Pemberitaan Bunuh Diri Rentan Werther Effect

AJI Jakarta: Pengetahuan Jurnalis Terhadap Isu Bunuh Diri Masih Rendah

0
177
views
Ilustrasi. Karya Graditio
  • Artikel Dony P. Herwanto
  • Informasi bunuh diri yang rinci dan pemberitaan yang berulang-ulang, bisa menjadi salah satu pemicu orang dengan depresi atau dengan masalah serupa untuk melakukan bunuh diri. Efek ini dinamakan Werther Effect.

    Pemberitaan bunuh diri tidak bisa disamakan dengan berita pada umumnya, karena berpotensi menyebabkan bunuh diri tiruan. Mirisnya, ini yang kerap terjadi dan paling banyak menjadi pemicu.

    Aliansi Jurnalis Independen Jakarta dalam rilis yang diterima redaksi seluang.id menyayangkan, masifnya foto dan video adegan bunuh diri yang tersebar luas di media sosial tanpa henti-henti.

    Peristiwa bunuh diri secara jelas dapat memunculkan rasa ngeri, dan berpotensi menimbulkan trauma yang mengganggu kesehatan jiwa bagi masyarakat juga keluarga korban.

    Dari sisi pemberitaan, umumnya media massa menguraikan metode atau cara bunuh diri dengan rinci. Media massa juga secara absolut menyebutkan penyebab tunggal hingga penggambaran kondisi korban secara mengerikan.

    Seperti yang tertulis dalam rilis tersebut, pengemasan pemberitaan jurnalistik seperti ini tentunya melanggar Kode Etik Jurnalistik terkait larangan pemberitaan yang sadis dan itikad buruk.

    "Pemberitaan tersebut justru keluar dari koridor fungsi pers sebagai penyampai edukasi ke publik," kata Anggota Divisi Gender, Anak dan Kelompok Marjinal AJI Jakarta, Widia Primastika.

    Berkaca dari pemberitaan dan peristiwa bunuh diri di sejumlah tempat, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta, Komunitas Into The Light dan LBH Pers melakukan survei tentang pengetahuan jurnalis tentang isu bunuh diri.

    “Berdasarkan survei yang diikuti 132 jurnalis dari 83 media di Indonesia menunjukkan pengetahuan jurnalis terhadap isu bunuh diri masih rendah,” paparnya.

    Dalam penelitian yang dimulai sejak Januari – Februari 2019, penyelenggara mengelompokkan jurnalis ke dalam 3 kategori, yakni muda (bekerja 1-5 tahun) sebanyak 53%, madya (bekerja 6-10 tahun) sebanyak 45%, dan utama (bekerja lebih dari 10 tahun) sebanyak 32%.

    “Hasilnya, mayoritas jurnalis kategori muda setuju, kematian akibat bunuh diri lebih layak diberitakan daripada menginformasikan tentang pemikiran dan perencanaan bunuh diri seseorang. Sementara, sebagian besar jurnalis kelompok madya menganggap kejadian bunuh diri dari tokoh publik adalah hal yang luar biasa,” kata Primastika.

    Sementara itu, Pengurus Komunitas Into The Light Venny Asyita menyebutkan, “Secara umum, setiap jurnalis perlu memiliki pedoman pemberitaan bunuh diri untuk meminimalisasi dampak dari kejadian bunuh diri.”

    Venny juga mengatakan, penelitian ini dilakukan karena peran jurnalis sangat penting dalam memahami isu bunuh diri.

    “Pemberitaan bunuh diri dengan memunculkan metode yang jelas dan dramatis membuat masyarakat gelisah. Apalagi ditambah penggunaan media sosial yang semakin liar,” katanya.

    Pengacara LBH Pers, Gading Yonggar Ditya mengatakan, pers nasional memiliki fungsi sebagai media informasi dan pendidikan. Hal tersebut sebagaimana diatur dalam Pasal 3 UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers.

    “Di kalangan pekerja media, isu bunuh diri memang hal yang asing, tapi kami melihat bahwa semakin banyak pengalaman yang dimiliki jurnalis akan meningkatkan pengetahuan mereka terhadap isu umum bunuh diri yang salah,” kata Gading.

    Jurnalis, tambah Gading, juga harus menyadari Pasal 8 ayat 7 UU No. 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa yang mengamanatkan media massa untuk turut berperan dalam upaya promotif kesehatan jiwa.

    “Komentar negatif dalam peristiwa bunuh diri dapat membuat orang dengan kecenderungan bunuh diri dan depresi enggan mencari bantuan lantaran takut terkena stigma dan penghakiman dari orang banyak,” pungkasnya.

    [Tulisan diolah dari rilis AJI Jakarta]

    Dony P. Herwanto, documentary maker, peminum kopi yang setia dan pembaca buku. Menulis untuk menjaga kewarasan dan ingatan.

    (Visited 83 times, 1 visits today)
    Please follow and like us:

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here