They Are Not Cool, They Are ON FIRE!

0
138
views
Unit punk rock Palembang SUMAR, per 7 Desember 2018 lalu merilis album penuh “On Fire”. Foto : Youth Generator Records
  •  Artikel : Anggitane
  • Sumatera Selatan dalam setahun terakhir tak putus mendulang perhatian saya. Banyak undangan singgah bertebaran di sana, mulai dari urusan kerja, keluarga, hingga wisata sekedarnya. Terakhir yang cukup mendominasi adalah godaan ber-seli (sepeda lipat) melintasi jembatan Ampera yang melegenda di Palembang.

    Pun demikian dengan perkenalan saya tentang punk rock antar kota bernama SUMAR yang memilih Palembang sebagai identitas kota asal.

    Sekelebat kabar tentang mereka saya dapati dari Youth Generator Records, label independen lokal Palembang yang tengah produktif bergeliat. Jejak SUMAR pun menguar perdana bersama mereka pada 2015. Masa-masa pertama tampil dengan mini album “Here We Go” yang diteruskan menjadi album penuh dalam selang 3 tahun berjalan.

    Menjelang akhir 2018 lalu, SUMAR merilis “On Fire” yang proses pengerjaannya dimulai dari Desember 2016 hingga Mei 2017. Memakan waktu yang cukup lama dengan tersangka ‘waktu’ dan kerumitan pertemuan.

    Saya setuju dengan analogi “keras kepala” yang disematkan penulis pers rilis untuk merepresentasikan SUMAR. Bagaimana mungkin sebuah band dengan domisili personilnya yang sudah tercerai-berai oleh jarak masih bisa tetap aktif dan produktif.

    Baca juga : Parkdrive Menuju Cahaya Album Ketiga

    Dhony Abdul Kharist, pemain bass sekaligus penanggung jawab vokal, harus pindah ke Jakarta bersama semua anggota keluarganya di tahun 2011, kemudian disusul juga oleh Faisal Hadi (drummer) yang kini hanya bisa kembali ke Palembang di akhir pekan karena wilayah penugasannya di luar kota. Akhirnya hanya menyisakan Satriyo Prakoso (gitar/vokal) yang berkarir di Kota Palembang.

    Rantai pemanggungan yang kerap menemui kenyataan hanya tampil berdua, dan juga proses pengerjaan album yang harus lebih lama dibandingkan band-band lain, tak menyurutkan semangat mereka untuk tetap berkarya.

    Dalam album “On Fire” tersemat 18 lagu eksploratif yang lebih lebar dibandingkan “Here We Go!” yang hanya terdiri dari 5 lagu.

    Dibuka dengan “Abort the Bomb” yang menggambarkan situasi zona konflik yang kerap muncul di berita beberapa waktu belakangan, dilanjutkan dengan “Broken World” yang menceritakan kondisi seorang pendatang yang merasa tak punya tempat di kota yang penuh dengan pendusta.

    “No More TV Casualty” adalah lagu ketiga yang muncul sebagai bentuk kemuakan tayangan di TV yang jauh dari konten positif. Berlanjut “The War”, representasi kekacauan, “The Lost Generation” soal fenomena sosial pemuda-pemudi yang ‘tersesat’ di kampung milenial.

    “Twenty Letters” adalah lagu berikut soal getir pilu, rasa ingin bertemu yang pupus, disusul dengan “Stop Pretending” yang terinspirasi dari teman yang kerap ‘bertopeng’ dalam kesehariannya.

    Baca juga : Eksploratif Sendu Singo Sembrono untuk Korban dan Penyintas Tsunami

    “It Feels So Wrong” menjadi salah satu lagu romansa konyol dari album ini. “Say” bercerita tentang hubungan yang telah rusak dan tak lagi sama dan “Give Us Air to Breathe” merekam peristiwa kabut asap yang melanda Sumatera Selatan beberapa tahun belakangan.

    Berlanjut ke “Get Out”, lagu 54 detik tentang acungan jari tengah untuk semua yang tidak peduli dan tidak akan pernah mengerti tentang mereka.

    “Womanage” dengan sudut pandang kritis fenomena sosialita nan hedon. Kemudia “Ghost” yang menggambarkan orang-orang yang tunduk dalam kehidupan dan tergerus sistem.

    Track “Goddamn City” menitipkan pesan cinderamata yang muncul setelah berkunjung ke suatu kota yang sangat akrab dengan kemacetan dan kelicikan, sementara “Again and Again” bercerita tentang keterlambatan dan kesalahan dalam memilih.

    Nomor “It’s Okay” adalah lagu bernuansa humor yang tepat untuk ditujukan kepada orang-orang yang tidak disukai. Menuju paket akhir SUMAR menawarkan “Do You Want to Know?” sebuah lagu dari grup punk rock asal Jakarta, Get Out! yang kemudian direkam ulang dalam dua versi, versi band dan versi acapella.

    Baca juga : Jionara dan Makna Sebuah Perpisahan

    Semua track direkam di Black Sheep Studio bersama Panji Mustaqiem dan dimixing dan mastering juga oleh Panji Mustaqiem.

    “On Fire” yang dirilis di tanggal 7 Desember 2018, tampil dengn judul pilihan karena dianggap frasa tepat mewakili isi dari album keseluruhan.

    Secara visual, “On Fire” pun dieksekusi dengan apik oleh Ken Sabo selaku pembuat artwork sampul album dengan melukiskan citranya dalam bentuk bendera putih yang dibakar.

    Tidak ada lagi cara untuk menyerah. Opsi yang tersisa adalah tetap maju, berjuang, dan bakar semua yang menghalangi.

    They are not cool, they are ON FIRE!

    [penulis adalah petani serabutan dan berdagang di @tanigadungan]

    Artikel "They Are Not Cool, They Are ON FIRE!" merupakan konten kolaborasi dengan HujanMusik!. Konten serupa bisa dilihat di sini

    (Visited 23 times, 1 visits today)
    Please follow and like us:
    error

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here