Jangan Biarkan Waduk Sepat Mengering Seperti Air Mata Kami

Bebaskan Dian Purnomo dan kawan-kawan dari segala tuntutan hukum demi keadilan

0
70
views
Salah seorang peserta aksi mengangkat poster bernada protes kepada Pemerintah Kota Surabaya atas penangkapan dan kriminalisasi warga yang berjuang menuntut haknya, hak mendapatkan ruang hidup yang semestinya. Sumber foto: www.change.org
  • Artikel Dony P. Herwanto
  • Ini adalah kisah perjuangan warga Dukuh Sepat melawan kekuatan besar yang tak terlihat dari Ciputra. Kisah tentang pemutarbalikan fakta yang dilakukan pemodal besar terhadap rakyat kecil. Kisah tentang penangkapan warga yang berjuang menyelamatkan lingkungan hidupnya.

    Begini kisahnya:

    Bagian Pertama: Awal Mula Peristiwa

    Rabu 6 Juni 2018, sekira pukul 19.00 wib, warga Dukuh Sepat RW III dan RW V, Kelurahan Lidah Kulon, Kecamatan Lakarsantri, Surabaya mendengarkan aliran air yang cukup deras.

    Saat peristiwa itu terjadi, beberapa warga sedang menjalankan salat tarawih, di area dekat waduk Sepat.

    Beberapa warga curiga jika air tersebut berasal dari Waduk Sepat. Setelah salat tarawih, beberapa warga mencoba menelusurinya.

    Ternyata, suara gemuruh air yang didengarkan jamaah salat tarawih benar berasal dari Waduk Sepat.

    Karena melihat volume sungai terus beranjak naik, pada pukul 20.30 WIB, sejumlah warga memutuskan untuk memasuki area Waduk Sepat.

    Kurang lebih ada sekitar 100 warga yang berbondong-bondong masuk area Waduk Sepat tersebut.

    Setelah melewati pintu sebelah timur yang dibuat oleh pihak Ciputra, warga menuju ke pintu atas yang merupakan akses utama menuju Waduk Sepat.

    Anehnya, pintu di atas tersebut telah terbuka sebelum warga memasuki area Waduk Sepat. "Ada seorang penjaga Waduk Sepat yang lebih dulu masuk" kata salah seorang warga.

    Setelah itu, sekira pukul 21.00 WIB, warga melihat plat penahan air atau pintu air terpotong secara misterius. Warga makin yakin, jika suara gemuruh air memang benar berasal dari Waduk Sepat.

    Terpotongnya pintu air tentunya menimbulkan kecurigaan warga, bahwa ada upaya pengeringan Waduk Sepat secara paksa.

    Keadaan tersebut memicu inisiatif dari warga untuk menutup pintu air secepatnya, agar Waduk Sepat tidak mengering.

    Sebelumnya pukul 21.00 wib, beberapa warga terlebih dahulu berkoordinasi dengan LPMK (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan) Lidah Kulon.

    Saat itu, setelah mendengarkan aduan warga RW III dan RW V, Ketua LPMK Lidah Kulon justru menyarankan untuk bertemu di lokasi Waduk Sepat secara langsung.

    Atas dasar inilah, warga akhirnya berbondong-bondong memasuki Waduk Sepat melalui pintu utama.

    Setelah di dalam waduk, salah seorang warga kemudian menghubungi Polsek Lakasantri dan Camat Lakasantri untuk datang ke lokasi, guna koordinasi lebih lanjut.

    Tidak lama kemudian, tepat pukul 21.30 wib, dari arah utara, petugas Polsek Lakasantri, LPMK dan pihak kecamatan tiba di lokasi.

    Tak lama, Warga, petugas Polsek Lakasantri, LPMK, petugas jaga Waduk Sepat, dan pihak kecamatan memasuki dan mengecek pintu air waduk Sepat.

    Warga menemukan bahwa pintu penutup air di bagian bawah ternyata sengaja dipotong, sehingga tidak bisa ditutup kembali.

    Melihat keadaan tersebut, warga berkordinasi dengan Polsek Lakasantri, Camat Lakasantri dan pihak Ciputra yang diwakili oleh pihak keamanannya.

    Pihak keamanan Ciputra, LPMK dan perwakilan kecamatan, kemudian berdialog dengan warga. Terjadi perdebatan yang cukup alot, karena pihak keamanan Ciputra dan aparat terkait, menjanjikan akan menutupnya pada keesokan harinya.

    Dalih yang dipakai oleh pihak terkait ialah harusnya mencari plat pengganti, untuk menutup pintu air yang rusak tersebut.

    Warga menolak. Karena memang tak ada pilihan lain selain sesegera mungkin menutup pintu utama agar air di Waduk Sepat tidak mengering. "Kami berdiri dengan keputusan yang tepat," ungkap salah seorang warga.

    Kurang lebih pukul 22.00 WIB, pihak kemanan Ciputra sepakat untuk membuatkan penutup pintu air yang sudah dipotong. Akan tetapi, setelah menunggu hampir tiga jam, penutup pintu air tersebut tidak kunjung datang.

    Mendapati ketidakpastian dalam tempo yang lama, sekira pukul 24.00 wib, warga berinisiatif menutup sementara pintu air itu dengan tanah seadanya. "Tujuan kami agar air tidak keluar terus," tegas warga.

    Setelah berselang satu jam, tepatnya pada pukul 01.00 WIB, warga meninggalkan lokasi kejadian, karena pintu air yang semula terbuka sudah tertutup. Meski hanya dengan tanah. Jelas, ini tidak kuat.

    "Perlu dicatat, tidak ada perusakan apapun yang dilakukan oleh warga saat berada di lokasi Waduk Sepat," kata Rere dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia - Jawa Timur.

    Bagian Kedua: Peristiwa Kriminalisasi

    Tanpa diduga sebelumnya, pada tanggal 27 Juli 2018 dan 3 Agustus 2018, empat warga Waduk Sepat yaitu Rokhim, Darno, Suherna dan Dian Purnomo, diperiksa oleh Polda Jatim sebagai saksi atas laporan dugaan telah memasuki pekarangan milik PT. Ciputra tanpa ijin yang berhak dan melakukan perusakan barang milik orang lain secara bersama-sama.

    Jika dugaan itu terbukti, maka Darno dkk akan dijerat pasal 167 dan 170 KUHP.

    Pasca pemeriksaan, tepatnya pada tanggal 7 November 2018, Dian Purnomo dan Darno ditetapkan sebagai tersangka, atas delik tuduhan melakukan perusakan properti Ciputra di Waduk Sepat berupa pintu.

    Senin, 11 Maret 2019, selepas dilakukan pemeriksaan di Kejaksaan Negeri Surabaya, Dian Purnomo dan Darno langsung ditahan.

    Bagian Ketiga: Perampasan Ruang Hidup Warga Perkotaan

    Lahan Waduk Sepat pada mulanya adalah merupakan Tanah Kas Desa (TKD), yang berbentuk lahan waduk, dengan luas sekitar 6,675 Hektar dan terletak di wilayah RW 03 dan RW 05 Dukuh Sepat.

    Lahan tersebut merupakan hak kolektif masyarakat Dukuh Sepat yang telah dikelola secara turun temurun.

    Menurut warga, Waduk Sepat memiliki hubungan yang kuat dengan jati diri warga sekitar. Selain memiliki sisi inheren dengan nilai kultural, ekonomi dan sosial, Waduk Sepat juga merupakan benteng pertahanan ekologis urban, yang semakin tersisih dari ekosistem perkotaan di tengah laju industri properti yang semakin brutal.

    Selain sebagai ruang sosial, dan memiliki nilai sejarah yang tinggi, waduk ini juga punya fungsi lain, yakni sebagai tempat bersinggahnya burung-burung dan beberapa jenis habitat liar lain.

    Akan tetapi, dalam perjalanannya, sejarah sosial dan keterikatan batin warga terhadap Waduk Sepat harus terputus pasca pemerintah Kota Surabaya melepaskan lahan Waduk Sepat tersebut kepada PT Ciputra Surya, Tbk dengan Surat Keputusan Walikota Surabaya No. 188.45/366/436.1.2/2008, atas persetujuan DPRD Kota Surabaya dengan Surat Keputusan No. 39 Tahun 2008.

    Buntutnya, pasca keluarnya surat keputusan tersebut, kini seluruh areal lahan Waduk Sepat dipagar keliling oleh pihak PT. Ciputra.

    Bahkan pada 14 April 2015 silam, pihak Ciputra dibantu oleh aparat kepolisian melakukan eksekusi atau pengosongan paksa lahan Waduk Sepat tersebut, sehingga beberapa warga mengalami luka-luka dan terdapat barang-barang milik warga di lokasi yang dirusak.

    WALHI Jatim dan warga Sepat menduga, pelepasan lahan Waduk Sepat tersebut akan mengarah pada alih fungsi Waduk Sepat menjadi kawasan perumahan mewah, seperti dalam kasus-kasus pelepasan waduk lainnya di Surabaya.

    "Akibatnya peyempitan ruang hidup warga perkotaan terus meluas," ungkap Rere.

    Menurut WALHI Jatim, persoalan penyempitan ruang hidup warga perkotaan di Surabaya ini, dapat terlihat secara nyata pada pola penguasaan lahan kota yang terus masif berpindah tangan kepada pengusaha properti.

    Pola yang demikian, masih menurut WALHI Jatim, bahkan terus mendominasi dan merampas beberapa aset milik publik yang selanjutnya memicu konflik sosial dan perlawanan dari warga.

    Kelompok Ciputra, misalnya, hingga Juni 2015, telah menguasai 5.325 hektar lahan di wilayah perkotaan; lahan-lahan tersebut sebelumnya adalah milik warga.

    Pakuwon Grup, juga menguasai sekitar 330 hektar untuk pengembangan perumahan Grand Pakuwon Surabaya Barat.

    Sementara Sinarmas, menguasai 120 hektar dalam pengembangan perumahan Bukit Mas I dan II.

    Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung, Undang-Undang Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang serta Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 12 Tahun 2014 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Surabaya Tahun 2014-2034 menyebutkan bahwa Waduk/Telaga/Boezem adalah kawasan lindung dan dengan jelas dinyatakan bahwa “Di dalam kawasan lindung dilarang melakukan kegiatan budi daya, kecuali yang tidak mengganggu fungsi lindung,” (Pasal 37 ayat 1 Keppres 32/1990).

    Usaha pengurukan Waduk Sepat, penebangan pohon di sekitar waduk serta pemagaran yang dilakukan PT Ciputra Surya saat ini bukan saja menganggu fungsi lindung dari Waduk Sepat, namun juga ditengarai kuat merusak fungsi lindung kawasan tersebut.

    Perjanjian "tukar guling" antara Pemerintah Kota dan PT Ciputra Surya atas lahan waduk sepat merupakan tindakan yang inkonstitusional karena tidak mematuhi Undang-undang serta peraturan yang ada.

    Selain itu kriminalisasi yang menimpa warga Sepat ini juga menunjukkan sebuah cerita pilu sang pejuang lingkungan di Indonesia.

    Ini sekaligus merobek-robek nilai dan semangat yang telah tertuang dalam pasal 66 UU Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH).

    Sebagaimana diketahui bunyi pasal 66 tersebut adalah “Setiap orang yang memperjuangkan hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat tidak dapat dituntut secara pidana maupun digugat secara perdata”.

    Maka dari itulah, ini bunyi tuntutan WALHI Jatim dan warga di sekitar Waduk Sepat. Dengarlah tuntutan ini: Hentikan kriminalisasi terhadap warga Sepat. Bebaskan Dian Purnomo dari segala tuntutan hukum demi keadilan. Pertahankan Fungsi Kawasan Lindung Waduk Sepat dan Kembalikan Waduk Sepat kepada warga.

    [Tulisan diolah dari rilis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia-Jawa Timur dan beberapa sumber lainnya]

    Dony P. Herwanto, documentary maker, peminum kopi yang setia dan pembaca buku. Menulis untuk menjaga kewarasan dan ingatan.

    (Visited 27 times, 1 visits today)
    Please follow and like us:

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here