Digiring Polisi di Schwartz St. Vein

0
123
views
Benny Arnas. Foto: Dok. Pribadi
  • Artikel Benny Arnas
  • Selesai berkeliling Salzburg menjelang pukul enam petang, badan sudah menuntut haknya. Setelah memercayakan pada Google Map perihal arah menuju pemberhentian kereta nomor 9D yang akan membawa kami ke hotel di daerah Urstein, kami masuk ke gerbong begitu kereta tiba.

    Baru lima menit kereta berjalan, seorang perempuan paroh baya meminta kami menunjukkan tiket. Karena sepengalamanan kami, petugas kereta di Eropa tak pernah melakukan pemeriksaan tiket dan kalaupun ada sekadar random, kami kadung percaya diri kalau kami takkan terkena random-check tersebut.

    Apes, tak satu orang pun dari kami membawa print out tiket yang harus mereka scan (saya juga baru tahu kalau tiket kereta dan bus di sini harus senantiasa disiapkan dalam keadaan tercetak, bukan digital).

    Ethile, yang bertanggungjawab atas residensi berjalan ini, mengatakan siap membayar di tempat asalkan kami tidak diturunkan.

    Where do you actually want to go?” tanya petugas itu dengan nada menyangsikan. Perasaan saya mulai tak enak. Dan benar! Kereta yang kami tumpangi tidak menuju Urstein! Kereta itu akan berangkat hingga ke perbatasan. “This train will stop at Villach.”

    Alamakjang, Villach. Saya pernah mendengar kota itu. Kota itu hanya 20 menit dari Slovenia alias jauhhhhhh sekali dari Salzburg. Yaa Tuhan, ngapain ke Slovenia?!

    Benn, would you like to try this craziness?” Saya mendelik. “Ethile, this is not good time!” “Why? Semua barang sudah kita keluarkan dari locker stasiun, bukan?”

    Saya malas meladeni orang gila saat ini. “Okay Madam, what’s the solution?”.

    You haven’t answered my question yet,” ujarnya datar. “Urstein of course. Our hotel is there.” Dia diam.

    Can we stop here?” buru saya. Dia menggeleng.

    But Villach is not our destination!” Saya mulai emosi.

    Dia kembali diam. Tak berapa lama kemudian dia meninggalkan kami. “Ethile?” Saya memandangnya penuh kegeraman. Saya pikir dia mengerti kalau saya sedang menyesalkan sikapnya yang kekanak-kanakan. “Couldn’t you be wise for a while?

    Dia malah tertawa.

    Tak lama kemudian, perempuan paroh baya tadi datang dengan seorang laki-laki bertubuh gempal dengan tato di kepalanya yang botak. Laki-laki bergaya bodyguard itu menawarkan solusi. Ia menyarankan kami membeli tiket ke Urstein untuk jadwal keberangkatan selanjutnya dengan harga yang sedikit lebih mahal. Saya langsung menyepakati. Ethile menurut saja.

    Dua menit kemudian, kereta berhenti. Empat laki-laki jangkung berseragam polisi mendekat dan meminta kami menunjukkan passport. Dia memandangi wajah saya dan paspor cukup lama. Lagi-lagi tentang jambang dan tidak jambang. Beralih ke Ethile, lebih lama lagi. “I am a leader for many trips before this man’s residency.” Seraya menunjuk saya Ethile meyakinkan kawanan polisi yang mungkin aneh melihat ada 77 stempel negara di paspornya.

    I am a writer,” ujar saya tanpa ditanya. “I am running my multicoutries residency right now.”

    Where’s the ending?

    Portugal or Spain. We are considering.” Tentu saja saya tak ingin jujur bilang Maroko sebab negara Afrika itu hanya masuk destinasi belokan setelah Spanyol.

    Keempat polisi bicara sesama mereka dalam bahasa Jerman. Tampaknya serius. Sementara Ethile membereskan pembayaran dengan kartu kredit, saya melihat sekitar. Laki-laki bertubuh tegap dengan seragam polisi lalu lalang di stasiun ini. Oh di manakah ini? Daerah militerkah? Mata saya menangkap running-text di board zona tunggu: Schwartz - St. Vein.

    Your card is not valued.” Petugas perempuan itu mengejutkan kami.

    Saya terdiam. Apalagi ini? Kartu kredit Ethile tidak terbaca. Di saat yang sama para polisi menyerahkan paspor kami dan mengucapkan “danke”. Aman. Alhamdulillah. Ethile mengeluarkan dompet. Cash!

    Hari itu kami tiba di Urstein lebih telat dari jadwal. Ethile belum selesai dengan kegilaannya. “We have to reach our hotel on foot,” ujarnya seraya menarik koper.

    How long?” Saya lelah dengan kejutan tidak pentingnya.

    “1000 ...”

    A thousand?

    1000 meters.”

    Saya menghela napas. Entah itu ekspresi kekesalan atau kelegaan atau ketakmengertian. Saya lelah. Byuh!

    Better on foot than arrested at Schwartz, Benn.”

    Kemudian Ethile tertawa ngakak lagi. Meninggalkan saya yang masih memikirkan, yang mana yang lebih baik: jalan ke hotel satu kilometer atau ditangkap polisi Austria.

    [Tulisan ini bersumber dari Facebook Benny Arnas]

    [Penulis adalah Founder BennyInstitute. Tinggal di Lubuklinggau, Sumatera Selatan]

    (Visited 40 times, 1 visits today)
    Please follow and like us:
    error

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here