Doel Sumbang dan Panggung Ripuh Tembang Sunda

1
451
views
Doel Sumbang. Ilustrasi by: Graditio
  • Artikel Amaliana Widya Utami
  • Bisakah bahasa Sunda punah? Pertanyaan itu mengusik pikiran saya selama beberapa hari belakangan ini. Sebagai perempuan Sunda, saya tidak ingin bahasa leluhur saya punah dan hilang dari peredaran. Akan tetapi, saya tiada henti dibuntuti oleh rasa cemas.

    Hati saya selalu diselimuti perasaan haru setiap kondangan, entah hajat khitanan entah resepsi pernikahan, karena disambut lantunan lagu-lagu Sunda yang syahdu. Kadang merdu suara Nining Meida, kadang dendang lucu Doel Sumbang.

    Selebihnya, lagu-lagu Sunda jarang singgah di kuping saya. Kecuali kalau sedang di rumah. Apa korelasi antara lagu Sunda dan bahasa Sunda? Bagi generasi milenial seperti saya, lagu termasuk jalan pintas untuk memahami suatu bahasa. Itu sebabnya saya mencintai lagu Sunda, lantaran dari sanalah saya memperkaya kosakata.

    Hingga kapan lagu-lagu Sunda bisa memanjakan telinga saya? Apakah generasi baru akan lahir di kancah pop Sunda apabila era Doel Sumbang dan Nining Meida berlalu? Apakah ada generasi kiwari yang mau meneruskan kiprah Kang Darso? Adakah pedangdut yang mengikuti Itje Trisnawati menyusupkan bahasa Sunda ke dalam lagu yang didendangkannya?

    Hanya empat pertanyaan, tetapi sungguh-sungguh mencemaskan.

    Getir Takdir Bahasa Daerah yang Sekarat

    Kepala Bidang Perlindungan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Ganjar Harimansyah, sebagaimana dikutip kompas.com, mengabarkan bahwa ada 13 bahasa daerah yang dinyatakan punah. Walupun bukan sesuatu yang mengejutkan, pernyataan beliau tetap saja mencemaskan.

    Bayangkan. Ada 11 bahasa yang punah di Maluku, yakni bahasa Kajeli/Kayeli, Nila, Palumata, dan Serua (Maluku Tengah), Piru (Seram Barat), Moksela (Kep. Sula), Ternateno (Kota Ternate), Hukumina (Pulau Buru), serta Hoti (Seram Timur). Dua lainnya berasal dari Papua, yaitu Tandia (Teluk Mondama) dan Mawes (Sarmi).

    Itu bukan pepesan kosong, bukan juga omong kosong. Kepunahan bahasa berarti kematian budaya, tradisi, dan pernak-pernik satu suku pengguna bahasa. Bayangkan pula suatu ketika orang-orang Sunda, misalnya, harus belajar bahasa, budaya, dan tradisi Sunda kepada pakar dari negeri asing.

    Hal ini menimpa bahasa Kaganga, bahasa daerah yang pernah digunakan oleh masyarakat di Sumatera bagian selatan. Padahal, Kaganga punya aksara sendiri. Saat ini, ahli yang mahir menulis, membaca aksara, dan berbahasa Kaganga justru pakar dari Belanda dan Jerman.

    Apakah suatu ketika bahasa Sunda akan menyusul saudara-saudaranya yang telah mangkat itu? Tidak perlu cemas. Jumlah penutur bahasa Sunda sangat banyak, yaitu 27.000.000 jiwa. Rasa-rasanya bahasa Sunda akan berumur panjang, setidaknya masih jauh dari sekarat. Itu kalau kita mau meminggirkan kecemasan dan mengabaikan kemungkinan.

    Akan tetapi, tunggu dulu. Jumlah penutur yang sedemikian besar ternyata bukan garansi sebuah bahasa dapat awet dan lestari. Sikap penutur terhadap bahasa daerahnya justru sangat berpengaruh terhadap kelestarian bahasa daerah.

    Tanpa kita sadari, rasa segan berbahasa daerah karena takut dituding norak, kampungan, atau ketinggalan zaman justru merupakan ancaman bagi keselamatan bahasa daerah. Lambat laun, sikap malu berbahasa daerah dapat menggerus jumlah penutur. Akibatnya, jumlah penutur akan berkurang sedikit-sedikit hingga lama-lama menjadi banyak.

    Jika bertumpu pada kriteria Unesco (2003), bahasa dinilai berdasarkan daya hidupnya. Jika penuturnya sudah tiada, berarti suatu bahasa dinyatakan punah. Pada 2009, Unesco mencatat sekitar 2.500 bahasa di dunia terancam punah—termasuk 100 bahasa daerah di Indonesia. Bahkan dalam rentang 30 tahun terakhir sudah 200 bahasa yang tamat riwayatnya, termasuk 13 bahasa daerah di Maluku dan Papua.

    Berdasarkan persebaran bahasa daerah per provinsi, Badan Bahasa menyatakan bahwa jumlah bahasa daerah di Indonesia mencapai 733. Hanya saja, hingga Oktober 2017 baru 652 yang telah diidentifikasi dan divalidasi dari 2.452 wilayah pengamatan.

    Bagaimana dengan respons penutur bahasa Sunda terhadap bahasa ibunya? Di kota-kota besar, hasrat memakai bahasa Sunda mulai menyusut di kalangan umat milenial. Jangankan bahasa Sunda, bahasa Indonesia saja dicampuradukkan dengan bahasa asing.

    Bahkan semangat berbahasa Sunda juga mulai menyusut di kalangan kaum muda di pinggiran kota. Lambat laun akan merembet atau merembes ke perdesaan atau perkampungan. Jika generasi kiwari (terutama yang berusia 27 tahun ke bawah) sudah enggan berbahasa Sunda, isyarat takdir bahasa Sunda mendekati sekarat tinggal menunggu waktu.

    Tahapannya jelas. Mula-mula memasuki fase bahasa daerah yang rentan atau tidak aman, kemudian sekarat atau kritis, kemudian meninggal atau punah. Memang sekarang bahasa Sunda masih tergolong aman, tetapi apakah respons umat melineal menjamin rasa aman itu? Saya pikir, tidak.

    Doel Sumbang dan Gairah Merawat Bahasa Sunda

    Pada 3 Januari 2013, seperti dilansir oleh viva.co.id, Doel Sumbang berteriak lantang mengenai upaya pelestarian bahasa Sunda. “Saya akan terus mengarang lagu Sunda, tidak peduli laku atau tidak. Saya berkarya bukan untuk mencari untung belaka. Saya terus berkarya karena saya tidak ingin bahasa Sunda punah,” laung penyanyi bernama Abdoel Wahyu Affandi dengan lantang.

    Apa pasal sehingga Doel Sumbang bercakap demikian? Pelantun puluhan, bahkan ratusan, lagu Sunda tersebut membaca kemungkinan dan menebalkan kekhawatiran. Jika tidak dirawat, dijaga, atau dilestarikan, bukan hal mustahil bahasa Sunda menyusul kerabatnya yang telah tiada.

    Sekarang coba berbesar hati melihat fakta. Peserta gelaran kegiatan pelestarian bahasa daerah, termasuk bahasa Sunda, biasanya barinbun (barisan insan beruban) atau japarsuh (jajaran para sesepuh). Generasi zaman kiwari? Mereka sibuk dengan dunia digitalnya.

    Coba tanya pula anak milenial di sekitar kita. Apakah mereka mengenal lagu-lagu Kang Darso? Kenalkah mereka pada sosok Kang Nano sang penggubah Kalangkang? Kalau mau lebih spesifik, tanya pula arti endag—kata yang disematkan Kang Doel dalam lirik Ai.

    Namun, bukan hanya generasi kiwari saja yang mesti dicemasi. Dahulu, beberapa petinggi di tatar Sunda terkenal mahir menulis. Bupati Bandung (1893-1918), Raden Adipati Aria Martanagara, menggurat Wawacan Aji Saka dan Piwulang Barata Sunu semasa masih aktif selaku pejabat.

    Sebut pula Pangeran Aria Suriaatmaja, Bupati Sumedang (1882-1919), yang menganggit lirik lagu untuk tarian yang diciptakannya sendiri. Jangan lupa Raden Ayu Lasminingrat yang menulis Warnasari dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Belanda. Begitu paparan Jay Setiawan.

    Berapa banyak sekarang tokoh publik tersohor di tanah Sunda yang piawai ngagugurit atau ngadangding? Mungkin bisa dihitung jari, sekiranya kita tidak ingin menyebut tidak ada pejabat lagi yang mahir mengarang dengan menggunakan bahasa Sunda.

    Padahal, kurang cendekia apa lagi Kang Emil (Gubernur Jabar) atau Kang Bima (Walikota Bogor). Kurang segar apa lagi ide Kang Dede (mantan Wagub Jabar) atau Kang Dedi (mantan Bupati Purwakarta). Kurang nyeni apa lagi Kang Hengky (Wabup Bandung Barat).

    Kecuali kita ingin membiarkan kesedihan Kang Doel Sumbang terbukti: generasi milenial kelak hanya berkata “dulu ada hikayat Si Kabayan dan Dayang Sumbi”. Sebelum hati kita oleng atau oyag-oyagan, seperti perasaan Asep setiap melihat Ai, mari kita pirsa kembali karya Kang Doel, Ai di link Youtube ini.

    Mencari Penerus Doel Sumbang

    Jangan remehkan lagu daerah, termasuk lagu Sunda. Pada masanya, 1980-an, Kalangkang yang dilantunkan oleh Nining Meida sempat meraup angka penjualan yang fantastis hingga angka dua juta keping. Tentu bukan prestasi biasa pada era ketika lagu rok dan pop Indonesia menguasai blantika musik Indonesia.

    Lagu Ai yang baru saja kita nikmati seraya manggut-manggut, termasuk lagu yang penjualannya mengentak bisnis musik di tanah air. Karya Kang Doel itu terjual melebihi satu juta keping. Bukan itu saja. Sempat tersiar kabar, dikutip oleh pikiran-rakyat.com, Ai dibeli hak oleh perusahaan rekaman ternama dengan harga yang “heboh”, Rp300 juta.

    Angka itu jelas bukan nilai yang sedikit. Jika kita bandingkan antara kurs dolar pada 1993 dengan 2018, angkanya sangat mencengangkan. Saya coba menguliknya di simulasikredit.com dan menemukan angka sebesar Rp2.887.903.386,31.

    Mengingat peluang pasar yang sangat besar, baik dari calon penikmat lagu Sunda maupun taksiran finansial, jelas upaya yang dilakukan oleh Kang Doel dan musisi Sunda lainnya mesti diteruskan. Kang Doel bertanya, “Orang Sunda mau jadi apa kalau bahasanya punah?”

    Dengan sendu, pelantun lagu-lagu sarat kritik itu menegaskan tekadnya, “Terserah orang mau bilang apa, yang penting saya akan menjaga bahasa Sunda. Saya yakin banyak seniman dan masyarakat Sunda, termasuk suku lain, yang sepakat dengan saya.”

    Kritik beliau, terutama ketika bahasa daerah disumpetkan ke dalam muatan lokal, bukanlah sesuatu yang tabu untuk kita simak. Bahkan, penting itu disikapi lebih daripada sekadar disimak. Di sinilah kita butuhkan kehadiran negara.

    Negara, berdasarkan Pasal 32 ayat 2 UUD 1945, menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional. Siapakah yang termasuk dalam puak “negara” itu? Bukan Presiden saja. Gubernur, Bupati, dan Walikota juga termasuk. Warga negara, semisal Kang Doel, sudah berikhtiar, negara mesti hadir mengobarkan dan menggelorakan ikhtiar itu.

    Ikhtiar pengembangan, pembinaan, dan pelindungan itu harus dilakukan secara bertahap, sistematis, dan berkelanjutan. Begitu amanat Pasal 42 dalam UU No. 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan.

    Bagaimana caranya? Bolehlah seminar-seminar, lokakarya-lokarya, atau hal-hal yang serumpun dengan itu terus diselenggarakan, tetapi jangan lupakan selera kaum milenial. Sentuh kawasan gaul generasi kiwari. Lahirkan Kang Doel-Kang Doel baru, sekalipun bukan Doel yang “sumbang”.

    Audisi band Sunda, misalnya. Boleh juga Sunda Idol—kalau mau agak keminggris. Asalkan dikemas dengan citarasa milenial, gaul, dan kekinian. Siapa saja boleh ikut, selama sesuai dengan batasan usia tertentu.

    Kalau ada yang mau bereksperimen menyanyikan lagu Sunda dengan langgam jazz, rap, atau seriosa, biarkan saja. Apabila ada yang menggunakan harfa, gitar, atau kecapi, biarkan saja. Pokoknya, bebaskan anak-anak muda untuk berekspresi.

    Masalahnya, negara mesti berani atau bernyali!

    Ulah Eundeug-eundeugan, Kang Doel

    Tidak. Saya tidak mengatakan bahwa apa yang telah negara lakukan selama ini berakhir sia-sia. Saya hanya menyatakan bahwa perlu ada gebrakan atau terobosan baru. Saya hanya menyodorkan sisi pandang berbeda, bahwa target kegiatan pelestarian bahasa perlu juga diarahkan kepada generasi kiwari.

    Festival band atau tarik suara sekadar contoh belaka. Kalau perlu, gelar pula Festival Ngadangding atau Karnaval Ngabodor. Libatkan anak-anak yang ramah dengan dunia digital, yang intim dengan media sosial, yang ingin menunjukkan bahwa mereka juga layak dilirik dan diwawas.

    Jika lagu-lagu Sunda merambat dan menjalar di nadi generasi kiwari, saya yakin mereka juga akan tergerak untuk merawat budaya dan tradisi Sunda lainnya. Inilah yang disebut Ajian Ketok Tular. Ajian yang meniscayakan sesuatu diketok dulu baru menular dengan sendirinya.

    Ketika itu tercapai, Doel Sumbang tidak akan eundeug-eundeugan atau oyag gara-gara mencemaskan kelestarian bahasa Sunda. Begitu pula Teh Nining Meida. Bahkan arwah Kang Darso, Kang Nano, Kang Ibing, atau Kang Ujang akan tersenyum di alam sana.

    Pada akhirnya, orang Sunda tidak boleh berleha-leha hanya lantaran bahasanya termasuk dalam 12 bahasa daerah yang berstatus aman bersama bahasa Aceh, Bali, Bugis, Jawa, Makassar, Muna, dan Sentani. Sampai kapan bahasa Sunda berstatus aman?

    Sumber tulisan bisa dilihat di sini

    [Penulis adalah seorang karyawati dan penulis aktif di Kompasiana. Perempuan berdarah Sunda]

    Rujukan:

    1. Bahasa Daerah di Indonesia yang Dinyatakan Punah (kompas.com)

    2. Doel Sumbang Memprotes Kurikulum Tanpa Bahasa Daerah (viva.co.id)

    3. Jay Se tiawan: Perkembangan Kesusastraan Sunda (kumeokmemehdipacok.blogspot.com)

    4. Ketika Ai Menjadi Tembang Sunda Termahal (Pikiran-Rakyat.com)

    5. Menghitung Perbandingan Inflasi Rupiah (simulasikredit.com)

    6. Doel Sumbang: Seniman Nyentrik dari Tanah Pasundan (tokoh.id)

    7. Nining Meida: Cengkok yang Tak Lekang oleh Waktu (jabar.tribunnews.com)

    8. Kang Darso: Raja Pop Sunda (tokoh.id)

    (Visited 195 times, 1 visits today)
    Please follow and like us:
    error

    1 COMMENT

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here