Lewat Vlog, Suarakan Perubahan Iklim

Kampanye perubahan iklim melalui (vlog) dengan pertimbangan, sebaran informasi yang relatif mudah diakses, karakteristik dan tingginya angka pengguna media sosial di Indonesia

0
186
views
Putri Damayanti Potabuga menyampaikan materi dalam workshop Climate Vlogger di Manado. Foto : Climate Institute/Mongabay Indonesia
  • Artikel 
  • Sebagai upaya melibatkan generasi muda dalam kampanye perubahan iklim, Climate Institute dan Friedrich Naumann Stiftung (FNF) Indonesia menggelar workshop Climate Vlogger di kota Manado, Sulawesi Utara, 25-27 Februari 2019.

    Lewat kegiatan itu, mereka berharap, generasi muda dapat memanfaatkan platform media sosial untuk menyuarakan pentingnya penyelamatan bumi.

    Workshop Climate Vlogger telah diselenggarakan di empat kota yaitu Tangerang, Solo, Yogyakarta dan Manado, dengan total peserta mencapai 84 orang.

    Dalam kegiatan tersebut peserta dilatih membuat konten video, teknik pengambilan gambar, hingga cara mendesain kampanye yang efektif.

    Selain itu, mereka juga dibekali topik perubahan iklim dan masalah lingkungan di daerah masing-masing.

    Kampanye perubahan iklim melalui Video Blog (Vlog) didasari beberapa pertimbangan, misalnya sebaran informasi yang relatif mudah diakses, serta karakteristik dan tingginya angka pengguna media sosial di Indonesia.

    “Sebelum ini, kami sudah bikin beberapa pelatihan, misalnya Urban Green Life Style. Dari situ kami berpikir, generasi milenial dan generasi z adalah generasi yang tipikalnya visual" jelas Putri Damayanti Potabuga, salah satu pendiri Climate Institute, belum lama ini.

    "Jadi, kampanye perubahan iklim bisa dilakukan dalam berbagai bentuk, salah satunya dengan Vlog,” sambungnya.

    Baca juga : Pembangunan Rendah Karbon untuk Mengerem Perubahan Iklim

    Penggunaan platform media sosial seperti Youtube dan Instagram diyakini memliki beberapa keuntungan seperti, ruang yang lebih luas untuk menyalurkan kreatifitas, sebaran informasi yang relatif mudah ke jaringan atau komunitas di daerah tertentu, serta membuka peluang ekonomi.

    “Tapi titik tekannya adalah kampanye perubahan iklim dan persoalan lingkungan di Indonesia. Mereka tidak hanya membuat video yang berat-berat, bisa lucu tapi tidak mengecilkan isu perubahan iklim,” tambahnya.

    Kedepannya, Climate Institute akan menggelar kegiatan serupa, namun melibatkan Vlogger profesional untuk menyebarkan isu perubahan iklim dan persoalan lingkungan di Indonesia dan dunia.

    “Kami akan ajak dan membagi pengetahuan tentang isu perubahan iklim dan masalah lingkungan pada Vlogger profesional,” kata Putri kepada Mongabay.

    “Kami menyarasar generasi muda untuk menjadi agen perubahan, mulai dari dalam rumahnya sendiri," sambungnya.

    Sebelum mengikuti workshop Climate Vlogger, peserta diwajibkan membuat video berdurasi 1 menit.

    Syarat tadi menjadi cara untuk mengukur progres peserta, dengan membandingkan video yang dibuat sebelum dan setelah mengikuti workshop.

    Melalui workshop Climate Vlogger, peserta diharap dapat memberi perspektif baru dan mendorong generasi muda untuk lebih berkontribusi dalam kampanye penyelamatan lingkungan.

    “Setelah ikut kegiatan mereka tahu dan makin bertambah pemuda-pemudi yang menyuarakan perubahan iklim lewat Vlog,” kata Putri.

    Baca juga : Suara Masyarakat Adat Untuk Aksi Global Perubahan Iklim

    E-book Blue Carbon

    Selain melibatkan generasi muda dalam kampanye perubahan iklim, Climate Institute dan FNF Indonesia juga merilis e-book berjudul “Blue Carbon dan Perubahan Iklim”.

    Mereka percaya, karbon biru adalah bagian penting dalam pengendalian emisi karbon di Indonesia.

    Pembuatan e-book itu beranjak dari penilaian bahwa, dalam tiga dekade terakhir, Indonesia telah kehilangan seperempat hutan mangrove, juga puluhan ribu hektar area karbon biru tiap tahunnya.

    Dampaknya, pemanasan global akibat perubahan iklim berpotensi menimbulkan bencana di berbagai wilayah di seluruh dunia.

    Padahal, luasnya wilayah pesisir Indonesia dapat dimanfaatkan untuk mengelola karbon biru. Sebab, ekosistem seperti mangrove, padang lamun dan rawa payau, mampu menyerap dan menyimpan karbon dalam kurun waktu lama.

    “Jika dikelola dengan baik, blue carbon di Indonesia berkontribusi mempercepat penurunan emisi sesuai Nationally Determined Contributions (NDP) dan target penurunan emisi lebih maksimal dari 29 persen pada 2030,” terang Adhitya Lanae, penulis e-book tersebut.

    Dalam buku itu Adhitya juga menerangkan fungsi ekologi mangrove sebagai pelindung wilayah daratan dari terjangan ombak, habitat berbagai hewan laut hingga kemampuannya untuk memelihara kualitas air.

    Dari sisi ekonomi, mangrove dapat dimanfaatkan sebagai berbagai olahan pangan hingga dijadikan kawasan ekowisata.

    Pada tahun 2017, contohnya, FNF Indonesia dan Climate Institute sempat melakukan studi ke Bali dan Semarang.

    Di kampung kepiting, Bali, warga memanfaatkan lahan mangrove untuk budidaya kepiting serta membuat produk olahan seperti sirup mangrove yang kaya akan vitamin C.

    Sedangkan di Semarang, hutan mangrove dijadikan kawasan ekowisata. Pengunjung mendapat edukasi mengenai mangrove sambil mengitari kawasan itu. Wisatawan juga diajak menanam mangrove.

    “Selama tidak merusak ekosistem, pemanfaatan mangrove untuk mendapatkan keuntungan materi tentunya sah-sah saja. Adanya keuntungan ekonomi akan memotivasi warga untuk lebih giat menjaga dan melestarikan hutan mangrove,” tulis Adhitya Lanae dalam e-book itu.

    Meski demikian, kata Adhitya kepada Mongabay, diperlukan kolaborasi yang baik antara pemerintah, swasta dan warga lokal, dalam pemanfaatan mangrove untuk peningkatan ekonomi.

    Ekowisata juga harus diikuti manajemen yang rapi serta melibatkan wisatawan dalam kegiatan perlindungan dan perbaikan kawasan mangrove.

    Baca juga : Reforma Agraria untuk Keadilan Sosial dan Kesejahteraan

    Peluncuran e-book tersebut diharap dapat memberi kontribusi positif bagi keberlangsungan lingkungan hidup di Indonesia, serta memberi sumbangan ide pada pembaca.

    Sebab, kurangnya pemahaman tentang perubahan iklim, upaya mitigasi dan adaptasi menjadi kendala untuk mengurangi emisi karbon.

    Adhitya menilai pemanfaatan media sosial merupakan salah satu cara untuk mengurangi emisi karbon. Atas dasar itu, buku “Blue Carbon dan Perubahan Iklim” diterbitkan dalam format e-book.

    “Kami, di Climate Institute, punya misi mengurangi plastik dan kertas. Jadi kami bikin e-book. Gratis di download di situs FNF indonesia,” pungkasnya.

    [penulis adalah kontributor Mongabay Indonesia di Manado]

    Artikel "Lewat Blog, Suarakan Perubahan Iklim" merupakan konten kolaborasi dengan Mongabay Indonesia. Konten serupa bisa dilihat di sini

    (Visited 39 times, 1 visits today)
    Please follow and like us:
    error

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here