Kejutan Setiba di Budapest

"Aida, Benn!” Ethile mendekati

0
54
views
Benny Arnas di salah satu sudut kota Budapest, Hungaria. Foto : Dokumentasi pribadi
  • Artikel Benny Arnas
  • Langit Budapest mulai buram. Pukul 9 petang, kami tiba di Hungaria. Magrib baru berlabuh. Saya menggeret koper menuju apartemen.

    Hari ini saya mulai berniat tak ingin merepotkan Ethile lagi. Ransel besar di punggungnya tentu bukan beban yang ringan. Selama ini, atas dalih fasilitator, dia mengurus koper saya, termasuk menggeretnya ke mana-mana.

    Entah bagaimana, beberapa waktu belakangan, dengan semua kegilaannya, Ethile malah menumbuhkan empati dan simpati dalam diri saya.

    Tentu saja mulanya pemuda yang sudah keliling dunia sejak usia 17 itu memaksa membawakan koper saya, tapi saya sudah tak mau kalah.

    Baca juga : Bab Terakhir dari Ketegangan di Plivitce

    Lima langkah di depan, Ethile sibuk dengan Google Map-nya. Sepuluh menit kemudian kami tiba di sebuah gedung berlantai 5 di Laeron Street.

    Belum lima menit bicara dengan resepsionis, Ethile menatap saya. Tatapan yang lain. Tentu saja saya curiga. Curiga ada yang tidak beres.

    Sorry, Benn.”

    “Kenapa?”

    “Saya salah apartemen.”

    “Oke.” Saya mencoba menyimpan kekesalan. “Jadi mana yang benar? Itu, itu, atau itu?” Saya menunjuk beberapa apartemen yang tampak di daerah itu.

    “Saya salah ketik jalan. Yang benar adalah Laer Oon Street.”

    “Oke, Et. So?”

    “Tunggu saya hubungi taksi.”

    “Oke.”

    Lima menit kemudian.

    “Wah, kartu kredit saya gak kebaca di aplikasi!”

    To the point, Eth.”

    Wait, Benn!” Ia berlari menjauh.

    “Ke mana?”

    “Siapa tahu ada taksi ngetem di ujung Liberty Bridge!”

    Oh oke. Saya baru tahu kalau kami sekarang berada tak jauh dari salah satu ikon Kota Pest itu.

    “Kenapa?” tanya saya cepat ketika mendapati Ethile muncul dengan ekspresi yang sepertinya tidak menunjukkan kabar baik.

    “Kita harus jalan kaki ke utara, Benn.”

    “Berapa jauh.”

    “Cuma 10 menit mungkin.”

    “Sejauh?”

    Google Map bilang 1,6 km-lah.”

    Baca juga : Ketegangan di Plivitce (Bagian 1)

    Saya pikir tak ada gunanya mengeluh. Saya menggeret koper. Ke arah telunjuk Ethile. Ke Utara.

    Ia mengambil alih koper saya. Saya biarkan saja. Dia lebih dulu beberapa langkah di depan saya.

    Sepuluh menit—ya, sepuluh menit—kemundian kami tiba di apartemen yang dituju. La Visuty, begitu tertera di plank pintu masuk. Ethile menekan kombinasi angka di papan tombol pintu masuk.

    Baru saja Ethile meletakkan koper ke dalam kamar, ponselnya berdering.

    “Benn,” intonasi suaranya terdengar lain, kombinasi antara kecemasan dan ketakmungkinan.

    Saya tak peduli. Saya melepas sepatu dan melempar ransel ke ranjang. Saya bermaksud hendak menyalakan heater sebab di jam tangan digital saya menunjukkan saat ini Budapest dingin sekali. Sembilan derajat celcius.

    “Aida, Benn!” Ethile mendekati.

    Baca juga : Daun Kelor di Slovenia

    “Kenapa?” Saya mengeluarkan sarung dari dalam ransel. Ah tanpa benda satu itu, saya takkan merasa nyaman melakukan aktivitas di dalam kamar/apartemen.

    Saya perlu mengondisikan semuanya seperti rumah agar nyaman beraktivitas, termasuk tidur, membaca, atau menulis tentu saja.

    She was shooted!”

    “Apa?” Saya refleks berhenti menggulung sarung di pinggang.

    “Kenapa bisa?”

    “Itu yang buat aku tak habis pikir.”

    “Ya, kenapa?”

    “Aida saat ini di rumah sakit.”

    “Jadi kamu perlu kembali ke Zagreb untuk menjenguknya?” Saya mulai kesal. Ethile tidak menjawab pertanyaan saya. "Kenapa Aida bisa tertembak?” Saya mulai berteriak.

    “Mercy itu bukan punya Aida.”

    “Kan bisa saja itu punya perusahaan taksinya. Aku pun mengiranya begitu atau ... Aida mencurinya dari seseorang.”

    “Bukan itu masalahnya.”

    “Lalu apa?”

    “Dia memakai mercy orang lain untuk ke Plivitce untuk ....”

    “Untuk melukai gadis-gadis itu?”

    Ethile mengangguk lemah.

    “Jadi, Aida pelakunya?”

    Ethile tak menjawab.

    “Eth?”

    “Jangan banyak tanya dulu, Benn. Aku sedang syok memikirkan banyak hal!” Mukanya benar-benar kusut.

    Sungguh belum pernah saya melihat Ethile marah dan sedih seperti saat ini.

    Dia pasti syok sekali sebab gadis yang baru saja ia temui—sekaligus ia sukai—ditangkap dalam keadaan mengenaskan sebagai penjahat.

    “Eth ....” Saya mendekatinya. Duduk di dekatnya di tepi dipan.

    Ethile membuang muka.

    Saya terdiam. Di luar, suara orang-orang yang baru keluar dari bar yang terletak tepat di samping kanan apartemen ini, mulai menceracau, mulai bising.

    Baca juga : Ketegangan di Plivitce (Bagian 2)

    Ethile pasti pusing sekali..

    Saya ke kamar mandi. Ambil wudu. Hendak salat magrib, sekaligus mendoakan ... Aida, eh atau ... Ethile. Saya tak tahu.

    [Tulisan bersumber dari sini]

    [Penulis adalah Founder BennyInstitute. Tinggal di Lubuklinggau, Sumatera Selatan]

    (Visited 16 times, 1 visits today)
    Please follow and like us:
    error

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here