Gelandangan dan Momok

Amerika Serikat, tempat para pialang saham bersaing di pinggiran kota Manhattan. Surga para kapitalis yang tak pernah sepi

0
26
views
Foto buku dan bunga diambil oleh Shinta Maharani
  • Artikel
  • Bartleby terbaring meringkuk di dekat dinding dengan lutut menekuk, dengan kepala menyentuh batu yang dingin. Tak ada bagian tubuhnya yang bergerak.

    Aku berhenti sebentar, lalu mendekatinya membungkuk dan melihat matanya yang terbuka.

    Andaikan matanya tertutup, mungkin ia akan tampak tidur begitu nyenyak. Dia hidup tanpa makan dan kemudian menutup matanya.

    Baca juga : Amazon dan Orang-orang yang Kalah

    Herman Melville, pengarang Amerika Serikat mengakhiri cerita pendeknya: Bartleby Si Juru Tulis. Bartleby di Wall Street, jantung uang New York, Amerika Serikat. Tempat para pialang saham bersaing di pinggiran kota Manhattan. Surga para kapitalis yang tak pernah sepi.

    Sepanjang cerita, Bartleby menjadi tokoh yang keras kepala. Dia selalu membuat jengkel pengacara yang menjadi bosnya. Bartleby seorang pemuda yang pucat dan mengundang iba. Dia jenis orang yang kalem dan berkepala dingin.

    Sebagai juru tulis pendiam dan senang mengurung diri, Bartleby menikmati pekerjaannya menyalin dokumen. Ia sama sekali tak beristirahat menulis.

    Semalaman penuh dan dengan bantuan cahaya matahari di kala siang dan lilin di saat hari gelap. Wajahnya pucat bagai mesin dan ia tak berkata-kata.

    Suatu hari sang pengacara meminta Bartleby untuk membantunya memeriksa dokumen. Tapi, Bartleby menolak "Saya tak mau," kata dia.

    Si pengacara mengulang lagi perintahnya dan Bartleby bersikukuh menolak. Hari-hari pengacara dan Bartleby diwarnai ketegangan. Bartleby selalu menolak perintah si bos.

    Bartleby yang tenang dan dingin terus saja bekerja di dalam ruangannya. Tak mau keluar dari pertapaannya. Si pengacara tak tahu harus berbuat apa lagi. Hingga suatu hari dia mengusir Bartleby dan dia tidak mau pergi dari ruangannya.

    Pengacara sangat jengkel dengan sikap Bartleby yang sekeras batu. Tapi, ia juga kasihan pada Bartleby yang malang.

    Bartleby tak mau pergi dari kantor itu. Rekan-rekan pengacara yang datang ke sana tak mampu menyuruh Bartleby melakukan keinginan mereka. Bartleby jadi momok dan setan.

    Baca juga : Anna Karenina dan Tolstoy yang Anarkis

    Pengacara kehilangan akal. Mau lapor polisi tapi ia kasihan karena di penjara Bartleby akan menjemput kesuraman. Keputusan akhirnya pengacara ambil dengan cara dia pindah meninggalkan kantor itu.

    Si pengacara mengosongkan kantor. Semua perabot dibawa. Bartleby tak merespon, ia tetap berdiri di balik sekat biliknya yang akan dibongkar.

    Dia mengucapkan selamat tinggal kepada Bartleby. Sepekan kemudian ia datang ke kantor lamanya. Bartleby tetap berada di gedung di Wall Street.

    Dia duduk di pegangan tangga di siang hari dan tidur di pintu masuk di malam hari. Dia tak mau beranjak meski diusir berkali-kali. "Saya suka diam tak bergerak," kata Bartleby.

    Hingga suatu hari, pemilik baru kantor lama pengacara memberi tahu kalau dia melaporkan Bartleby ke polisi sebagai gelandangan.

    Si juru tulis tak melawan ketika digiring polisi. Beberapa pejalan kaki iba terhadap Bartleby. Dia berjalan tenang melewati panas dan riuh jalanan.

    Di penjara dia tak mau menyentuh makanan. Ia senang menyendiri di lapangan kompleks penjara dengan dinding tinggi yang mengelilingi. Tak semua tahanan boleh ke lapangan.

    Bartleby menghembuskan napasnya di lapangan yang senyap. Pemakamannya sepi.

    Baca juga : Dostoevsky, Peracau Bermantel Lusuh

    Setelah membaca cerpen ini ingatan saya terlintas saat saya melintasi jalanan tengah malam hingga subuh. Melihat gelandangan di pasar-pasar, tidur di emperan toko-toko. Mereka melawan dinginnya malam, serbuan nyamuk, dan tikus yang mondar mandir.

    Seperti Bartleby, nestapa menyusup di antara gemerlap bintang dan kerlap kerlip lampu kota. Untuk perempuan yang menjulurkan tubuhnya di emperan penjual kembang mawar-melati tengah malam: selamat tidur.

    [Sumber tulisan bermula dari sini]

    Shinta Maharani, wartawan, penikmat seni dan pembaca buku setia. Tinggal di Jogja

    (Visited 9 times, 1 visits today)
    Please follow and like us:

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here