Boy Candra, Novel Remaja, dan Minat Baca

: Dan Kegelisahan Seorang Pembaca Sastra

0
231
views
Boy Candra dan sejumlah novelnya. Sumber foto: www.iphincow.com
  • Artikel Amaliana Widya Utami
  • Saya tidak bisa begitu saja menceritakan kapan saya mulai senang membaca. Ini ibarat perlahan jatuh cinta kepada seseorang: saya tidak tahu kapan awalnya dan bagaimana kejadiannya. Saya hanya bisa menceritakan buku yang saya baca dan mengapa saya menyukainya.

    Saya memang senang membaca sejak kecil. Mula-mula buku cerita bergambar, komik, majalah anak-anak, buku cerita, lalu berpindah ke novel remaja. Beranjak dewasa, pelan-pelan saya beralih ke novel-novel tebal. Tinggal sesekali saya baca buku cerita anak, komik, atau novel remaja.

    Dua hari lalu, sepulang kerja saya ke toko buku di sebuah mal. Saya senang berkunjung ke toko buku. Kalau pas ada uang, buku yang memantik selera segera saya boyong ke kasir. Apabila isi dompet sedang sekarat, saya hanya mencatat buku yang memikat hati dan berharap kelak bisa saya borong ke rumah.

    Saya selalu merasa hidup ketika berada di tengah hamparan buku. Begitulah perasaan saya. Tiga buku berpindah ke tangan. Pertama, Angin Musim, sehimpun fabel anggitan Mahbub Junaidi. Kedua, Obrolan Sukab, kumpulan esai karya Seno Gumira Ajidarma. Ketiga, Malik dan Elsa, novel remaja karangan Boy Candra. Tiga buku berbeda warna, bukan? Setiba di rumah, saya segera melahap Malik dan Elsa.

    Tidak, ini tidak terkait dengan selera baca. Ini juga tidak terkait dengan serius membaca atau membaca serius, seperti dalam artikel saya yang berjudul “Serius Membaca ataukah Membaca yang Serius-serius?” di Kompasiana tempo hari. (Tulisan dapat dilihat di sini)

    Mendadak saya ingin membaca novel ringan: ketika saya baca maka saya tak perlu mengernyitkan kening dan setelahnya saya tersipu-sipu seolah sedang berada pada masa remaja. Malik dan Elsa berhasil saya khatamkan dalam kurun dua seperempat jam.

    Tentang Malik dan Elsa

    Boy Candra menemukan Malik dan Elsa seakan tanpa sengaja. Ia semacam menemukan suasana berbeda dari tiga belas buku yang lebih dulu ia karang. Tentu itu bukan sesuatu yang aneh dan ajaib, sebab ide memang sering datang tanpa diminta.

    Yang aneh dan ajaib justru karena Boy berhasil merampungkan penciptaan Malik dan Elsa. Tidak semua orang mampu mengeksekusi lintasan idenya menjadi sebuah karya.

    Selain itu, Boy menuntaskan penulisan novel tersebut tidak dalam suasana hening, tidak dalam sebuah tapa yang jauh dari hiruk-pikuk duniawi, tetapi di sela-sela kesibukannya selaku penulis. Konon, ada bagian yang ia tulis di perjalanan ketika menunggu pesawat atau saat rebahan seusai mengisi acara dalam rangkaian tur bukunya.

    Boy menata latar waktu dalam rentang yang singkat. Hanya delapan hari. Bermula pada hari pertama kuliah dan berakhir setelah masa “sepekan penarikan pajak makanan” usai. Latar tempat juga hanya sekitaran Padang: dari kampus ke kantin, dari pantai ke pantai, dari kos Malik ke rumah Elsa. Berputar di situ-situ saja.

    Ramuan plotnya sederhana, konflik ditata lewat dialog dan ala kadar narasi, serta akhir cerita yang sengaja digantung. Latar peristiwa dalam Malik dan Elsa juga ringan. Sebatas dunia remaja. Pada beberapa bagian, Boy (selaku pengarang) mengkritik kondisi bermasyarakat dan berbangsa.

    Sebagai novel remaja, Malik dan Elsa patut dibaca oleh khalayak. Bukan hanya pembaca remaja, melainkan pembaca dewasa yang barangkali ingin bernostalgia. Saya, misalnya.

    Itu sebabnya saya tabalkan novel setebal 188 halaman ini sebagai bacaan yang lentur. Mengapa lentur? Sekalipun Malik dan Elsa menyasar pembaca remaja, bukan berarti pembaca yang beranjak dewasa atau telah dewasa tidak cocok membacanya.

    Malik dan Elsa juga termasuk bacaan yang renyah. Keriuhan suasana kampus dan keriangan masa muda dapat membuat pembaca cengar-cengir, kekonyolan tokoh yang berpotensi mengantar pembaca pada laku cengengesan, atau malah menertawai diri sendiri karena merasa pernah melakukan ketengilan serupa semasa remaja.

    Terakhir, Malik dan Elsa tergolong bacaan yang menghibur. Tidak bisa dimungkiri, salah satu alasan pembaca meluangkan waktu bertualang dari halaman ke halaman dalam sebuah novel ialah demi mengalihkan diri dari penat hidup sehari-hari. Novel ini memenuhi unsur tersebut lantaran alir cerita dipenuhi kekonyolan yang jalin-menjalin.

    Saya tidak akan membocorkan alir kisah atau alur cerita novel ini, tidak. Biarkan pembaca lain bersua sendiri dengan pilinan nasib Malik dan Elsa, dua tokoh utama dalam novel ini.

    Tentang Novel Remaja dalam Belantika Sastra Indonesia

    Tidak sedikit teman yang mencibir ketika saya membaca novel remaja tatkala usia saya sudah tidak remaja. Seolah-olah novel remaja tabu dibaca oleh pembaca dewasa. Bagi saya, apa pun bacaan kita tetap berfaedah selagi kita mampu mengungkit pesan tersirat atau tersurat dari bacaan tersebut.

    Dengan kata lain, bacaan hanyalah jembatan. Agar saya bisa pindah ke seberang, hal pertama yang mesti saya lakukan adalah melangkah untuk menyeberang. Pembaca yang arif akan menyarikan bacaan, mengendapkan kisahan, lalu menemukan teladan.

    Sebuah novel remaja, termasuk Malik dan Elsa, sejatinya sangat berguna untuk merangsang minat baca kaum remaja. Ketika kita belajar mengendarai sepeda, kita mesti melatih keseimbangan dulu sebelum mengayuh kereta angin itu dengan kencang.

    Begitu pula dengan membaca. Jelas, tidak semua remaja serentak terpikat membaca Seratus Tahun Kesunyian-nya Gabriel Garcia Marquez. Jangan pula bermimpi semua “abege” serempak tergiur membaca Obrolan Sukab-nya Seno atau Angin Musim-nya Mahbub.

    Sudi membaca saja kabar elok yang menyenangkan. Perihal apa yang mereka baca dan bagaimana membacanya itu perkara lain. Maka dari itu, keberadaan novel remaja seyogianya tidak perlu dicibir apalagi dicaci. Sebab, suka tidak suka, kita mesti mengakui bahwa novel remaja mampu mencungkil minat baca kaum remaja. Bagi saya, itulah sumbangsih penting dari novel remaja.

    Tentang Manfaat Membaca Novel

    Daripada kaum ramaja sibuk dengan hal-hal yang sepele, tiada salahnya mereka membaca novel remaja. Daripada kita sibuk mencibiri novel remaja, lebih baik kita tuturkan manfaat membaca novel kepada kaum remaja. Setidaknya ada lima manfaat membaca novel, baik bagi para remaja maupun yang telah dewasa.

    Pertama, melatih daya ingat. Anne Cunningham dalam makalahnya, What Reading Does for the Mind menegaskan bahwa membaca dapat membantu otak untuk menyimpan informasi. Ketika seorang remaja membaca maka ia punya lebih banyak waktu untuk memikirkan, memahami, dan menelaah sesuatu. Artinya, membaca dapat merangsang ingatannya.

    Kedua, memperkuat mental. David Lewis, neuropsikolog kognitif dari Universitas Sussex dalam tulisannya Reading Can Help Reduce Stress menyatakan bahwa membaca dapat mengurangi stres hingga 68%. Mendengarkan musik mengurangi stres sebanyak 61%, secangkir kopi menurunkan stres hingga 54%, berjalan hanya 42%, dan bermain video game hanya menurunkan kadar stres sebesar 21%. Jadi, dukunglah remaja yang rajin membaca novel supaya kadar stresnya menurun.

    Ketiga, mengasah imajinasi. Ketika membaca novel, sebenarnya kita sedang menempatkan diri ke dalam tokoh-tokoh dalam cerita yang kita baca. Itu berarti kita tengah mengasuh imajinasi, mengasah kecerdasan emosional, dan merawat kepekaan.

    Begitu hasil penelitian Brain Connectivity yang dilansir dalam jurnalnya pada 2014 lalu.

    Keempat, merawat kesehatan otak. Membaca merupakan aktivitas penting yang sangat berguna bagi kesehatan otak kita. Makin rajin membaca berarti kian besar peluang kita terhindar dari serangan demensia, alzeimer, atau penurunan kualitas otak lainnya.

    Kelima, memperkaya otak. Ketika kita membaca berarti kita sedang menimbun “harta karun kosakata” ke dalam benak. Kosakata itu dapat memengaruhi kemampuan berkomunikasi kita, baik verbal maupun nonverbal, sehingga gagasan kita tersampaikan dengan baik. Carol Fitzgerald, peneliti dari Book Report Network menegaskan bahwa cerita pada sejumlah halaman novel akan membuka dan menyingkap pikiran pembaca.

    Berdasarkan lima manfaat membaca novel tersebut, sangatlah bijak apabila kita mendukung gairah remaja untuk membaca novel alih-alih mengolok-olok apa yang mereka baca. Sudah untung mereka mau membaca. Biarkan mereka tumbuh seperti akar, merambat ke mana-mana di dalam tanah, lalu menyebar makanan ke batang demi menyuburkan pohon.

    Tentang Kelemahan Novel Remaja

    Mengingat pentingnya kehadiran novel remaja dalam menumbuhkan minat baca kaum remaja, mestinya penulis, penyunting, dan penerbit lebih berhati-hati dalam mengemas novel. Harus disadari bahwa kekuatan fiksi terkandung sama besarnya dalam apa yang disiratkan dan apa yang disuratkan. Dengan kata lain, kekuatan fiksi itu terletak dalam ruang antarkata dan dalam kata-kata itu sendiri.

    Terkait Malik dan Elsa, terdapat ketidaktepatan penulisan ejaan dan ketidakakuratan pemilihan kata. Sebenarnya kekurangan serupa hampir menimpa semua novel remaja, termasuk bacaan remaja yang bertebaran di internet. Khusus kecermatan pengaitan kisah, Malik dan Elsa lolos dari cacat lubang pengisahan.

    Latar waktu, tempat, dan sejarah tertata dengan baik. Namun, Malik dan Elsa sarat akan kesalahan dalam urusan ketepatan penulisan ejaan dan keakuratan pilihan kata.

    Mari kita sisir isi novel ini.

    1. Pada halaman 12 terdapat kata “pintas” dan kata “lanjut” di halaman 23 di akhir dialog. Kedua kata tersebut tidak tergolong ungkapan yang bersinonim dengan katanya, ucapnya, sahutnya, atau ujarnya, sehingga keliru bila dipakai sebagai penanda akhir petikan dialog.

    2. Terdapat tanda koma (,) di halaman 23 pada petikan yang mestinya sudah diakhiri dengan tanda titik (.). Hal serupa terjadi pula pada halaman 2, 6, 9, 12, 39, 41, 68, dst.

    3. Berikut contoh dialog pada halaman 6. “Iya,” jawabku tenang, “Jengkol adalah penyebab penjajah datang ke Indonesia.” Kata tenang sudah diikuti tanda koma (,) sehingga jengkol seharusnya tidak didahului dengan huruf kapital. Seharusnya: “Iya,” jawabku tenang, “[j]engkol adalah penyebab penjajah datang ke Indonesia.” Beda perkara bila tenang diikuti oleh tanda titik (.) seperti contoh ini. “Iya,” jawabku tenang[.] “Jengkol adalah penyebab penjajah datang ke Indonesia.”

    4. Alih-alih memakai kata bajay yang lumrah digunakan orang, dalam Malik dan Elsa tertera kata bajaj yang sesuai dengan EBI. Sayang sekali, pada sisi lain ada kata mall (mestinya mal) atau saut (seharusnya sahut).

    Itu hanya sedikit di antara kesalahan dasar yang tidak sedikit. Kesalahan serupa juga terjadi dalam banyak novel remaja. Kebetulan saja saya tengah mengulik Malik dan Elsa setelah membacanya dengan riang hati.

    Mungkin kekeliruan seperti itu bukan perkara besar bagi segelintir orang. Padahal, berbahaya. Kenapa? Pembaca yang notabene didominasi kalangan remaja boleh jadi mengira cara penulisan seperti itu sudah benar, kemudian mereka tiru maka tersesatlah mereka.

    Penulis, penyunting, dan penerbit barangkali tanpa sengaja melakukan dua kesalahan yang dapat: menjerumuskan pembaca sekaligus mengancam keselamatan bahasa Indonesia. Kesalahan tersebut mestinya bukan tanggung jawab penulis belaka, sebab ada penyunting dan pemeriksa aksara yang bertugas secara khusus untuk menghindari kekeliruan sereceh itu.

    Di sini jelas terlihat pentingnya penerbit memiliki editor bahasa yang cakap, cermat, dan cekatan dalam memeriksa buku sebelum dilansir ke pangkuan pembaca.

    Meski demikian, andaikan kesalahan-kesalahan mendasar tersebut kita abaikan, Malik dan Elsa amat layak dibaca oleh pembaca remaja atau siapa saja yang ingin bertamasya ke masa remajanya.

    Tentang Kegelisahan Pembaca

    Tinjauan (review) saya terhadap novel Malik dan Elsa ini sejatinya merupakan kegelisahan saya atas pandangan segelintir orang yang kerap mencemeeh novel remaja. Terkadang sesuatu yang remeh justru, tanpa kita sadari, menghadirkan manfaat yang amat besar.

    Meski begitu, saya berharap agar penulis dan pihak penerbit tidak meremehkan perkara-perkara sederhana. Sebut contoh, kesalahan penulisan. Mengapa? Karena kekeliruan penulisan berpotensi dicontoh atau ditiru oleh pembaca.

    Semoga Boy Candra dan pengarang novel remaja yang lain terus gigih dan kukuh berkarya. Semoga pula penyunting dan penerbit bersedia memperhatikan kaidah penulisan, bukan sekadar menaksir laku atau tidaknya sebuah buku.

    [Tulisan ini ditayangkan ulang dari Blog Kompasiana atas restu penulisnya]

    [Penulis adalah seorang karyawati dan penulis aktif di Kompasiana. Perempuan berdarah Sunda bermata sendu]

    (Visited 102 times, 1 visits today)
    Please follow and like us:

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here