Kota Ketika Lampu Berwarna Merah

0
231
views
Novel Ketika lampu Berwarna Merah

Saya sengaja menambahkan kata kota di depan judul novel pertama yang dibuat oleh Hamsad Rangkuti puluhan tahun lalu itu karena persis aspek itulah yang ingin saya bahas dalam tulisan ini. Ketika Lampu Berwarna Merah menjadikan kota sebagai latar sekaligus ‘wajah’ dari persoalan yang ingin diangkat oleh Hamsad. Novel ini selesai dikerjakan Hamsad pada tahun 1980 dan ceritanya berkisah seputar kehidupan kaum miskin kota atau ‘kere’ di Jakarta. Berdasarkan cerita Pamusuk Eneste inspirasi novel ini memang hadir dari observasi langsung Hamsad di gubuk-gubuk kere di Kali Malang dan gubuk-gubuk pelacuran di Planet Senen. Fiksi realisme Hamsad memang sering hadir dari permenungan dan imajinasi dirinya akan kejadian sehari-hari yang seringkali sederhana.

Kota, yang dalam hal ini Jakarta hadir di novel Ketika Lampu Berwarna Merah dengan segala kontradiksi internalnya, itu tergambar sejak dari bab pertama cerita bergulir:

“Lalu apa pula yang terjadi di perempatan itu ketika lampu berwarna merah? Penodong terkadang memanfaatkan warna merah itu. Mereka menyodorkan golok-golok mereka untuk merampas benda berharga para pengendara mobil. Anak-anak penjual koran memanfaatkan warna merah itu. Pengemis menyodorkan tangan-tangan mereka ke dalam jendela mobil yang terbuka waktu lampu itu berwarna merah.”

Lampu lalu lintas yang merupakan instrumen ketertiban di jalan raya harus berbagi jagad dengan penodong, pengemis dan segenap informalitas kota. Lampu lalu lintas yang sama juga dapat menggambarkan relasi kuasa yang bekerja di ruang kota, seperti cerita Sutrisno yang merupakan supir seorang pejabat dan pengalamannya dengan lampu lalu lintas:

“Majikan saya kebal dengan lampu merah. Maksud saya, lampu merah tidak berlaku untuk para pengawal di depan, dan aku hanya mengikuti pengawal-pengawal itu dari belakang.”

“Berlaku kalau aku mau mematuhinya. Kalau aku mau melanggarnya, polisi-polisi itu tidak akan menegorku.”

Kota Sebagai Produsen “Mimpi”

Dalam pergaulan di masyarakat kita mengenal ungkapan “wong ndeso” atau orang desa/orang kampung, tentu kita semua mengerti ungkapan ini sebagai sebuah olok-olok, “wong ndeso” selalu mempunyai makna sebagai orang yang memiliki pengetahuan yang kurang, norak dan datang dari antah berantah. Desa selalu berada pada posisi yang inferior begitu dihadapkan dengan kota dan segenap citra gemerlapnya. Tentu saja hal ini tidak lepas dari ketimpangan pembangunan yang terjadi sejak Indonesia meraih kemerdekaannya. Pembangunan dipusatkan di kota sehingga mekanisme ekonomi berjalan lebih kencang dan meninggalkan desa-desa “kering bagai debu”.

Demokrasi Terpimpin pada era Soekarno (1959-1965) adalah sebuah respon atas krisis sosial dan ekonomi yang terjadi. Menurut Soekarno krisis ini terjadi karena Indonesia kehilangan sebuah ‘pusat’. Maka proyek besar pada era Demokrasi Terpimpin adalah membangun kota terutama Jakarta menjadi sebuah pusat bagi mobilisasi warga (Asian Games, pembebasan Irian Barat, dan konfrontasi dengan Malaysia). Jalan-jalan kota terhubung dibangun dilanjutkan dengan pembangunan monumen-monumen dan bangunan-bangunan modern termasuk hotel, gedung konvensi dan sebagainya. Jakarta sebagai pusat menjadi sebuah representasi simbolis dan metafora kemanunggalan negara dan rakyat.

Setelah Soekarno kehilangan kekuasaannya paska insiden yang terjadi di akhir September 1965 dan seluruh kejadian setelahnya, era Orde Baru dengan pimpinan Soeharto lantas berkuasa. Tindakan drastis yang dilakukan oleh Orde Baru adalah mengakhiri citra Jakarta sebagai kota mobilisasi. Ruang kota sebagai tempat mobilisasi warga pada era Soekarno diubah citranya menjadi tempat yang berbahaya dan perlu dijaga oleh militer. Jalan-jalan (sebagai ruang kota) misalnya menjadi tempat yang di cap ‘berbahaya’. Pun begitu era Orde Baru juga sangat sentralistik dalam kebijakan pembangunan. Di era itulah seluruh definisi dan impian warga negara ditentukan di Jakarta. Proyek perumahan warga dinamai sebagai proyek ‘rumah-rumah impian’. Seluruh modernitas tetap ditarik ke Jakarta menjadikan kota ini-dalam gambaran lagu “Jakarta” karangan Roma Irama-sebagai:

“Kota yang sangat indah, duhai selangit. Jakarta ibu kota Indonesia. Jakarta kota kebanggaan kita. Apa yang anda mau ada di sana. Dari garam sampai mobil paling mewah. Segala macam hiburan tersedia. Dari yang kelas kambing sampai utama. Jakarta. Jakarta. Selalu melayani selera anda.”

Persis dalam konteks seperti itulah Basri (salah satu tokoh utama di novel Ketika Lampu Berwarna Merah) anak terkecil dari pasangan Artijo dan Surtinah dari sebuah desa di Wonogiri memutuskan untuk pergi meninggalkan kampungnya secara diam-diam menuju Jakarta karena impian untuk melihat Monumen Nasional (Monas) di kalender dan tergoda dengan keramaian kota yang dilihatnya dari televisi di kantor kelurahan.

“Terkadang terpikir olehku apa yang mereka cari di sini?”

“Mimpi-mimpi mereka!”

“Siapa yang membikin mimpi-mimpi itu?”

“Kota itu sendiri. Kota yang mereka dengar dari cerita tetangga-tetangga mereka yang baru pulang dari kota. Anak saudara mimpi karena dia melihat layar televisi. Begitu kan?”

Setelah mimpinya tercapai untuk melihat Monas, Basri pun lantas kebingungan apa yang mesti dilakukan selanjutnya di Jakarta, ia lalu terjebak pada kehidupan jalanan dengan menjadi pengemis yang beroperasi di perempatan jalan yang terdapat lampu lalu lintas, sampai ketika di akhir cerita Basri kembali berkumpul dengan keluarganya dan harus rela ikut bertransmigrasi ke Sitiung, Sumatera Barat dan memutus banyak memori masa lalu karena desanya di Wonogiri ditenggelamkan dalam proyek pembangunan Waduk Gajah Mungkur.

Novel Ketika Lampu Berwarna Merah memadatkan hampir seluruh persoalan kota dan pembangunan terutama di Jakarta pada era Orde Baru kedalam 200 halaman, persoalan yang sialnya masih terasa begitu relevan sampai hari ini. Menanggapi hal itu, saya pribadi sejalan dengan seluruh nada yang disajikan Hamsad dalam novelnya yaitu tetap menaruh harapan tanpa optimisme yang naif dan berlebih.

*Seluruh kata bercetak miring merupakan kutipan yang diambil dari novel Ketika Lampu Berwarna Merah

Reza Adhiatma, peminat isu urban khususnya Vernacular Heritage. Bergiat di Kampoeng Bogor dan Roemah Martha Tilaar

(Visited 73 times, 1 visits today)
Please follow and like us:
error

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here