Laut Adalah Tempat Hidup, Lahan Mencari Nafkah

0
493
views
Anak-anak Suku Bajo mendayung perahu di tengah laut. Sumber: Mongabay Indonesia
  • Artikel
  • Suara ketinting memecah keheningan. Moncong perahu dipenuhi penumpang melaju kencang membelah laut nan tenang. Waktu baru menunjuk pukul 10.00 pagi, meskipun begitu terik mentari sudah membakar kulit.

    Tak jauh di depannya nampak pulau cantik nan indah. Pulau Bokori, namanya. Berkeliling laut, kurang lebih dua mil dari garis pantai, Desa Tapulaga, Konawe, berada. Pulau ini dihuni Suku Bajo, kampung nelayan dengan bangunan rumah dari kayu, berjejer rapi.

    Peringatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober lalu, kaum muda Desa Tapulaga, juga merayakan. Sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan, puluhan pemuda pemudi desa ini aksi sosial dengan melepas dua penyu hijau.Selain itu, dipimpin langsung kepala desa, juga tanam mangrove 200 pohon di sekitar pantai.

    “Ini sudah memasuki tahun ke lima setiap Hari Sumpah Pemuda,” kata Marhaban, Kepala Desa Tapulaga.

    Dia sengaja melibatkan pemuda agar generasi muda lebih peduli lingkungan sekitar dan mereka tetap menjaga ekosistem laut, antara lain memperhatikan rehabilitasi mangrove.

    Baca juga: Pembangunan Rendah Karbon untuk Mengerem Perubahan Iklim

    Pemuda dan pemudi Bajo melepas penyu sisik ke laut di Pulau Bokori. Foto: Kamarudin/ Mongabay Indonesia
    ***

    Kepercayaan dan budaya Suku Bajo menggambarkan, laut dan sumber daya sangat dekat dengan mereka. Sejak dulu, Bajo terkenal sebagai pengembara lautan karena hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain.

    Di mata Suku Bajo, laut adalah segalanya. Laut adalah tempat hidup, lahan mencari nafkah, tempat tinggal, serta beranak-pinak. Karena itu, kalau ada penangkapan penyu di Sulawesi Tenggara, langsung menuding orang Bajo. Kala ada orang mengkonsumsi penyu, menyebut daging hewan didapat dari Bajo.

    Informasi BKSDA menyebutkan, perilaku menangkap dan mengkomsumsi penyu selalu ditemukan pada lingkaran masyarakat Bajo. Marhaban tak menampik ini. Terkadang ritual adat Bajo, menggunakan penyu.

    “Tapi soal adat tak setiap hari dilaksanakan. Dalam setiap kegiatan adat juga, penyu bukanlah hal yang wajib diadakan. Soal pelaku penangkap penyu dan menjual di luar ini ulah oknum. Bukan masyarakat Bajo,” katanya.

    Baca juga: Reforma Agraria untuk Keadilan Sosial

    Dengan melepas penyu ke laut pada perayaan Sumpah Pemuda itu, kata Marhaban, sebagai tanda dari orang Bajo ikut menjaga kelestarian ekosistem laut dan melindungi satwa seperti penyu.

    Menurut Marhaban, masyarakat Bajo memiliki satu filosofi, “papu manak ita lino bake isi-isina, kitanaja manusia, mamikira bhatingga kolekna mangelolana.” Filosofi itu bermakna, Tuhan telah memberikan dunia ini dengan segala isinya.

    Manusia memikirkan bagaimana cara memperoleh dan mempergunakan, katanya, hingga laut beserta hasil jadi tempat meniti kehidupan, mempertahankan diri sambil terus mewariskan budaya leluhur Suku Bajo.

    “Jadi merawat dan melindungi laut merupakan keharusan buat kami,” katanya.

    Baca juga: "Jangan Terlambat Berbuat untuk Laut Kita" Kata Jokowi

    Penyu diberi makan ikan kecil oleh pemuda Bajo, sesaat sebelum dilepas. Foto: Kamarudin/ Mongabay Indonesia
    Lain Dulu, Lain Sekarang

    Tangan Herman, pemuda asal Desa Tapulaga ini menggengam erat batang mangrove. Dia jaga sekuat tenaga agar tak rusak sebelum ditanam. Dia berharap, mangrove jadi tanaman penjaga mereka.

    Dia begitu bersemangat menggali lubang di pesisir Pantai Tapulaga, dalam sekitar 30 cm. Herman taruh mangrove kemudian ditutup kembali, dan tersenyum melihat kamera. Dia senang bisa ikut menanam pohon di hari besar itu.

    Siapa Herman? Herman, dulu penangkap penyu. Kini dia sudah berubah. Dia bilang, sudah meninggalkan perilaku itu apalagi bisa dibui. “Takut sama polisi, takut juga sama keluarga,” katanya, seraya bilang laut juga harus terjaga karena tempat hidup mereka.

    Dulu, setiap hari dia bisa tangkap tujuh sampai 10 penyu berbagai jenis. Satwa laut dlindungi ini didapat dari perbatasan laut Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah.

    Penyu itu kemudian dia simpan di penampungan lalu dijual.

    “Ada bos kita dulu. Kita hanya menangkap saja, nanti kalau laku baru dapat uangnya. Banyak juga ta Rp500.000 kita dapat,” katanya dengan logat Bajo.

    Kini dia sadar harus menjaga kelestarian laut. Bahkan dia siap berada paling depan menghalau perburuan penyu.

    [penulis adalah kontributor Mongabay Indonesia di Kendari]

    Artikel "Laut Adalah Tempat Hidup, Lahan Mencari Nafkah" merupakan konten kolaborasi dengan Mongabay Indonesia. Konten serupa bisa dilihat di sini

    (Visited 121 times, 1 visits today)
    Please follow and like us:
    error

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here