Dunia Milik Kita

0
274
views
Utji K. Fauzia, penyintas 65 yang tergabung dalam Paduan Suara Dialita.. Foto : Abul Ala Maududi / DAAI TV INDONESIA

Saat itu, usiaku baru 13 tahun. Baru duduk di bangku kelas 2 SMP di Cilacap, Jawa Tengah. Bapakku Bupati Cilacap kesembilan yang diusung Partai Komunis Indonesia (PKI), partai yang pada akhirnya diberangus sampai ke akar-akarnya. Apakah bapakku PKI? Iseng, aku pernah mengajukan pertanyaan kepada bapak tentang partainya apa. Dia menjawab: “Bapak itu bupati, jadi tidak boleh berpartai,” jawab bapak sambil mengusap rambutku.

Aku lantas tersenyum sambil melihat mata bapak yang kemudian memelukku erat, erat dan dalam. Debar jantungnya kurasakan begitu tenang. Dan aku tenang dipelukan bapakku.

***

Setiap 1 November, paska 1965, ingatan tentang peristiwa di mana kedua orangtuaku dijemput Corps Polisi Militer (CPM) terus menerus datang. Masuk ke dalam relung ingatan paling dalam. Dan aku tak mungkin dengan mudah melupakan peristiwa itu. Aku mengalami hal-hal buruk pada tanggal itu, 53 tahun yang lalu. Peristiwa yang terjadi di Jakarta, ternyata merembet sampai ke Cilacap. Dengan mata kepala sendiri, saya melihat banyak rumah-rumah di kota dibakar, dirusak dan semunya itu yang terkait dengan keluarga atau orang-orang PKI, orang-orang 65 itu.

Puncaknya, saat rumah dinas kami yang hanya dijaga dua orang hansip dikepung massa yang berpakaian hitam-hitam. Itu terjadi pertengahan Oktober 1965. Aku melihat ada yang menggunakan baret merah juga mengepung kediaman kami. Aku masih ingat dengan persis apa yang dikatakan bapak waktu itu: “Berkemaslah kamu, bawa secukupnya baju, juga buku-buku pelajaran, kemudian bersiap-siap, karena kita akan dijemput oleh polisi, kita akan dipindahkan ke tempat yang aman,” begitu kata bapakku, D .A Santoso, Bupati Cilacap yang memimpin daerah dengan moto Jala Bumi Wijaya Kusuma Cakti itu.

Siang itu, kami semua di rumah, tidak ada yang sekolah. Setelah semua berkumpul di pendopo, hansip yang sudah kami kenal, Pak Hardiman datang dengan luka di pelipis. Tidak parah. Bapak berkata: “Sabar, kita tidak usah melawan,”.

Saat jumlah massa yang mengepung rumah kami semakin banyak, datang tiga mobil polisi ke halaman rumah dinas. Kemudian, 3 mobil itu membawaku, membawa bapak, ibu, mbah dan kakak adikku keluar dari rumah dinas bupati.

Bapak dan Ibu di mobil yang berbeda dengan kami, 3 anak perempuannya. Satu adekku, Krisna bersama Bapak dan Ibu. Satu mobil lagi membawa mbah dan 2 saudaraku. Kami menuju lokasi yang berbeda ternyata. Bapak, Ibu dan Krisna dibawa ke Kantor Karesidenan. Sementara, mobil yang membawaku dan dua saudaraku dibawa ke rumah Si Mbah yang ternyata sudah dirusak sama warga. Beruntung, Si Mbah sudah diungsikan terlebih dahulu ke rumah salah satu kerabat.

Tepat 1 November 1965, Bapak dan Ibuku dijemput CPM, katanya, bapak dipanggil Gubernur di Semarang. Sebagai Bupati, Bapak tidak bisa menolak. Tetapi sesuatu hal yang tidak disadari oleh siapapun, adikku yang baru berumur 10 tahun itu sendiri, dan dia melihat ibu bapaknya dipanggil gubernur, tapi kok yang manggil CPM. Dia sendiri di situ. Itu adalah sebuah ketakutan, dan ketakutan itulah yang menyebabkan adikku tidak bisa bicara, artinya kalau ditanya seberapa takutnya dia tidak bisa merasakan, jadi hanya dia sendiri yang bisa merasakan ketakutan itu. ketakutan, kekhawatiran.

Apalagi saat dia pulang. Aku melihat ketakutan di matanya. Di mata adik bungsuku. Adik perempuan yang dengan polosnya melihat orangtua kami dibawa CPM ke Semarang. Tidak hanya adikku, kami bertiga pun merasakan hal yang sama, karena kami bukan hanya melihat, kami juga merasakan masa kelam itu.

Merasakan dikepung massa, dan dihujat,

Utji K. Fauzia, beserta sejumlah kawan-kawan di suatu tempat. Dok. Pribadi
***

Begini caraku mengenang masa kecil, masa di mana semua masih terasa indah. Di rumah Dinas Bupati Cilacap, bapak membangun satu ruang khusus untuk membaca, bernyanyi dan berkumpul. Bapak paling suka bermain piano dan biola. Sementara kami, anak-anaknya, bernyanyi sekeras-kerasnya, sekencang-kencangnya.

Sebagai Bupati Cilacap, bapak sering membelikan kami buku bacaan. Baginya, membaca adalah cara mengetahui luasnya dunia, beragamnya suku bangsa, beragamnya agama dan kepercayaan. Sebagai anak kedua dengan dua adik, aku paling dominan dan menjadi pemenang saat terjadi rebutan untuk membaca buku. Bapak atau ibu kerap melerai jika sudah terjadi keributan seperti itu. Entah mengapa, kami selalu berebutan untuk satu buku yang sama.

Setiap minggu, sebelum sibuk dengan urusan pemerintahan, bapak selalu mengajak kami ke gereja terdekat dari rumah dinas. Terkadang, bapak atau ibu bergantian menunggu kami selesai kegiatan sekolah minggu. Sehabis itu, ibu mengajak kami ke pasar untuk belanja sayuran. Ibu kerap mengajari kami memasak. Meski kami masih kecil, memahami kodrat sebagai perempuan, ibu ajarkan sejak dini.

Tapi semua berubah paska peristiwa September 1965. Semua serba mencekam.

***

Ibuku baru kembali ke rumah mbah setelah 7 tahun kemudian. Saat melihat Ibu, aku langsung berlari memeluknya. Memeluk tubuh ibu yang lebih selama 7 tahun tidak aku rasakan. Selama 7 tahun itu, kata ibu, dia berada di LP Bulu, Semarang. Di sana, ibu bersama ratusan tahanan yang bernasib serupa. Berada di masa Operasi Pembersihan PKI di Jawa Tengah. “Ibu tidak tahu alasannya kenapa ditangkap. Tanpa ada proses hukum sebelumnya,”.

Kalau bapak, dia berpindah-pindah. Pertama kali tentu di Pomdam. Tujuh tahun kemudian, bapak dipindahkan ke penjara Mlaten. Penjara yang pernah mengurung aktivitas revolusioner Marco Kartodikromo, wartawan kelahiran Blora, Jawa Tengah itu.

Dari Mlaten, bapak dibawa ke Ambarawa, lalu ke Yogyakarta dan kembali lagi ke Semarang. Terakhir, bapak dipenjaran di Cilacap. Di Cilacap, bapak kemudian diadili, dan oleh Pengadilan Negeri Cilacap, bapak divonis 20 tahun penjara. Nusakambangan menjadi tempat bagi bapak untuk menjalani hukuman itu.

Bapak baru pulang 15 tahun kemudian.

Utji K. Fauzia, dan keluarga besar, termasuk D.A Santoso, ayah yang juga Bupati Cilacap ke-9. Foto: Dok. Istimewa
***

Di beranda media sosialku Uchicowati Fauzia, di tanggal yang sama, 53 tahun yang lalu, aku menulis surat untuk kedua orangtuaku yang kini tenang di surga:

1 November 1965, bapak ibuku dijemput CPM. Katanya dipanggil Gubernur. Sebagai Bupati, bapak tidak menolak. Lalu berangkatlah bapak dan ibu dengan mobil CPM ke Semarang. Adikku yang ragil sendiri penuh rasa takut.

Untung masih ada orang baik yang mengantar adikku ke rumah mbah, bertemu dengan kami kakak-kakaknya yang sudah lebih dulu mengungsi ke rumah mbah. Seandainya adikku tidak diantar kepada kami. Tak berani aku bayangkan.

Katanya dipanggil Gubernur, Ibuku baru kembali ke rumah mbah tujuh tahun kemudian. Tanpa penjelasan apalagi proses hukum. Selama tujuh tahun ibu ada di LP Bulu Semarang. Bapak baru pulang lima belas tahun kemuadian.

Hari ini, 1 November 2018. Tepat 53 tahun yang lalu. Aku menulis surat ini untuk bapak dan ibu di rumah Bapa di surga. Di sana tidak ada lagi tangis dan lapar. Tidak ada teror dan intimidasi.

Bapak dan ibu, kami anak-anakmu dan kawan yang mempunyai sejarah yang sama denganku masih harus menyandang stigma, label yang diberikan oleh mereka yang tidak suka. Kami harus melawan, melawan rasa takut. Karena DUNIA MILIK KITA bukan hanya miliknya. Berdamai dengan masa lalu, berdamai rasa sakit agar bisa melihat hari depan dengan jernih.

Aku bangga menjadi putrimu, karena bapak dan ibu sudah mengajarkan rasa cinta pada tanah air, cinta pada orang tua, cinta sesama manusia dan cinta rakyat pekerja.

Dengan cinta, aku menulis ini untukmu bapak dan ibu.

Utji K. Fauzia, beserta kawan-kawan saat berziarah. Dok. Pribadi
***

“Saya berharap tentu ada sebuah perubahan, perubahan cara pandang, cara berpikir masyarakat terhadap korban peristiwa 65 dan keluarganya sehingga stigma dan diskriminasi lagi itu tidak terjadi lagi,” kata Utji K. Fauzia, penyintas 65 yang tergabung dalam Paduan Suara Dialita.

[Tulisan ini diolah dari status Facebook Uchicowati Fauzia pada 1 November 2018 dan wawancara langsung penulis]

Dony P. Herwanto, documentary maker, peminum kopi yang setia dan pembaca buku. Menulis untuk menjaga kewarasan dan ingatan.

(Visited 114 times, 1 visits today)
Please follow and like us:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here