Mencintai Tanah Air Indonesia

0
117
views
Dari kiri ke kanan : Serian Wijatno (Panitia Bagian Jaringan), Eddy Hussy (Sekretaris Panitia), Sudhamek AWS (Ketua Panitia), Teddy Sugianto (Wakil Ketua) dan Rudy Halim (Panitia Bagian Jaringan ). Foto : Panitia Perayaan Imlek Nasional.
  • Artikel Dony P. Herwanto
  • Hari ini, 7 Februari 2019, bertempat di Hall B3 & C3 JIEXPO, Kemayoran, Jakarta Pusat, Panitia Imlek Nasional menggelar Perayaan Imlek Nasional bertema “Merajut Kebinekaan, Memperkokoh Persatuan”.

    Menurut Sudhamek, Ketua Dewan Pelaksana Imlek Nasional 2019, Imlek sebagai Hari Libur Nasional ditetapkan sejak tahun 2003. Dan sejak itu, Tahun Baru Imlek diperingati sebagai hari libur untuk semua masyarakat Indonesia.

    "Asal usul perayaan Tahun Baru Imlek sesungguhnya adalah untuk merayakan datangnya musim semi di daratan Tiongkok. Perayaan ini diisi dengan rangkaian kegiatan berupa doa, berkumpul dan makan bersama keluarga, kerabat dan para sahabat," jelas Sudhamek.

    "Hidangan yang umumnya ada saat makan bersama adalah ikan bandeng, pangsit dan aneka kue khas Imlek semisal kue nian gao atau kue keranjang," imbuhnya.

    Sudhamek menilai, berbagai simbol dan tradisi yang sering terlihat pada saat Tahun Baru Imlek ini, masing-masing memiliki makna sebagai pembawa keberuntungan dan harapan baik untuk tahun mendatang.

    "Ini adalah wujud dari tindakan dan komitmen Warga Negara Indonesia Tionghoa untuk tetap bersatu dalam kebinekaan Indonesia. Makna Kebinekaan sendiri berasal dari kata Bhineka yang artinya beraneka ragam, bermacam ragam," ujarnya.

    Baca juga : Doel Sumbang dan Panggung Ripuh Tembang Sunda

    Diperkirakan lebih dari 10.000 warga akan hadir dalam perayaan Imlek Nasional 2019. "Kepanitiaan juga melibatkan tokoh serta berbagai elemen masyarakat Tionghoa," jelasnya.

    Berdasar rilis yang di terima seluang.id, perayaan Imlek Nasional ini akan terlihat istimewa karena pilihan desain, susunan acara dan pesertanya dirangkai sedemikian rupa sehingga sesuai dengan temanya.

    "Warna dasar yang menjadi latar belakang acara ini adalah merah putih (dimensi kebangsaan) yang dirangkai dengan motif batik mega mendung (dimensi akulturasi budaya)," paparnya.

    Untuk itu, lanjut Sudhamek, rangkaian acara juga dibuat untuk menjiwai kesatuan dalam kebinekaan Indonesia. Misalnya, alat musik klasik Guzheng digunakan untuk mengiringi lagu-lagu kebangsaan Indonesia.

    Sebaliknya Kolintang digunakan untuk mengiringi lagu-lagu daerah Indonesia maupun lagu Mandarin. "Atraksi Barongsai juga ditampilkan bersama dengan Reog dan Ondel-ondel," ujarnya. "Aneka kuliner khas Tionghoa dan makanan dari berbagai daerah di Indonesia juga bisa dinikmati di sini," tambahnya.

    Menurut Sudhamek, festival ini terbuka untuk umum mulai pukul 10.00 - 22.00 WIB.

    Baca juga : Alun Sembalun Menyeka Air Mata

    Sudhamek, mewakili panitia berharap, Tahun Baru Imlek 2570 atau tahun 2019 Masehi ini menjadi lantunan kebaikan dalam spektrum yang lebih luas, sekaligus menjadi harapan bagi warga keturunan Tionghoa di Indonesia untuk turut berkontribusi dalam pembangunan bangsa dan negara Indonesia.

    "Suku Indonesia Tionghoa yang telah bergenerasi hidup di bumi Indonesia menjadikan Indonesia sebagai tanah kelahiran yang akan selalu dicintai dan diperjuangkan bersama," ungkapnya.

    "Untuk itu kami berharap Perayaan Imlek Nasional 2019 ini bisa menjadi momentum penting untuk Suku Indonesia Tionghoa dalam turut membangun Bangsa Indonesia yang besar, makmur, damai dan berkeadilan serta menjunjung tinggi toleransi dengan cara terus merajut kebinekaan dan memperkokoh persatuan Indonesia," pungkasnya.

    [Tulisan diolah dari rilis Panitia Perayaan Imlek Nasional]

    Dony P. Herwanto, documentary maker, peminum kopi yang setia dan pembaca buku. Menulis untuk menjaga kewarasan dan ingatan.

    (Visited 24 times, 1 visits today)
    Please follow and like us:

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here