Kisah Boy Candra Pindai Sampah Plastik Jadi Pipa

Data Asosiasi INAPLAS dan BPS: sampah plastik di Indonesia, mencapai 64 juta ton per tahun dan 3,2 juta ton sampah plastik terbuang ke laut

0
117
views
Boy Candra, memperlihatkan sampah plastik PVC yang baru selesai dihancurkan. Foto: Tommy Apriando/ Mongabay Indonesia
  • Artikel 
  • Sudah jatuh tertimpa tangga. Mungkin itu istilah yang tepat untuk menggambarkan perjalanan hidup Boy Candra. Bisnis otomotif yang dia jalankan bangkrut pada tahun 2000. Tak lama, keluarga pun terpisah. Dia kelimpungan.

    Dari Jakarta, dia putuskan pergi ke Jogja, mendekatkan diri kepada Tuhan. Perlahan, Boy, bangkit. Dia tak mau berlarut-larut dalam kesedihan. Boy pun mencari peruntungan lain di kota budaya ini.

    Boy mengumpulkan sampah dari pemulung dan mulai berbisnis. Kini, dia sukses membuat pipa dari sampah plastik.

    “Sampah plastik melimpah, tak ada harga, hingga berhasil membuka lowongan kerja bagi tetangga,” kata Boy, mengawali cerita kepada Mongabay, baru-baru ini.

    Boy sempat diajak kembali membuka otomotif tetapi menolak karena sudah tak punya modal. “Kalau pinjam modal, pasti ditanya kapan bisa mengembalikan,” katanya.

    Sekitar dua tahun, dia berpikir keras, cari usaha tanpa modal. Tahun 2003, Boy memutuskan menuju ke Yogyakarta. Di Bantul, dia mengontrak rumah.

    Baca juga : Kisah Konservasi Laut Desa Birawan

    Boy berbincang dengan para pemulung tentang harga sampah plastik. Dia mendapati harga sampah plastik sangat rendah. Gelas dan botol plastik bekas hanya Rp300 per kilogram di tengkulak.

    ”Saya melihat plastik seperti melihat uang. Tuhan memberikan banyak barang, tinggal kita mau mengelola atau enggak," ujarnya.

    Boy tinggal di Dusun Bungsing, RT4, Desa Guwosari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

    Tiap hari, dia memantau para pekerja, yang hanya bersebelahan dengan rumahnya. Dia bikin berbagai pipa dalam jenis ukuran dari bahan sampah plastik.

    “Bahan produksi pipa dari sampah plastik jenis PVC (poly vinyl chloride-red), salah satu dari tujuh jenissampah plastik yang sulit didaur ulang,” katanya.

    Dia membeli sampah plastik dari pemulung dengan harga lebih tinggi. Kalau di pengepul Rp300 per kilogram, Boy Rp500, naik ke Rp800, bahkan Rp1.400 per kilogram.

    Keputusan Boy mengundang protes para pengepul sampah lain. Boy dituding merusak harga.

    Dia didatangi beberapa pengepul karena bertindak beda. Setelah berunding, dia mengalah.

    Dia meminta saran sampah plastik jenis apa yang bisa diolah tanpa protes. Dapatlah masukan dari para pengepul agar mengolah sampah plastik PVC.

    Dia pun jadi pengumpul sampah plastik PVC dari para pemulung pada 2005.

    Awalnya, hanya mengumpulkan, menghancurkan, dan menjual ke Jakarta. Usaha ini dia jalankan di Pandak, Bantul.

    Dia memutuskan pindah ke Bungsing pada 2007 karena sempat mengalami perlakuan diskriminatif.

    Di Bungsing, dia mendapatkan respons positif, warga mendukung. Meskipun, ada sejumlah orang yang menilai upaya Boy seperti mimpi di siang bolong.

    “Sejak awal langsung berpikir mengolah sampah jadi pipa. Saya jelaskan akan buka peluang pekerja dan mengolah PVC dari hulu hingga hilir.

    Saya giling, olah, bikin pipa,” katanya. Kerja keras Boy terwujud pada 2015 dengan perjuangan.

    Mengolah plastik PVC sangat rumit. Kalau ada kesalahan mengolah tak akan ada harga. Sebaliknya, kalau mengolah dengan benar harga menjanjikan.

    Sampah plastik PVC dia peroleh dari Yogyakarta, Magelang, Solo, hingga Salatiga. Dia mulai usaha dengan mesin bekas.

    Dengan modal sekitar Rp5-Rp10 juta, dia mencoba bikin pipa. Sedikit demi sedikit.

    Kini, pabriknya, sudah bisa bikin pipa berbagai ukuran, seperti 5/8 inch, 1/2 inch, 3/4 inch, 1 1/4 inch, 11/2 inch, 2 inch, 2 1/2 inch, 3 inch, dan 4 inch.

    ”Dalam sehari bisa produksi 2.000 batang pipa, tetapi harus satu ukuran sama.”

    Baca juga : Aina, Percayalah Tuhan tidak Tidur

    Kini, produksi pipa Boy baru dipasarkan ke distributor di Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah.

    Dia yakin, produksi pipa sampah plastik tak kalah beda dengan pabrikan berbahan murni, baik kualitas, kekuatan, dan kerapian.

    Harganya, dia jual 60% lebih rendah dari pabrikan. Saat ini, produksi baru bisa satu mobil bak terbuka 2.000 batang pipa per hari.

    Per batang bisa menghabiskan tiga kilogram sampah plastik PVC yang sudah dihaluskan.

    “Omzet olahan sampah plastik kini bisa lebih Rp100 juta per bulan,” kata Boy.

    Kini, dia dapat tantangan untuk produksi 9-10 mobil berisi pipa dalam berbagai ukuran.

    Dia sadar,masih usaha kecil. “Orang mau jadi pengusaha daur ulang plastik mau sekecil-kecilnya tak ada modal atau sebesar-besarnya modal, bisa,” kata Boy.

    Dia cerita proses produksi pipa, mulai dari pengumpulan sampah dari pemulung. Pemasok sampah plastik dari Yogyakarta, Temanggung, Solo, hingga Salatiga.

    Sampah dihancurkan lebih dulu sampai jadi tepung. Tepung hasil penghalusan sampah plastik PVC inilah jadi cikal bakal pipa.

    Menurut Boy, tak semua perusahaan daur ulang sampah mau mengolah sampah plastik PVC. Sampah jenis inisulit dihomogenkan.

    Baca juga : Kak, Jangan Tinggalkan Putri (lagi)

    Produksi Balok dan Papan pada 2020

    Kesuksesan Boy, bikin pipa dari limbah plastik, akan terus berkembang. Dia berencana memperluas usaha, tak hanya pipa, juga balok dan papan dari bahan dasar serupa.

    Boy sudah coba meskipun masih ukuran papan kecil. “Target bisa produksi balok dan papan pada 2020,” katanya. Pembuatan papan dari sampah plastik itu hampir sama dengan bikin pipa.

    Bedanya, hanya ada campuran organik, yakni sekam. Sekam perlu sekitar 2-5% untuk membentuk tekstur yang dinginkan.

    Hasil olahan sampah plastik PVC, termasuk pipa ini tak bisa terbakar api. Api bisa membakar selama masih menyala.

    Kalau terkena api, plastik PVC ini sebatas gosong. Upaya dia ini, katanya, sekaligus berkontribusi menjaga lingkungan. Bangunan kayu identik dengan penebangan pohon.

    Dengan pemanfaatan sampah plastik, bisa jadi satu bentuk industri berkelanjutan. Boy baru setahun belakangan mendapatkan dukungan dari pemerintah setempat.

    Dia berharap, pemerintah lebih serius mengurangi penggunaan sampah plastik, terutama kalangan dunia usaha.

    Edukasi dampak sampah plastik juga perlu sampai level rukun tetangga (RT). Dia pun siap berbagi pengalaman cuma-cuma ke siapa saja, dalam mengolah limbah plastik.

    “Saya bersedia mengajari atau membantu memberikan edukasi tanpa dibayar. Bagaimana pengolahan sampah bisa membuahkan hasil.”

    Baca juga : Janji Ali yang tak Akan Mengebom Ikan Lagi

    Jumadi terlihat lelah. Keringat membasahi kaos yang dia kenakan. Jumadi, pekerja bagian produksi sampah PVS jadi pipa.

    Lulusan Sekolah Menengah Pertama, ini bekerja di tempat Boy sejak 10 Juli 2017.

    Mulanya, dia kuli panggul disalah satu perusahaan kayu di Bantul. Awal bekerja di pabrik Boy, dia sama sekali tak punya keterampilan.

    Boy memberikan pelatihan soal pengolahan sampah plastik PVC sampai jadi pipa.

    ”Masuk kerja enggak tahu apapun. Diajari olah bahan. Mengolah tepung dari sampah. Lalu mengoperasikan mesin produksi,” katanya.

    Awalnya, Jumadi menemui berbagai kesulitan dalam bekerja. Pertama kerja dia bingung.

    Dia tak mengira sampah plastik jadi pipa. Proses, ada memasukkan tepung sampah ke mesin.

    "Pipa bisa tidak jadi, kadang tepung terlalu matang, kadang kurang matang,” katanya.

    Jumadi terus belajar selama bekerja di sana. Meski lebih sulit dibanding tempat bekerja dulu, dia merasa lebih nyaman.

    Semula, Jumadi mendapatkan gaji sesuai upah minimum provinsi, sekitar Rp1,6 juta per bulan, kini sudah Rp2 juta per bulan.

    Sarjiman, warga Plumutan, Kecamatan Bambanglipuro, Bantul, juga bekerja di pabrik Boy.

    Dia memilah dan menghancurkan sampah. Awalnya, dia heran dengan langkah Boy memproduksi pipa dari sampah.

    Boy mempekerjakan sekitar 50 warga Yogyakarta, sebagian besar asal Bantul.

    Dia menempatkan sesuai kemampuan dan ketekunan belajar. Boy memberikan sejumlah pelatihan pengolahan sampah plastik PVC ke tenaga bagian produksi.

    "Jumadi itu awalnya bagian bawah. Karena tekun, sekarang ibaratnya sudah jadi kapten dalam produksi.”

    Baca juga : Sartam Hibahkan Satu Hektar Kebun untuk Satwa Liar

    Sampah di Yogyakarta

    Suyana, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jogja mengatakan, harus ada pengendalian sampah plastik.

    Rata-rata volume sampah Kota Jogja dan dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA) Piyungan per Juni 2018, tercatat 257 ton per hari, 20% sampah plastik.

    Data Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), sampah plastik di Indonesia, mencapai 64 juta ton pertahun, 3,2 juta ton sampah plastik buang ke laut.

    Kantong plastik terbuang ke lingkungan 10 milar lembar per tahun atau 85.000 ton kantong plastik.

    Kalau dihitung dari persentase sampah plastik yang tak diolah, Indonesia termasuk paling tinggi di dunia.

    Sebanyak 87% dari 3,8 juta ton sampah plastik yang dibuang setiap tahun mendarat di laut. Di Jogja, kata Suyana, sampah plastik banyak dari botol air minum kemasan.

    Menurut dia, perlu berbagai upaya agar sampah plastik bisa berkurang. DLH berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat, misal, membawa botol minum dari rumah.

    [Penulis adalah Kontributor Mongabay Indonesia. Tinggal di Jogjakarta]

    Artikel "Kisah Boy Candra Pindai Sampah Plastik Jadi Pipa" merupakan konten kolaborasi dengan Mongabay Indonesia. Konten serupa bisa dilihat di sini

    (Visited 33 times, 1 visits today)
    Please follow and like us:
    error

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here