Merawat Hutan Adat, Menjaga Martabat

0
297
views
Damianus Nadu, Melkianus dan Petrus Kenedy, 3 tokoh Masyarakat Adat Kalbar sebelum berangkat ke Istana Negara. Foto : Deman Huri/INTAN

Damianus Nadu tak henti-hentinya menebar riang sejak tiba di Jakarta. Bayangan Istana Negara sekelebat memenuhi ruang pikirannya. Pada Kamis, 20 September 2018, ia menerima Surat Keputusan (SK) Penetapan Hutan Adat bersama tiga tokoh adat asal Kalimantan Barat lainnya. SK itu langsung diterimanya dari tangan Presiden RI, Joko Widodo.

Dari Kalimantan Barat, Damianus Nadu berangkat ke Jakarta bersama Melkianus dan Petrus Kenedy. Nadu berasal dari Kampung Melayang yang mendapat hak mengelola Hutan Adat Pikul - Pengajid. Melkianus adalah kepala Desa Tae yang merawat Hutan Adat Tae. Sementara Petrus Kenedy merupakan perwakilan masyarakat adat Ketemenggungan Sisang yang mengelola Hutan Adat Segumon.

“Saya bangga karena hutan adat kami diakui negara, ini bukti hutan adat kami selama ini mampu dikelola secara lestari. Kami berharap hutan adat bisa terus kami kelola untuk peningkatan kesejahteraan ekonomi kami secara berkelanjutan ke depannya,” ucap Melkianus, kepada wartawan Kabar24 di Pontianak.

Damianus Nadu, Melkianus dan Petrus Kenedy adalah 3 dari 16 Masyarakat Adat yang mendapatkan SK Penetapan Hutan Adat. Luasannya adalah 2,189.00 ha untuk Hutan Adat Tae di Kabupaten Sanggau, 651.00 ha untuk Hutan Adat Tembawang Tampun Juah di Kabupaten Sanggau, dan 100.00 ha untuk Hutan Adat Pikul di Kabupaten Bengkayang.

Total luas Hutan Adat yang di-SK-kan kurang lebih 6.033 Ha dan tersebar di 4 Provinsi. Yakni Provinsi Jambi (10 lokasi), Kalimantan Barat (3 lokasi), Sulawesi Selatan (2 lokasi) dan Provinsi Jawa Barat (1 lokasi).

Acara penyerahan SK Penetapan Hutan Adat merupakan puncak acara pembukaan Rembuk Nasional Reforma Agraria dan Perhutanan Sosial Untuk Keadilan Sosial, di Hotel Media, Jakarta, 19 - 21 September 2018 lalu.

Presiden Jokowi saat menyerahkan SK Hutan Adat. Foto : KLHK

***

Suara burung hutan terdengar saling bersautan. Pohon Tengkawang, Rengas, Bintanggor, Meranti, Kayu Belian dalam ukuran besar kokoh tegak bersama berbagai jenis angrek dan tanaman obat-obatan seperti pasak bumi dan lain-lain. Buah tengkawang berguguran dari pohon setinggi 40 meter dengan diameter 1 meter.

Pemandangan ini terjadi di dalam kawasan Hutan Adat Pikul - Pengajid, kawasan hutan yang ditetapkan sebagai hutan adat oleh pemerintah.

Sebelum ditetapkan sebagai hutan adat, kawasan ini adalah hutan adat tradisional yang dengan mudahnya diakses warga. Pepohonan biasa ditebang oleh warga.

Adalah Damianus Nadu yang menggagas kawasan ini menjadi hutan adat.

“Dulunya ini bukan kawasan hutan adat, kawasan hutan ini biasa ditebang oleh warga, cuma saya dipesan oleh Nenek dan Paman saya supaya di sini ada kawasan hutan adat, maka kami dengan dibantu beberapa orang kampung mempertahankan kawasan hutan ini dan menjadi kawasan hutan adat.

Banyak tantangan yang dihadapi Nadu ketika mempertahankan kawasan ini menjadi kawasan hutan adat. Banyak perusahaan  yang merayu dan memaksa mereka untuk meng-eksploitasi kayunya, atau dijadikan lahan perkebunan. Karenanya beberapa kali Nadu harus berhadapan dengan aparat Polisi, dan Tentara.

“Bahkan kami pernah mengangkat senjata, lantas menebak perusahaan sawit, masyarakat menembak alat berat perusahaan, hingga mereka meninggalkan lokasi kawasan hutan,” ujar Nadu saat menceritakan upayanya menolak perusahaan HPH untuk mengeksplotasi kawasan hutan Pikul - Pangajid.

“Ini titipan nenek moyang kami dan untuk diwariskan pada anak cucu kami,bukan untuk perusahaan,sampai titik darah terakhir kami harus mempertahankanya,” tegas Nadu.

Kawasah Hutan Adat Pikul - Pangajid terletak di Dusun Malayang, Desa Sahang, Kecamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang, Kalimatan Barat. Sekitar dua jam ditempuh dengan kendaraan roda empat dari Ibu Kota Provinsi Kalimantan Barat,  enam jam dari perbatasan Indonesia – Malaysia.

Luas kawasan hutan Pengajid sebenarnya dalam kisaran 200 hektar, namun yang dijadikan kawasan hutan adat hanyalah seluas 100 hektar, Bupati Bengkayang mendukung keberadaan hutan adat ini dengan memberikan SK Hutan Adat, yaitu SK 131 tahun 2002. Artinya sejak diberikan SK pada 17 September 2002 dam dikukuhkan pada 15 Oktober 2002, status hutan adat sudah dimiliki Nadu dan warga di Dusun Malayang.

Kawasan Hutan Adat Pikul - Pengajid terdapat kelompok Masyarakat Peduli Hutan Adat, kelompok masyarakat inilah yang melindungi kawasan ini. Pohon-pohon yang boleh diambil adalah pohon yang sudah roboh, itupun untuk kepentingan gereja, sekolah, ataupun untuk membangun rumah orang kampung. Intinya tidak boleh diperjualbelikan. Kelompok ini rutin melakukan patroli setiap minggu. Bagi pelanggar ketentuan yang tertangkap akan diberi sanksi adat.

Hutan Adat Pikul. Foto : Profil Hutan Adat 2018/KLHK

Keragaman Hutan Adat

Kawasan hutan adat Pikul - Pengajid kaya akan jenis tumbuhan langka, seperti pohon Tengkawang, Tengkawang Tungkul, Tengkawang Layar, Tengkawang Pangapeg dan Tengkawang Terindak. Tengkawang  tumbuh secara alami.

Selain tumbuhan tengkawang kawasan adat ini juga ditumbuhi tanaman lain seperti Meranti, Gambris, Gaharu, Pasak Bumi, Ulin, Medang, Beringin dan berbagai jenis tanaman obat dan rempah. Berbagai jenis hewan seperti burung, rusa, monyet dan lainnya masih mudah ditemui di sana.

Kekayaan bodiversity ini banyak mengundang peneliti berdatangan ke kawasan hutan adat Pangajid. Beberapa waktu lalu Rektor Universitas Tanjungpura, Dekan Fakultas Kehutanan, Pusat Penelitian Deterocarfa Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengunjungi kawasan hutan adat ini. Termasuk mahasiswa dan beberapa peneliti dari luar Negeri seperti Amerika, Prancis dan Jepang.

Diperkirakan setiap hektar tumbuhan tengkawang di wilayah hutan adat Panggajid berjumlah 25 – 40 Pohon. Rata-rata satu pohon menghasilkan 250 kg buah tengkawang.

Di keliling hutan adat ini ada enam air terjun yang air tejunya berasal dari kawasan hutan adat ini, Potensi yang sangat dimungkinkan untuk dikembangkan lebih lanjut.

Buah tengkawang dipanen tiap tahun, umumnya dibuat mentega dan minyak. Prosesnya dibuat secara tradisional oleh warga, sebagian buah dan menteganya dijual ke Malaysia.

SK Hutan Adat, Penegasan Hak Kelola

Setelah bertahun-tahun menunggu kepastian SK dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dengan dampingan INTAN (Institut Riset dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan), setelah diverifikasi oleh tim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), kawasan hutan adat Pangajid akan mendapat SK dari KLHK. SK bernomor SK.1300/MENLHK-PSKL-PKTHA/PSL.1/3/2018/28 Maret/2018 diberikan pada tanggal 20  September  2018 oleh Presiden Republik Indonesia di Istana Negara.

Menariknya penamaan hutan adat kawasan ini menjadi berbeda karena mengandung dua nama. Penamaan hutan adat dari  Hutan Adat Pangajid menjadi Hutan Adat Pikul atas dasar nama sungai yang ada di sekitar kawasan hutan adat yaitu sungai Pikul dan sungai Pangajid.

“Masyarakat terbiasa menyebut kawasan hutan itu Pangajid atau Pikul, dari SK Menteri KLHK memutuskan namanya Hutan Adat Pikul. Tidak masalah, masyarakatpun biasa menyebutnya hutan adat Pikul dan Pangajid,” ujar Nadu.

Menurut Damianus Nadu, dengan dikeluarkanya SK dari pemerintah, masyarakat tidak perlu khawatir kawasan hutan adat akan diambil alih perusahaan untuk pengggunaan lain. “Karena hutan adat Pikul (Pangajid) sudah mempunyai kekuatan hukum,” pungkas Nadu.

Bunga buah Tengkawang di kawasan Hutan Adat Pikul-Pengajid. Foto : INTAN

***

Damianus Nadu dan individu-individu lain yang mendedikasikan hidupnya untuk kelestarian hutan patut kita kenang sebagai pahlawan. Berkat perjuangan merekalah  kita masih bisa menyaksikan rimba tersisa, menikmati air bersih, mengkonsumsi buah-buahan dan memakan ikan tangkapan dari sungai.

Jika jalan-jalan di kota adalah etalase peradaban, maka kampung-kampung adalah realita sumber daya.

Ditulis dan diolah kembali dari artikel blog.samdhana.org dan Kabar24.bisnis.com

Anggitane, cyclist, citizen journalist dan pemulung sampah Ciliwung di Bogor. Menulis catatan musik untuk hujanmusik.id.

(Visited 96 times, 1 visits today)
Please follow and like us:
error

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here