Membaca Lekra dan Gerak Politiknya

0
404
views
DN Aidit saat memberikan pidato dihadapan simpatisan Partai Komunis Indonesia. Sumber: berdikarionline.com

Sampai pada tahun 1950, kata D.N. Aidit, boleh dibilang Partai Komunis Indonesia (PKI) tidak memberikan pimpinan kepada perkembangan sastra dan seni revolusioner.

Baru dalam tahun 1950, jadi sesudah revolusi menurun dan sudah banyak orang yang tadi ambil bagian dalam revolusi meninggalkan revolusi atau sedang siap-siap untuk meninggalkan revolusi, kaum komunis tampil memberikan pimpinan pada gerakan kebudayaan rakyat dengan mendirikan Lekra.

Aidit berpidato di hadapan “Konfernas Sastra dan Seni Revolusioner” (KKSR)  di Jakarta, 28 Agustus 1964.

“Di satu pihak ini menunjukkan kesadaran yang datangnya terlambat, tetapi di pihak lain ini adalah hasil pengendapan dan pelajaran selama revolusi Agustus 1945, dan merupakan tekad bulat untuk meneruskan revolusi dengan jalan yang lebih baik, yaitu dengan menyusun front kebudayaan di samping front-front lainnya yang juga mulai digalang atau digalang kembali pada waktu yang bersamaan. Lekra telah memainkan peranan yang penting dalam mencegah kemerosotan lebih lanjut dari gerakan revolusi di negeri kita,” ujar Aidit dalam pidatonya yang pada tahun 2007 dibukukan di bawah judul “Manifesto Kebudayaan Kaum Marxis” (Freedom Press, Yogykarta).

Konfernas tersebut diselenggarakan oleh Comite Central PKI. “Tentu ada apa-apanya! Mustahil CC PKI langsung mengurusi sastra dan seni! Tentu ada udang di balik batu!”kata Aidit.

Itu adalah konferensi sastra dan seni pertama yang diselenggarakan oleh CC PKI sejak didirikan. “…dan sejak PKI dengan sadar memimpin gerakan kebudayaan Rakyat 14 tahun yang lalu, yaitu sejak berdirinya Lekra pada tanggal 17 Agustus 1950,” ujar Aidit.

Menurut Aidit, inisiatif PKI mendirikan Lekra ternyata sangat tepat. “Kita tidak dapat membayangkan betapa isi dan rupa sastra dan seni Indonesia sekarang seandainya tidak ada Lekra,” ujarnya.

Saat itu dalam pidatonya, Aidit menyebutkan Lekra beranggota 500 ribu orang, mereka bukan anggota liar, yang tergabung dalam organisasi massa kebudayaan masing-masing atau terorganisasi dalam Lembaga-Lembaga Sastra dan Seni dari Lekra.

DN Aidit difoto Presiden Sukarno. Sumber: narakata.com

Dan itu, bagi Aidit adalah “…satu perkembangan yang seirama benar dengan derap kemajuan partai kita. Satu prestasi yang membesarkan hati kita, yang membikin iri hati sekutu-sekutu dan membikin risau serta jengkel musuh-musuh kita.”

Konfernas diselenggarakan dalam situasi kejiwaan kaum komunis sedang di atas angin. Aidit memulai pidatonya dengan beberapa fakta yang mengukuhkan betapa suara PKI selalu didengar dan dituruti oleh Presiden Sukarno.

“Sekali PKI menetapkan imperialisme Amerika sebagai musuh besar rakyat Indonesia yang nomor satu dan paling berbahaya, maka satu setengah tahun kemudian seluruh bangsa mengutuk Amerika Serikat,” kata Aidit.

Istilah-istilah yang dilontarkan PKI ke tengah masyaraktat selalu menjadi populer. Kapitalis, tuan tanah birokrat, salah urus, salah duduk, setan desa, setan dunia, “semuanya cepat diterima masyarakat,” kata Aidit.

“Ketika Manikebu muncul, kaum komunis seketika itu juga melawannya dan tidak lama kemudian Manikebu dilarang oleh Presiden Sukarno atas nama Pemerintah, dan tuntutan Rakyat supaya kaum Manikebuis di-retool makin santer dan luas,” ujar Aidit.

Yang menarik pada diri Aidit, sebagaimana tampak dalam pidatonya itu, adalah pengetahuannya yang luas tentang seni, khususnya sastra. Sulit membayangkan pengetahuan seluas itu ada pada pemimpin partai-partai di Indonesia saat ini.  Meskipun demikian ia tetap merendah.

“Kami yang sekarang memegang pucuk pimpinan Partai kita, tidak mempunya pretensi bahwa kami tahu segala. Kalau kami sekarang mempunya pengetahuan dan pengabdian serba sedikit tentang sastra dan seni yang diperlukan, maka hal ini juga berkat bantuan kawan-kawan selama ini,” kata Aidit.

Lekra, dengan demikian, dari pidato itu jelas lahir dari rahim PKI, didirikan oleh tokoh-tokoh PKI dan digunakan untuk kepentingan PKI.

Lantas, bagaimana bisa memisahkan Lekra dari PKI?

[Penulis adalah mantan wartawan. Kini bermukim di Jakarta. Giat menulis puisi dan sedang mendalami penulisan naskah film. Tukang gambar yang rajin berkeliling Jakarta]

Artikel "Membaca Lekra dan Gerak Politiknya" merupakan konten kolaborasi dengan narakata.com, konten serupa bisa dilihat di sini

(Visited 130 times, 1 visits today)
Please follow and like us:
error

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here