Mereka yang tak Bisa Pulang

0
228
views
Buku Tanah Air yang Hilang, karya Martin Aleida dan buku Pulang karya Leila S. Chudori. Sumber foto: dok. pribadi penulis.
  • Artikel Faidah Azuz Sialana
  • Saya ditugaskan menjadi anggota tim mata kuliah ilmu alamiah dasar untuk kelas Hubungan International Fakultas Fisipol Universitas Bosowa. Mata kuliah ini menjadi kelompok mata kuliah dasar yang memiliki sedikit saja relevansi dengan core ilmu hubungan international.

    Tetapi kami, saya dan Professor Andi Muhibuddin, harus menyajikan mata kuliah ini dengan sepenuh tenaga agar mahasiswa tidak bosan di kelas.

    Perkuliahan pertama sampai ke delapan menjadi tanggung jawab ketua tim. Saya akan melanjutkan materi pada pertemuan kesembilan sampai final. Susunan materi dan teknik penyajian didiskusikan bersama. Begitu aturan yang kami sepakati berdua.

    Lalu sampailah giliran Saya menyajikan mata kuliah tersebut. Ketika itu saya telah menyelesaikan novel 'Pulang" karya Leila. Chudori yang diterbitkan oleh Gramedia pertama kali pada Desember 2012.

    Novel ini baru mampu saya miliki dua tahun setelah diterbitkan, lantaran sebagai anak sekolah saya tidak leluasa membeli buku yang bukan prioritas.

    Baca juga : Dunia Milik Kita

    "Pulang" menceritakan beberapa mahasiswa Indonesia yang tidak bisa kembali ke Indonesia setelah peristiwa tahun 1965.

    Dimas, Nugroho, Tjai, Dan Risjaf sebagai tokoh novel ini terlunta-lunta di Perancis. Mereka berempat kemudian mendirikan Restoran Indonesia di Paris.

    Novel ini tentu saja tidak dapat saya jadikan pegangan untuk memperkaya mahasiswa saya dengan core ilmu hubungan international. Tetapi saya tidak berhenti sampai di situ. Novel yang ditulis oleh orang sekaliber Leila S. Chudori bukanlah tanpa riset. Hal ini terlihat dari catatan akhir yang menunjukkan fakta otentik.

    Berangkat dari catatan akhir dan keyakinan saya atas kapasitas Leila, saya kemudian merambah bacaan lain.

    Saya menemukan satu buku pada iklan Kompas versi digital yang saya langganani selama setahun. Ada buku yang berjudul Tanah Air yang Hilang. Saya belum memesannya secara online, hingga satu malam.

    Baca juga : Membaca Lekra dan Gerak Politiknya

    Malam itu tanggal 1 Desember 2017, saya berkunjung ke toko buku Paradigma milik Bu Mauliah Mulkin. Saat itu musim hujan, menjelang Isya. Saya mencari novel Barichalla yang ditulis Khrisna Pabhicara. Saya mengedar pandangan mengitari banyak buku yang tersusun rapi di rak. Mata saya terpaku pada buku Tanah Air yang Hilang.

    Buku ini ditulis oleh Martin Aleida terbitan Kompas tahun 2017. Saya memberi catatan pada halaman dalam buku itu bahwa Saya membelinya untuk menuntaskan novel Pulang.

    Tak lupa, saya membubuhkan tanggal dan tulisan "Maulidul Rasul" di sebelah kanan atas tandatangan saya. Artinya saya membeli buku ini pasa liburan Maulid Nabi Muhammad.

    Tanah Air yang Hilang kemudian menjadi salah satu pemantik diskusi dengan mahasiswa kelas Hubungan International.

    Saya katakan pada mereka: Anda dipersiapkan oleh orang tua dan Universitas Bosowa untuk menjadi diplomat atau setidaknya menjadi orang yang bekerja dalam ihwal urusan luar negeri bangsa ini.

    Anda perlu tahu sejarah emas dan juga sejarah kelam bangsa kita sebagai bahan diplomasi nantinya. Di tangan Andalah kehidupan luar negeri kita diserahkan.

    Pada novel Pulang saya menemukan cerita tentang restoran Indonesia di Paris yang menyuguhkan nasi goreng, gado-gado, sate, gula jawa sebagai hidangan andalan.

    Pertanyaan yang kemudian muncul apakah benar ada Restoran Indonesia di Paris seperti yang diceritakan Leila dalam novelnya?

    Kepastian itu saya dapati pada buku Tanah Air yang Hilang di bawah judul Trah Aidit di Paris (Hal. 91-109).

    Di situ diceritakan bagaimana keturunan Aidit membangun Restoran Indonesia, bagaimana mereka mengurus paspor Perancis, dan bagaimana mereka memandang Indonesia dari sana.

    Buku yang tebalnya 323 halaman ditulis oleh Martin Aleida berisi wawancaranya dengan 19 orang yang tidak dapat pulang ke Indonesia tersebab persoalan politik.

    Baca juga : Kota Ketika Lampu Berwarna Merah

    Saya tidak tertarik membicarakan soal politik, tetapi saya lebih menyukai membincangkan apa yang terjadi ketika itu sehingga mereka tidak dapat pulang ke Indonesia, juga berusaha menyelami apa yang mereka rasakan, serta bagaimana mereka merawat kerinduan pada negeri dan keluarga lainnya.

    Pada orang kesembilanbelas yang diwawancarai, mata saya terpaku pada judul tulisan itu "Wanita Pala di Amsterdam".

    Sebagai perempuan Maluku, saya tahu bahwa kisah ini dinisbatkan pada identitas kami orang Maluku. Tentu saja kisahnya akan bertutur tentang orang Maluku di Amsterdam.

    Fransisca C. Pattipeilohy menjadi tokoh terakhir dalam buku ini. Menilik faam-nya, saya tahu bahwa beliau asli Maluku.

    Dalam pengakuan Bu Sisca, orang tuanya dari Banda Neira, tempat paling subur untuk tanaman pala. Buku ini kemudian menceritakan lika-liku bagaimana beliau di tahan dan bagaimana kehidupan beliau saat ini di Belanda.

    Sampai di sini ingatan saya menerjang berbagai kenangan tentang beberapa keluarga dekat kami yang tak dapat pulang dengan leluasa lantaran persoalan politik.

    Pun ingatan saya berkelebat menembus beberapa teman saya yang memilih mengganti warga negaranya bukan tersebab politik.

    Ada rasa kehilangan yang hanya dapat dipahami oleh dua hati yang bersahabat karena mereka sama menghabiskan masa kecil, kemudian ketika dewasa mereka terpisah karena perbedaan warga negara.

    Itulah sebabnya ketika saya bertemu dengan seorang sahabat yang telah lama bekerja di luar negeri, padanya saya katakan "jang ganti warga negara ee.. beta deng semesta Ambon tetap buka tangan voor ale". Saya menggunakan langgam bahasa Ambon untuk mengikat cintanya pada tanah air.

    Baca juga : Nawilla dan Pertanyaannya

    Saya bersyukur dapat membaca novel Pulang dan kemudian berburu fakta pada buku Tanah Air yang Hilang.

    Saya tentu saja tidak menceritakan isi buku ini pada mahasiswa saya, tetapi saya katakan pada mereka memahami sejarah perlu dari dua sisi. Dengan begitu kita menjadi adil bahkan sejak dari alam pikiran, kata saya sembari mengingat-ingat kutipan dari Pramudya Ananta Toer.

    Kelas kami kemudian menjadi hidup karena saya meminta mahasiswa menceritakan buku yang mereka baca dan memengaruhi diri mereka.

    Saya ingin mahasiswa saya menjadi orang yang bukan sekadar kenyang di perut, tetapi pikiran mereka perlu dikenyangkan. Saya meyakini bahwa buku adalah asupan terbaiknya.

    Sumber tulisan dan foto ada di sini

    [Penulis adalah dosen di Universitas Bosowa, Makassar]

    (Visited 74 times, 1 visits today)
    Please follow and like us:

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here