Mitos Emas di Rawa Gambut Rusak Pesisir Timur Sumsel

0
104
views
Benarkah mitos yang menyatakan ada emas di rawa gambut membuat kondisi pesisir timur Sumatera Selatan rusak? Foto: Rhett Butler/Mongabay.com
  • Artikel 
  • Selama ratusan tahun, hubungan manusia dengan bentang alam pesisir timur Sumatera Selatan berjalan harmonis. Hubungan itu terlihat saat bentang alam pesisir timur, yang diyakini masyarakat lokal masih berupa laut atau kawasan pantai berlumpur dipenuhi mangrove, dapat dilalui atau disinggahi kapal-kapal besar.

    Keyakinan masyarakat ini berdasarkan legenda Serunting Sakti atau Si Pahit Lidah, yang makamnya disebut di puncak bukit dengan ketinggian 85 meter dan luas 23 hektar itu.

    Julukannya Bukit Batu, di Desa Bukit Batu, Kecamatan Pangkalan Lampam, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Bukit ini satu-satunya dataran tinggi di pesisir timur Sumatera Selatan.

    Selain terdapat makam Serunting Sakti, di bukit granit ini juga terdapat sejumlah batu dengan sebutan batu pengantin, buaya, gajah, lesung, dan kolam pemandian bidadari.

    “Batu-batu itu dulunya sepasang pengantin manusia, gajah, buaya, dan lainnya, yang disumpah Serunting Sakti menjadi batu.

    Saat itu diceritakan letaknya di tepi laut yang sekarang menjadi rawa gambut,” kata Wak Gabus (87), juru kunci makam Serunting Sakti di Bukit Batu, belum lama ini.

    Baca juga: Menakar Rawang Sebagai Daratan atau Lautan

    Lahan gambut yang rusak di Desa Perigi Talangnangka, OKI, Sumsel. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia

    Benarkah laut? Mengutip artikel Nurhadi Rangkuti, arkeolog yang melakukan penelitian permukiman Sriwijaya di wilayah pesisir timur Sumatera Selatan atau pantai tenggara Sumatera, dia memperkirakan, di masa lalu lanskap pesisir timur terdapat sejumlah teluk dan tanjung yang menghadap Selat Bangka.

    Di tepian daratan atau tanah mineral, ditemukan berbagai artefak permukiman kuno hingga masa Kerajaan Sriwijaya, baik berupa tiang rumah, perahu, dan peralatan rumah tangga.

    Penelitian ini dilakukan di Air Sugihan, Karangagung Tengah, Tulungselapan, dan Cengal.

    Artinya, jika rawa gambut ditiadakan, besar kemungkinan adalah lautan atau perairan sebab permukiman kuno itu berada di perbatasan rawa gambut dan tanah mineral.

    Ketika Mongabay Indonesia naik ke bagian tertinggi Bukit Batu, terlihat pesisir timur Sumatera Selatan seperti lautan. Ada garis tipis antara rawa gambut dengan laut di Selat Bangka. Hamparan gambut ini terlihat dari Cengal hingga ke Air Sugihan.

    “Saat kami membuat sumur bor (program BRG) sebulan lalu, kami menemukan cangkang kerang laut dari kedalaman dua meter, kemudian pasir putih seperti pasir pantai,” kata Edi Rusman, warga Desa Perigi Talangnangka.

    “Beberapa tahun lalu, saat kami menggali sumur atau kolam di kebun karet, kami pun menemukan sejumlah pecahan keramik kuno. Sayang keramik itu rusak,” lanjutnya.

    Baca juga: Rendahnya Keterlibatan Perempuan dalam Pengelolaan SDA di Kalteng

    Emas dalam bentuk beragam perhiasan banyak ditemukan di situs permukiman Kerajaan Sriwijaya di lahan gambut KHG Sugihan-Sungai Lumpur, Sumsel. Foto: Sengguk Umang

    Terlepas kebenaran legenda tersebut, pengakuan masyarakat lokal jika rawa gambut dulunya laut telah membangun kesadaran masyarakat selama ratusan tahun untuk tidak mengelolanya menjadi lahan pertanian atau perkebunan.

    Mereka hanya memanfaatkan gambut tipis atau lebak untuk perkebunan, persawahan atau sonor.

    Menariknya, kelompok gajah liar yang masih bertahan sampai saat ini, mulai dari Cengal, Penyambungan, Sebokor, Jalur 23, Lebong Hitam, hingga Karangagung, semuanya berdekatan atau tidak jauh dari situs permukiman masyarakat sebelum dan di masa kerajaan Sriwijaya.

    Apakah gajah-gajah itu merupakan keturunan gajah jinak yang dipelihara masyarakat Sriwijaya? Untuk menjawabnya butuh penelitian mendalam, meskipun berdasarkan surat Sri Indrawarman, Raja Sriwijaya, kepada Khalifah Umar bin Abdul Azis pada abad ke-8, dinyatakan Sriwijaya adalah negeri dengan ribuan gajah.

    Baca juga: Menuju Percepatan Hutan Adat yang Berkualitas

    Benarkah mitos yang menyatakan ada emas di rawa gambut membuat kondisi pesisir timur Sumatera Selatan rusak? Foto: Rhett Butler/Mongabay.com
    Mitos Emas dan Minyak Bumi

    Lalu, mengapa masa kekinian masyarakat lokal di pesisir timur Sumatera Selatan bersedia membuka hutan dan merusak lahan gambut? Menurut Edi Rusman, ada kemungkinan hal ini didorong kisah yang disampaikan Serunting Sakti, jika rawa gambut itu kembali menjadi lautan akan muncul banyak emas.

    “Mungkin keyakinan cerita ini pula yang menyebabkan banyak masyarakat melakukan perambahan dan pembukaan lahan untuk mencari emas,” kata Edi.

    Bahkan, ada juga yang percaya jika di bawah batuan di Bukit Batu terdapat banyak emas, sehingga mereka berusaha menambang di sana.

    “Cerita banyaknya emas di rawa gambut mungkin benar, tapi kisah emas akan muncul ketika hutan dan lahan kembali menjadi lautan, mungkin ada pembelotan kisah," imbuhnya.

    "Tujuannya, agar masyarakat mau atau berani diajak membuka hutan pada masa HPH dulu. Saya percaya justru Serunting Sakti meminta masyarakat untuk menjaga hutan,” lanjutnya.

    Berbagai penemuan benda berharga seperti emas dan guci kuno di berbagai wilayah lahan gambut yang terbakar di Cengal dan Tulungselapan, yang merupakan peninggalan masyarakat di masa Sriwijaya, juga menambah keyakinan masyarakat akan kisah yang disampaikan Serunting Sakti.

    Baca juga: Laut adalah Tempat Hidup, Lahan Mencari Nafkah

    Sebaran situs arkeologi di pantai timur Sumatera Selatan. Peta: Balai Arkeologi Palembang

    Kisah lainnya, masa pendudukan Jepang di Indonesia yang melakukan pengeboran minyak bumi di kawasan yang saat ini masuk SM Padang Sugihan Sebokor. Sumur minyak tidak sempat dieksplorasi karena Jepang keburu kalah dari Sekutu.

    “Masyarakat percaya sumur minyak ini ditutup. Kini, mereka mencarinya untuk mengekplorasi seperti sumur-sumur minyak tua peninggalan pemerintah Belanda di Kabupaten Musi Banyuasin,” ujar Edi.

    Terkait mitos ini, kata Edi, sebaiknya pemerintah melakukan dialog dengan para tokoh adat. “Mungkin sudah tidak ada lagi yang disebut tokoh adat, tapi ada para orang tua di dusun, sehingga mitos ini menjadi pengetahuan bermanfaat bagi lingkungan. Bukan sebaliknya.”

    Selain itu, kata Edi, pemerintah jangan memberikan lahan terlalu luas kepada perusahaan untuk dikelola.

    “Sebagian besar masyarakat curiga jika perusahaan tersebut mencari emas di rawa gambut dalam melakukan penataan lahan, bukan hanya menjadikannya kebun. Artinya, masyarakat lebih menerima jika kawasan itu dihutankan kembali dibandingkan diserahkan ke pelaku usaha,” lanjutnya.

    Baca juga: Pembangunan Rendah Karbon untuk Mengerem Perubahan Iklim

    Batu gajah di Bukit Batu. Foto: Taufik Wijaya/Mongabay Indonesia

    Beberapa waktu lalu, Handoyo, peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim, Badan Litbang dan Inovasi KLHK, mengatakan, sebagai wilayah eks permukiman atau kemungkinan bandar di masa Kerajaan Sriwijaya, banyak hal yang harus dikaji.

    “Saya yakin banyak yang harus diteliti, secara fisik maupun nonfisik. Mitos, legenda, dan fakta tersembunyi, harus diteliti oleh para intelektual atau akademisi," jelas Handoyo.

    "Semuanya pasti terkait kekayaan alam. Riset ini untuk kepentingan bangsa dan negara, hari ini dan masa mendatang,” imbuhnya.

    [penulis adalah kontributor Mongabay Indonesia di Palembang]

    Artikel "Mitos Emas di Rawa Gambut Rusak Pesisir Timur Sumsel" merupakan konten kolaborasi dengan Mongabay Indonesia. Konten serupa bisa dilihat di sini

    (Visited 34 times, 1 visits today)
    Please follow and like us:

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here