Cerita Dua Tahun Ambarila

Kenekatan itu menggelinding bagai bola salju, mempertemukan Ambarila dengan sahabat-sahabat hebat yang lainnya.

0
85
views
Kolektif Folk Bogor Ambarila. Foto : @safensound
  • Artikel Rila Kristanti
  • Dua tahun lalu kolektif Ambarilla memulai petualangan nada pertamanya. Semua mengalir lirih tak terencana, rasanya perlu bersyukur berkat campur tangan Tuhan kami dipertemukan untuk membuat karya senyatanya. Karya sebagai Ambarila.

    Saya tak menyangka, pesan suara yang terkirim pada 14 Februari 2016, yang berisi ucapan hari kasih sayang ke sebuah grup whatsapp, direspon kolega menjadi karya pertama.

    Soponyono (siapa sangka), nada dan lirik random itu disambut dengan chord mistis Ambarahandy, seniman petik yang lantas memolesnya menjadi lagu bertajuk “Black Valentine”. Kesan yang begitu mendalam, memaknai perjalanan musik yang entah apa sebutannya. Memulai dan memulai, hanya itu yang ada dalam benak kami.

    Yah…kami merasa perlu meneruskan kolaborasi energi itu. Lantas bergulirlah curahan nada, sebagaimana yang beredar selama ini. Kami susun “Bawang Merah Bawang Putih”, “Lullabi”, “Paradise”, dan banyak lagi lainnya. Proses sederhana dengan dukungan ala kadarnya.

    Masih terbayang Ambarahandy yang memanfaatkan pensil alis bundanya untuk kapo gitar demi mengalirkan nada-nada penting. Dan saya, Rila Kristanti bernyanyi menggenapkan proses kreatif itu, membuat harapan yang tadinya redup menjadi lebih hidup.

    Dari mulai tampil sekedarnya di titik-titik skena (tongkrongan), julukan “Ambarila” melekat kuat, hingga menguatkan niat memiliki perangkat gitar dan ukulele yang lebih baik. Hasilnya, mini album di atas berhasil kami rekam di fakehero records. Terimakasih kerabat dan sahabat atas dukungannya.

    Baca juga : "Seperti Api" Misi Rock Ketiga Seringai

    Kenekatan itu menggelinding bagai bola salju, mempertemukan Ambarila dengan sahabat-sahabat hebat yang lainnya, bahkan ikut andil dan menjadi bagian dari perjalanan pintas kami yang mendadak musisi.

    Kemarin, tepat di Tanggal 14 February 2018, Ambarila merayakan ulang tahunnya yang ke dua. Lagi lagi dengan bantuan tangan sahabat kami dipertemukan dengan team kerja Bengkel TigaDanEmpat di Cibinong. Mereka dengan baik hati mempersilahkan panggung acara #Nyorediwarung di Warung di Bengkel menjadi saksi milestone penting Ambarila di tahun kedua ini.

    Beruntung, kami bermain dengan balutan sound Bensnrecord yang membuat larut dalam syahdu, bersyukur dan berbahagia.

    Kami membawakan 12 lagu dari album pertama yang masih dalam proses memasak di dapur rekaman. Penampilan Ambarila dibantu additional gitar Refun Alfiansyah dan berkolaborasi dengan salah satu storyteller handal, Charissa.

    Kami memang tengah menjajagi konsep mendongeng dengan nyanyian, nuansa dunia Ambarila yang ‘dreamy’ dan ‘fairy tale’ dengan cantik bisa disuguhkan. Hujan petir diluaran sempat membuat suasana tercekat untuk sesaat. Acara yang molor sedikit dari publikasi bisa kami maklumi. Toh secara keseluruhan momentum ulang tahun Ambarila yang kedua malam itu sungguh magical.

    Kami terharu dengan sambutan hadirin yang larut dalam lagu-lagu dan puisi. Setelah tampilan kami, penonton yang sebelumnya terpaku diam mendadak ‘open mic’ dan membacakan puisi-puisi nanindah, klaimnya mereka terinspirasi katanya. Ah…Senang sekali menjadi berarti.

    Baca juga : Menutup Sabtu dengan Senar Senja, Enau, Hivi dan Naif

    Kami akui pengalaman malam itu sangatlah membahagiakan, selamat ulang tahun Ambarila semoga karya kami terus berkumandang hingga ulang tahun-ulang tahun berikutnya.

    [Penulis adalah penyumbang suara utama dari kolektif Ambarila dan Imagi Nakal. Berkarya untuk kebaikan dunia]

    Artikel "Cerita Dua Tahun Ambarila" merupakan konten kolaborasi dengan HujanMusik!. Konten serupa bisa dilihat di sini

    (Visited 19 times, 1 visits today)
    Please follow and like us:

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here