Aliran Sungai Bernama Pemilihan Umum

Siapa pun pilihan kita untuk bangsa ini bukan menjadi alasan untuk saling membenci

0
235
views
Ilustrasi. Sumber: Kompasiana.com
  • Artikel Turasih
  • Gegap gempita Pemilu Presiden dan Wakil Presiden serta Anggota Legislatif mengalir layaknya arus yang tak bisa dibendung.

    Jika diumpamakan sebuah sungai, kita bisa membaginya dari wilayah hulu, tengah, dan hilir. Hulunya adalah saat Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan calon-calon pemimpin dan wakil rakyat.

    Kemudian masyarakat menyambutnya dengan riuh, ada yang memilih bersuka cita dan menyadari bahwa bagaimana pun aliran di hulu itu tetap ada muaranya.

    Sebagian memilih untuk membuat arena semacam panggung untuk mendulang simpati, padahal disadari atau tidak, membangun sesuatu yang tidak sesuai di wilayah hulu berarti merusak aliran dan bahkan area penyangga dibawahnya.

    Wilayah tengah sungai adalah masa kampanye, sebuah masa yang menguras energi. Bisa dibayangkan wilayah tengah sebuah DAS (Daerah Aliran Sungai) yang biasanya melewati pemukiman dengan penduduk padat, penuh dengan aktivitas dan hiruk pikuk masa, begitulah kampanye.

    Kawan jadi lawan, persahabatan jadi permusuhan, hujatan seperti hujan yang mengguyur tak kenal waktu dan kesiap-siagaan.

    Masa di wilayah tengah ini sepertinya paling menguras energi, membutuhkan logika sekaligus kata hati, membutuhkan kecerdasan yang tidak hanya akal tetapi juga emosi.

    Seharusnya masyarakat sudah lebih dewasa melewati masa ini mengingat Pemilu ini bukan kali pertama.

    Kenyataannya yang kali kesekian itu justru menunjukkan arogansi dengan dalih “pilihan saya paling benar” atau “pilihan kamu paling buruk”.

    Tudingan “saya benar dan kamu buruk” adalah bentuk egoisnya manusia yang tidak mau mengakui bahwa dirinya adalah homo socius, manusia yang membutuhkan orang lain.

    Kita tidak pernah tahu kapan akan saling membutuhkan, jangan-jangan dari kelompok yang dianggap lawan-lah kita bisa mendapat ketenangan.

    Masa tenang kampanye seperti pintu air, dalam sebuah aliran sungai pintu air diharapkan mampu menyaring dan membendung.

    Apa yang terjadi jika pintu air tidak bisa menampung volume arus? Jebol. Terjadi kerusakan di wilayah selanjutnya yaitu wilayah hilir.

    Kenyataannya pintu air yang jebol (diakui atau tidak) terjadi dalam Pemilu 2019 ini. Masa tenang yang seharusnya digunakan untuk menjernihkan pikiran untuk pemilihan digunakan untuk menyusupkan informasi, meneruskan clickbait, dan mengadu domba layaknya masa devide et impera (politik adu domba).

    Bukankah rakyat bersyukur dengan lepasnya penjajahan, dengan budaya kolonial yang dikutuk menyengsarakan, tetapi mengapa memilih meneruskan adu domba?

    Dengan kondisi pintu air yang demikian, dapat dilihat apa yang terjadi di wilayah hilir. 17 April 2019, sebagian tidak terdampak dan tetap konsentrasi dengan pilihannya.

    Sebagian lagi meledak, jebol, mengagungkan junjungan pilihannya tanpa kenal tempat, waktu, dan media. Seakan tidak menyadari bahwa era kini sudah berbeda dari 400 tahun yang lalu.

    Digitalisasi mengubah dunia dari sekedar makna westernisasi dan globalisasi. Kemenangan tidak hanya diukur dari sekerumunan orang yang berkumpul di sebuah stadion, sebesar apa pun klaim terhadapnya tidak akan lebih besar dari fakta kerja keras perhitungan suara yang saat ini sedang terus berlangsung progress-nya.

    Perhitungan yang akan membawa kita ke muara. Muara itu pun bukan titik akhir segala sesuatu sudah selesai.

    Bukankah aliran sungai yang bermuara ke laut akan tetap menguap menjadi awan kemudian terkondensasi menjadi hujan dan terbawa lagi dari hulu hingga hilir? Ini bukan Pemilu abadi dan bukan pilihan yang tidak akan berubah di masa depan.

    Ada berapa banyak orang yang berteriak lantang merasa benar hanya karena mereka berada di antara kerumunan yang sama?

    Ada berapa orang yang harus berkorban hanya karena berbeda pilihan? Hidup tidak seharusnya sekejam itu.

    Hidup bermasyarakat adalah hidup yang kolaboratif, bukan hidup yang kompetitif. Menjadi apa pun kita adalah pilihan.

    Setiap pilihan hidup menuntut konsekuensi yang harus dijalani. Menang-kalah, baik-buruk, sedikit-banyak, setiap pilihan memiliki antitesisnya, setiap konsekuensi memiliki caranya.

    Siapa pun pilihan kita untuk bangsa ini bukan menjadi alasan untuk saling membenci apalagi menciptakan sebuah permusuhan laten yang kapan pun bisa meledak.

    Mari berdoa, mengharap yang terbaik akan memimpin negeri Bhinneka Tunggal Ika ini. Negeri milik banyak suku bangsa, bahasa, agama, dan budaya.

    Negeri yang akan diwarisi anak cucu kita. Negeri yang akan tetap Indonesia.

    Turasih, seorang ibu, peneliti dan penulis aktif. Editorial & Collaborator www.seluang.id

    (Visited 124 times, 1 visits today)
    Please follow and like us:
    error

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here