Proyek Kolaborasi Damai Black Finit

0
214
views
Black Finit, solois reggae kelahiran Maumere yang berproses di Yogyakarta, baru-baru ini merilis single baru. Foto : Doggyhouse Records
  •  Artikel : Anggitane
  • Reggae dan Yogyakarta sepertinya menjadi dua sisi koin untuk seorang Albert Gerson unFinit. Sejak memulai petualangan reggae pada 2010 dengan nama karya Black Finit, periode berkesenian kian dijalaninya dengan tekun.

    Sukses merilis single “Bukan Puisi” dibawah bendera Doggyhouse Records, dengan menggandeng banyak figur seniman profesional semisal Agan Harahap, Heruwa “Shaggydog” dan Angki Purbandono, Black Finit kembali disibukkan dengan beberapa kegiatan selain promo single.

    Wajah kesenian pria asal Maumere ini bersanding produktif dengan kegiatannya mengajar bahasa Indonesia di rumahnya, juga menggelar sebuah program bertajuk Keliling Indonesia yang membuatnya berkeliling ke beberapa asrama mahasiswa daerah yang berada di Yogyakarta untuk mengajak para penghuni menampilkan kesenian tradisional daerah asal-nya dalam konsep pertunjukan modern.

    Di sela kegiatannya tersebut, Black, sapaan akrab musisi 35 tahun itu, bertemu dengan para pemuda asrama mahasiswa yang berasal dari daerah yang sama, Maumere.

    Baca juga: Lintasan Konstan Mini Album WTF Project

    Lantas sekelompok pemuda tersebut menemukan kesamaan dalam memainkan musik memakai alat tradisional Flores semisal Bijol, Totobuang dan Gong Waning.

    Kemudian mereka menamakan diri sebagai Wangak. Kelompok ini awalnya hanya memainkan lagu band lain sampai kemudian Black mengajak untuk membuat komposisi lagu sendiri.

    Niat baik memang memiliki peluang bersambut dengan hasil yang baik pual. Dari beberapa kali brainstorming yang dilanjut dengan jamming studio akhirnya tercetus ide untuk membuat sebuah lagu bertema Natal yang berbeda dari yang sudah populer di Indonesia.

    “Saya rasa lagu Natal yang populer di Indonesia kebanyakan cuma saduran mentah dari keadaan di luar Indonesia. Masak bernyanyi tentang salju sementara di sini kan gak ada salju,” terang Black.

    Baca juga: Ruang Waktu Pop Kedua Kawanan Angsa dan Serigala

    Kekuatan lagu yang diberi judul “Damai Natal”, Black Finit bercerita tentang bagaimana masyarakat di daerah mereka merayakan sukacita Natal.

    Lagu dalam format akustik ini dikemas rancak layaknya nuansa pesta menggunakan alat musik tradisional mereka. “Suka cita melanda, telah tiba Desember. Suara dentum meriam, lampu – lampu di pohon”.

    Begitulah, bagi Black dan Wangak Natal sudah bukan lagi hanya merupakan sebuah perayaan bagi agama tertentu pada lirik “Peluk cium tersayang, orang orang tercinta, segala umat bersatu, rayakan damai Natal”.

    Natal bisa diartikan seperti layaknya hari dimana semua anggota keluarga berkumpul dan merayakannya tanpa memandang agama apa yang dianut.

    Baca juga: Alter Ego Seorang DJ dalam Kemasan Indie Dance

    Kini, single Black Finit (feat. Wangak) “Damai Natal” sudah resmi dirilis bertepatan dengan hari Natal tanggal 25 Desember 2018 melalui toko musik digital semisal iTunes, Spotify dan lainnya.

    “Damai Natal” menjadi single kesekian setelah proyek solo ber-genre Reggae pada 2010. Pada 25 November 2011, Black Finit merilis album EP berisi 6 lagu, Kiri Kanan, melalui label-nya sendiri, Gong Waning Production.

    Di tahun 2015 album penuh pertama-nya dirilis yang berisi 11 lagu dengan judul Digiyo Digiye.

    Tahun 2017 Black diajak berkolaborasi oleh produser Grayce Soba (Soba Studio) untuk merekam beberapa lagu bergenre EDM (Electronic Dance Music) dimana Black memainkan gitar serta bernyanyi. Kolaborasi ini melahirkan beberapa single diantaranya “Mims”, “No Rules” dan “Pink Dinner”.

    [penulis adalah petani serabutan dan berdagang di @tanigadungan]

    Artikel "Proyek Kolaborasi Damai Black Finit" merupakan konten kolaborasi dengan HujanMusik!. Konten serupa bisa dilihat di sini

    (Visited 39 times, 1 visits today)
    Please follow and like us:
    error

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here