Menjaga Percik Api Kanaga

0
643
views
Warga memprotes akan adanya operasi penggalian sampai 24 jam. sumber; Dok Pribadi Erwin Irawan
Artikel Dony P. Herwanto

“Saya bukan aktivis. Saya hanyalah anak seorang petani yang tak ingin Gunung Kanaga dikorbankan demi pembangunan,” kata Erwin Irawan.

Dia mengambil sebatang rokok yang tergeletak di atas meja. Menyalakan rokok sisa diskusi semalam tentang proyek pembangunan Waduk Cibeet, proyek yang direncanakan sebagai solusi pengendali banjir di perbatasan Karawang-Bekasi. “Mengapa harus kami,” lanjut Erwin dengan ekspresi kesal.

Erwin adalah satu dari tiga pemuda Desa Antajaya, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat yang berkomitmen, bahkan sudah mewakafkan nyawanya menjaga Gunung Kanaga. Sisa-sisa perlawanan masih terlihat pada diri Erwin ketika mengisahkan peristiwa besar, tiga tahun silam itu.

***

Mobil yang saya tumpangi melaju kencang di jalan bebas hambatan Jakarta – Cibubur. Di kanan kiri jalan, terlihat proyek Light Rail Transit (LRT) yang menghubungkan Cibubur dengan Cawang sepanjang 14,5 kilometer. Sebuah proyek yang mampu menjadi alternatif transportasi pekerja dari Cibubur ke Jakarta atau sebaliknya.

Mobil masih melaju dengan kencang. Saya mencoba menghubungi Erwin Irawan melalui pesan singkat. Lebih dari satu jam, belum juga ada balasan. Saya khawatir. Khawatir jika Erwin lupa memenuhi janjinya menemui saya di Desa Antajaya.

Kekhawatiran saya pupus. Pesan singkat Erwin mengabarkan lokasi pertemuan kami. Kali ini, mobil tidak bisa melaju dengan kencang. Kendaraan-kendaraan besar melintas dengan tenang di jalan Cibubur – Jonggol. Mobil proyek. Truck pengangkut batu dan tanah dari sebuah bukit yang dihancurkan atas nama pembangunan jalan bebas hambatan di Cikampek. Debu beterbangan di mana-mana. Pengendara motor yang tidak sempat memakai penutup wajah terpaksa menggunakan salah satu tangan untuk menahan debu-debu itu masuk ke hidung. Sayang, banyak anak-anak kecil menjadi tameng angin orangtuanya.

Di sepanjang jalan utama Kecamatan Cariu, spanduk-spanduk penolakan proyek Waduk Cibeet menandai proses panjang dan berbelit terhadap proyek strategis nasional itu. Tak lama, Erwin mengirim pesan singkat, menanyakan posisi saya sudah sampai di mana.

Saya katakan, sedang menikmati pemandangan perlawanan warga Cariu terhadap proyek yang akan dimulai pada 2019. Erwin hanya mengirim tanda senyum. “Kami akan terus melawan,” lanjut Erwin.

sejumlah aparat keamanan berjaga saat demonstrasi warga Antaranya. Sumber: Anonim
***

Silam, medio 2015, Muhamad Miki, warga penolak tambang di Desa Antajaya, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat ditangkap aparat keamanan dengan tuduhan pencurian dan kekerasan. Dia digiring tanpa surat penangkapan. Dengan todongan pistol, Miki digelandang ke Polres Bogor dan dijadikan tersangka. Ini buntut dari perlawanan yang dilakukannya. Resiko perlawanan yang tentu saja dia ketahui sebelumnya.

Penangkapan Miki, buntut dari upaya penggagalan proyek tambang di Gunung Kandaga yang dilakukan Primkopkar bersama PT Gunung Salak Rekanusa (GSR). “Ini upaya kriminalisasi. Faktanya, Miki bersama warga justru mengamankan kabel yang diduga akan digunakan untuk meledakkan Gunung Kandaga, tempat lokasi tambang,” kata Prasetyo Utomo, Pembela di LBH Keadilan Bogor.

Penolakan warga, didasarkan keyakinan, bahwa Gunung Kandaga merupakan sumber kehidupan warga Antajaya, terutama sumber air, kayu hutan dan hasil kebun. “Ada tujuh gunung yang akan dihacurkan. Yang pertama, Gunung Kandaga. Ketujuh gunung ini berada di Kabupaten Bogor, persis di kaki Gunung Sangga Buana, salah satu gunung terbesar dan masuk gunung purbakala,” kata Erwin.

Menurut Prasetyo, upaya penangkapan dan penahanan Miki merupakan bentuk pembungkaman perlawanan warga. Intimidasi melalui cara-cara kriminalisasi. “Nyatanya, warga terus melawan meski Miki ditangkap,” ungkap Prasetyo.

Mukri Friatna, Manager Penanganan Bencana Walhi Nasional dalam keterangan pers mengatakan, rekomendasi Bupati Bogor atas UKL-UPL pertambangan galian C (andesit) blok Gunung Kandaga oleh Primkopkar Perhutani, cacat hukum. “Selain tak memiliki izin lingkungan, pertambangan usaha ini berdampak penting yang wajib dilengkapi Amdal. Sebab, ia mengubah bentuk bentang alam dan mengeksploitasi sumber daya alam,” kata Mukri

Bentuk ancaman tak hanya penangkapan. Teror dan upaya pelemahan kerap dilakukan pihak Primkopkar dan PT GSR. “Ada yang menggunakan ilmu hitam. Saya jadi korbannya. Untuk kami punya banyak kyai. Jadi Ilmu Hitam itu bisa dilawan,” kata Erwin.

Perlawanan dalam bentuk demonstrasi sudah dilakukan puluhan kali. Dan puluhan kali pula, intimidasi diperoleh warga. Salah satunya Ojak. Lelaki paruh baya yang hanya menggantungkan hidup di Gunung Kandaga dengan menanam Durian serta pisang ini pernah ditodong pistol dan senjata tajam. “Saya rela mati demi mempertahankan gunung ini,” kata Ojak. Dan masih banyak lagi.

Bahkan rayuan uang ratusan juta pernah dialami Erwin. Sayang, Erwin lebih cinta Gunung Kandaga daripada uang yang tak seberapa. “Perlawanan ini untuk menjaga warisan untuk anak cucu Desa Antajaya,” jelas Erwin.

Pada akhirnya, perlawanan warga Antajaya berbuah manis. Gugatan terhadap Surat Keputusan Bupati Bogor nomor 541.3/051/Kpts/ESDM/2011 tentang Penyesuaian Surat Izin Usaha Pertambangan Daerah (SIPD) Eksploitasi menjadi Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produksi atas nama Koperasi Primer Karyawan Perum Perhutani tertanggal 21 Januari 2011 berhasil dimenangkan. Kemenangan yang sudah ditunggu ribuan warga Desa Antajaya.

Diskusi setiap hari di rumah perlawanan menjadi hal rutin yang kami kerjakan. Sumber: Erwin Irawan
***

Rumah perlawanan ini tidak cukup besar. Hanya ada satu unit laptop, rak buku, poster-poster perlawanan dan kedai kopi. Lebih tepatnya, tempat membuat kopi asli Antajaya. Di tempat itulah, saya dan Erwin berbincang banyak hal selama kurang lebih 3 jam.

Dia mempersilahkan saya menikmati secangkir kopi Robusta bikinannya. Kemudian, dia menyalakan setengah rokoknya. Dalam hati saya bertanya, apakah perlawanan harus ditemani secangkir kopi dan sebatang rokok?

Jawabannya bisa iya, bisa tidak. Tapi Erwin meyakini jawaban pertama. Melawan dan merokok.

Selepas setengah batang rokok, Erwin menunjukkan foto-foto di mana warga memberikan perlawanan yang sengit kepada pemerintah lewat pengusaha. Foto mobilisasi warga sampai persidangan, masih disimpan rapih di sekretariat perlawanan. “Biar kelak kami bisa bercerita kepada anak cucu bahwa orangtua dan kakek neneknya menjadi penyelamat lingkungan khususnya Gunung Kandaga.

Tak beberapa lama, Erwin mengajak saya menuju lokasi bekas tambang yang kalah dipersidangan dengan melawan sepenuhnya dan benar. Kami ditemani Ojak. Kami bertida masuk ke lokasi seperti bedah rumah.

Memang, alat berat sudah tidak ada. Tapi papan nama dan sejumlah bangunan tetap dibiarkan berdiri. Saya terus diajak masuk ke tempat di mana Primkopkar kali pertama menggali tanah Gunung Kanaga. Menggambil material batu andesit untuk kemudian dianggkut menggunakan truck-truck raksasa.

Primkopkar meninggalkan jejak yang kurang baik. Banyak tanah yang retak dan longsor. Jelas ini mengancam warga yang memiliki bangunan tepat di bawah proyek itu. Entah ada permufakatan jahat apa yang tengah disiapkan Primkopkar, sehingga ada beberapa bangunan menyerupai rumah tidak dibongkar. Sementara itu, warga tidak ingin main hakim sendiri untuk membongkar bangunan.

Rokok dimatikan. Kami duduk di bawah pohon cerry. Angin sore bertiup tipis. Dari jauh, sudah terlihat hujan turun dengan deras. Sangat deras. Sementara di kaki Gunung Kanaga panasnya sampai ke ubun-ubun. Erwin menatap tajam Gunung Kanaga. Lalu menarik nafas panjang dan dalam. “Kami masih belum aman. Kami akan terus melawan. Kali ini lawannya berat. Proyek Strategis Nasional,” ungkap Erwin.

Saat melakukan demonstrasi, warga terus mendapatkan ancaman dari pihak kemaan. Sumber: Erwin Irawan
***

Ada satu megaproyek yang sedang mengancam warga di bawah Gunung Kandaga. Upaya penolakan demi penolakan sudah dilakukan. Dari mulai pemasangan spanduk sampai ke tahap pengusiran pegawai yang kebetulan sedang menggelar sosialisasi.

Seperti yang ditulis detik.com Pemerintah Provinsi dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, tengah menyiapkan proyek pembangunan Waduk Cibeet yang bisa mengatasi banjir di Karawang, khususnya Teluk Jambe. Dari data yang ada volume banjir yang kerap menggenangi wilayah tersebut mencapai 1.200 meter kubik. “Yang 800 meter kubiknya bisa diserap di Waduk Cibeet,” kata Iwa Karniwa, Sekda Jawa Barat.

Selain pengendali banjir, lanjut Iwa, Waduk Cibeet berfungsi menjadi sumber air baku PDAM dan industri. Air Waduk Cibeet dapat mengairi lahan persawahan seluas 1.900 hektare. "Cibeet bisa mengairi lahan 1.900 hektare sawah dan menyediakan air baku 5 meter kubik per detik atau kapasitas waduk itu 60 juta meter kubik," ujarnya.

Yudha Mediawan, Kepala BBWS Citarum mengatakan, saat ini pihaknya tengah merampungkan proses Land Acquisition Resettlement Action Plann (LARAP) yang akan menjadi dasar pembebasan lahan.

"Dari studi awal ini genangannya bisa 60 juta meter kubik. Dengan kapasitas seperti itu bisa airi irigasi baru di area situ 1.900 hektare. Lima meter kubik untuk air baku PDAM dan industri,” jelas Yudha.

Sementara itu, sumber dari kabar1.com menyebutkan, warga di 7 Desa, Kecamatan Cariu bersikeras menolak proyek pembangunan waduk Cibeet. Mereka pun mendesak Presiden Joko Widodo agar membatalkan pembangunan waduk yang diperuntukan sebagai pengendali banjir di Kawasan Industri Bekasi dan Karawang.

Selain dianggap, akan menenggelamkan 10 Desa, pembangunan waduk tersebut juga bakal menghilangkan lahan pertanian dan perkebunan yang selama ini menjadi mata pencaharian bagi masyarakat.

“Ada Sekitar tujuh Desa di kecamatan Cariu yang terkena dampak langsung proyek waduk cibeet. yang paling terkena secara langsung Masyarakat Desa Bantarkuning dan Desa Cibatutiga. Alasan warga menolak karena sudah merasa nyaman dengan lingkungan. Apapun alasan dari pemerintahan pusat warga tetap akan menolaknya,” tegas Joni warga Desa Bantar Kuning.

***

Erwin Irawan membuka dokumen-dokumen terkait proyek Waduk Cibeet. Ada tanda biru di atas rumah perlawanan. Rumah perlawanan akan tenggelam. Tapi sebelum itu semua tenggelam, warga dari sejumlah desa yang terkena dampak berkumpul dan membahas strategi perlawanan. Karena sejarah membuktikan bahwa warga Desa Antajaya punya pengalaman menang melawan pemerintah. “Jangan nyalakan lagi perlawanan kami,” tegas Erwin.

“Mau itu proyek daerah, provinsi atau proyek nasional sekalipun, kami tak gentar melawan. Ini demi menjaga tanah kami untuk anak cucu,” jelasnya.

***

Jika Gunung Kanaga dibongkar dan diambil batunya, akan ada banyak orang kehilangan aktivitasya. Meski tanah gunung bukan menjadi hak milik warga, tapi banyak petani menggarap di gunung, itu tak lebih karena melanjutkan usaha.

Hingga saya pamit meninggalkan Desa Antajaya, saya berkeyakinan bahwa ribuan warga belum bisa tidur nyenyak.

[Tulisan ini diolah dari berbagai sumber, seperti detik.com , kompas.com, liputan6 Mongabay.co.id enviromentaldefender.auriga.or.id]

Dony P. Herwanto, documentary maker, peminum kopi yang setia dan pembaca buku. Menulis untuk menjaga kewarasan dan ingatan.

(Visited 271 times, 1 visits today)
Please follow and like us:
error

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here