah bukit dan hutan), malah sampai hari ini masih melakukan ritual tersebut, hanya saja intensitasnya berbeda.

Mungkin sudah ratusan kali area gunung Salak mulai dari Ciapus, Cihideung, Cigombong sampai Cicurug saya lintasi bersama kawan-kawan. Puncak Manik gunung Salak dan gunung Gede akhirnya bisa saya pijak, Sapala Adventure pun dibentuk berazaskan kesukaan "ngalintas" tersebut.

Dalam prakteknya, “Ngalintas" adalah menelusuri jalur dari satu titik ke titik yang lain. Waktu tempuhnya paling pendek 5 jam dan paling panjang sekitar 12 jam. Lebih seru lagi kalau menembus jalur yang belum pernah dilewati orang. Buat saya, "ngalintas" mempunyai makna luas dan dalam. Biasanya, saat "ngalintas" saya tidak memikirkan hal berbau duniawi selain rekan seperjalanan dan lingkungan sekitar. Karena menurut saya strategi paling baik untuk menikmati alam adalah dengan cara tersebut.

Banyak pengalaman menarik yang dialami selagi "ngalintas". Mulai dari tersesat, bertemu keluarga babi yang sedang jalan-jalan, bertemu terduga maling kambing, kebingungan saat dua orang menghilang dari rombongan, hingga memergoki orang pacaran. Tapi alhamdulillah saya belum pernah bertemu langsung dengan mahluk astral yang banyak menghiasi cerita orang.

Satu hal yang membuat saya heran, dalam perjalanan "ngalintas" jarang sekali bertemu dengan orang yang melakukan hal sama dengan saya dan kawan-kawan. Saat naik gunung, sudah lumrah jika bertemu sesama pendaki, tapi tidak saat "ngalintas". Sepi-sepi saja, paling keren bertemu dengan petani dan para pencari kayu bakar. Yah kalau sekarang sih banyak crosser di hutan. Berisik!.

Sejak pertama kali "ngalintas" tahun 2002 silam, perubahan yang paling terasa adalah soal karakter dan pola berpikir rekan-rekan yang semakin dewasa dan tentu saja lebih bergaya, juga berubahnya tempat-tempat yang biasa saya lalui. Hutan pinus yang dulu sejuk dan tenang sekarang ternodai oleh suara knalpot motor trail. Jalan setapak yang dulu rapi dan nyaman dilalui, kini terluka dalam akibat gesekan ban motor.

Kebun teh di daerah Cihideung yang biasanya dingin menyejukkan, sekarang panas dan menusuk mata. Teh berganti nanas, pohon rindang berganti pos keamanan, jalan tanah tertutup beton. Kenyamanan tergerus kemajuan jaman. Entah harus mengeluh pada siapa, tidak tahu mesti mengadu kemana. Kadang, membuat saya membenci manusia lalu ingin pergi ke Islandia.

Berat rasanya mengatakan alam yang saya kenal sudah rusak, tapi memang begitu kenyataannya. Sedih ketika harus menyalahkan manusianya, tapi siapa yang bisa melawan kekejaman jaman?.

Meski begitu, tidak dapat dipungkiri bahwa hidup saya tidak bisa jauh dari alam dan berbagai sajiannya. Bahkan, jika dibuat hitungan persentase, rasanya alam akan lebih unggul daripada manusia. Sesuai dengan sajak karya Lord Byron.

There is a pleasure in the pathless woods;

There is a rapture on the lonely shore;

There is society, where none intruders,

By the deep sea, and music in is roar :

I love not man the less, but Nature more...

Ya! Saya suka manusia, tapi lebih cinta alam...

Rizza Hujan, Gerimis Pemakan Tempe dan Jamur. Editor dan penulis aktif di hujanmusik.id.

(Visited 240 times, 1 visits today)
Please follow and like us:
error

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here