Matinya Sang Penjaga Rimba Terakhir

0
370
views
Macan tutul jawa yang terekam kamera jebak di Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Foto: Conservation International/TNGHS
  • Artikel
  • Konflik antara manusia dengan macan tutul jawa terjadi lagi. Pertengahan November 2018, seekor panthera pardus melas mati di daerah Sukanagara, Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Senapan angin yang tidak diketahui jenis dan ukuran pelurunya, menghujam tubuh sang penjaga rimba terakhir Jawa.

    Riki Jajat (39), warga yang dekat lokasi kejadian, menceritakan informasi yang baru mencuat 14 hari setelah menjadi konsumsi publik jagat maya, di Sekertariat Walhi Jabar, Kota Bandung, Jumat (29/11/2018) lalu. “Informasinya minim,” tutur lelaki yang juga anggota Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) Bandung Selatan.

    Kasus matinya macan tutul ini, sesungguhnya belum jelas, bangkainya belum ditemukan. Hanya foto yang menunjukkan macan tutul digantung di sebatang dahan pohon.

    Riki menuturkan, jelang pagi macan tutul terlihat berjalan di sekitar jamban umum. “Katanya, ada warga yang berinisiatif melaporkan ke polsek. Namun, karena minim keahlian soal penanganan satwa, polisi meminta warga untuk mengusirnya,” ucapnya.

    Perintah itu, kata Riki, ditafsirkan berbeda. Mereka kemudian memburu dengan mengerahkan anjing kampung. Hingga akhirnya, mati oleh bidikan senapan angin. Entah berapa kali. “Sampai saat ini siapa penembaknya, kaliber peluru yang digunakan masih misteri,” imbuhnya.

    Baca Juga: Setelah 17 Tahun Otsus

    Macan tutul di kandang ini dilepasliarkan di kawasan Cagar Alam Gunung Tilu, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pertengahan 2018 lalu. Foto: Donny Iqbal/Mongabay Indonesia

    Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, melalui Kepala Bidang Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah II, Memen Suparman, menyesalkan kejadian tersebut. Menurut dia, ketiadaan laporan masyarakat membuat pihaknya kesulitan merunut asal-muasal konflik.

    “Info yang kami peroleh benar. Ada macan tutul mati dua minggu lalu. Dari foto yang beredar, diperkirakan usia 1-1,5 tahun dengan tinggi kurang dari 60 sentimeter,” jelasnya.

    Tim Gugus Tugas BKSDA Jabar yang dikerahkan masih melakukan investigasi. Menurut Memet, macan tutul lebih menghindari konflik dengan manusia, kecuali ada faktor lain seperti persaingan atau terfragementasinya hutan di jalur jelajahnya.

    “Tindakan yang menyebabkan matinya satwa berstatus terancam punah ini tidaklah dibenarkan. IUCN memasukan statusnya terancam punah ke Daftar Merah dan terdata juga dalam CITES Appendix I.”

    Memen menegaskan, pihaknya belum dapat mengambil kesimpulan. “Akan tetapi, bila ada indikasi ke tindakan hukum pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak terkait,” terangnya.

    Data Forum Pemerhati Macan Tutul Jawa mencatat, sejak tahun 2008, konflik macan tutul dengan manusia telah terjadi 55 kasus. Hampir sebagian besar terjadi di Jabar. Yang menjadi catatan, rasio pelepasliaran macan tutul lebih kecil dari penangkapan. Sebagaian besar justru ditangkap tanpa kejelasan pelepasliaran. Sisanya, berakhir dengan kematian. Begitu pun dengan standar oprasional penangkapan hingga proses rehabilitasi yang dinilai belum ideal.

    Kondisi yang dikritisi Ketua FK3EI Jabar, Dedi Kurniawan. Dia menilai, sinergitas antar-pihak terkait penanganan mitigasi konflik manusia dengan satwa terkesan lambat. “Kami mendorong, dalam hal ini BBKSDA Jabar segera melakukan inventarisir matinya macan tutul. Ini penting sebagai poin rekomendasi, agar tak berlarut dan mencegah konflik kembali terjadi,” ujarnya.

    Baca juga: Rawa dan Masa Depan Pangan Nusantara

    Macan tutul yang mati tergantung di dahan pohon akibat ditembak di Soreang, Jawa Barat, ini fotonya viral di dunia maya. Sumber foto: Istimewa
    Hilang

    Dihubungi terpisah, Peneliti utama Puslitbang Kementerian Lingkungan Hidup Kehutanan (KLHK) Hendra Gunawan berpendapat, hutan yang menjadi lahan terbangun seperti perkebunan, pemukiman dan lainnya menjadi salah satu faktor pememicu konflik berkepanjangan. Artinya, kondisi yang mendekatkan aktivitas manusia dengan macan tutul.

    Berdasarkan SK MENHUT No.195/KPTS-II/2003 luasan hutan konservasi di Jawa Barat sekitar 132.180 hektar, tersebar di 50 kawasan. KLHK merilis laporan, sekitar 75 persen satwa dilindungi berada di luar kawasan konservasi.

    Gunawan menerangkan, hampir semua kawasan konservasi memiliki buffer hutan seperti Hutan lindung maupun hutan produksi. “Lokasi habitat yang sudah terlanjur terganggu dan ada konflik, perlu dikaji daya dukungnya. Jika mungkin ditranslokasi sebagian untuk mengurangi kelebihan populasi. Lahan buffer yang sudah terlanjur rusak dan berkurang fungsinya perlu direhabilitasi atau direstorasi melalui upaya win-win solution dengan tetap mempertimbangkan kepentingan masyarakat dan satwa.”

    Terkait populasi macan tutul, kata Hendra, data keseluruhan individu saat ini belum lengkap. Di beberapa lokasi sudah ada angka taksiran melalui metode camera trap. “Tapi lebih banyak lokasi yang belum dilakukan perhitungan.”

    Baca juga: Merawat Hutan Adata, Menjaga Martabat

    Macan tutul jawa yang terekam kamera jebak di Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Foto: Conservation International/TNGHS

    Berdasarkan informasi yang dihimpun, macan tutul mempertahankan teritori melalui tanda–tanda berupa suara, cakaran, maupun urine dan kotoran. Macan tutul jawa membuang kotoran tanpa disembunyikan, melainkan diletakkan di tempat–tempat yang terbuka sebagai tanda batas.

    Macan tutul sangat tidak selektif dalam menentukan habitatnya, mereka hanya menggunakan wilayah hutan yang memiliki kecukupan akan ketersediaan sumber pakan, air dan shelter (Direktorat Perlindungan dan Pengawetan Alam, 1978).

    Guggisberg 1975 memperkirakan, rentan hidup macan tutul di alam antara tujuh sampai sembilan tahun. Rata–rata masa buntingnya, 90-95 hari dengan Jumlah anak per kelahiran adalah 1-3 ekor setahun.

    Seekor macan tutul memerlukan ruang habitat antara 600-800 hektar per ekor (Gunawan, 2010). Bila diasumsikan dengan luasan Cagar Alam Gunung Tilu (8.000 hektar), lokasi terdekat tempat macan tutul ini terlihat di desa, diperkirakan dapat menampung sekitar 10-13 ekor macan tutul.

    Saat tulisan ini diturunkan, Mongabay telah mengkonfirmasi Toni Setia, anggota Tim Gugus Tugas BBKSDA Jabar, Senin, (3/12/2018). Toni mengatakan, tim telah melakukan penggalian tempat bangkai macan tutul dikubur.

    “Kami baru menemukan kulit macan. Kami masih melakukan pedalaman lebih lanjut, sambil melaporkan ke pimpinan,” pungkasnya.

    [penulis adalah kontributor Mongabay Indonesia di Bandung]

    Artikel "Matinya Sang Penjaga Rimba Terakhir" merupakan konten kolaborasi dengan Mongabay Indonesia. Konten serupa bisa dilihat di sini

    (Visited 76 times, 1 visits today)
    Please follow and like us:
    error

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here