Tuhan Ada di Bilik Bambu

Gempa sudah menjadi bagian dari kehidupan warga Namo sejak dulu

0
49
views
Salah satu penyintas gempa dan tsunami Palu yang menemukan kedamaian dari bilik bambu. Foto : Ahmad Yunus.
  • Artikel Ahmad Yunus
  • “Ada Tuhan di butiran pasir, kelopak bunga dan pepohonan yang kita lihat,” kata Paulo Coelho.

    Satu minggu sudah saya berada di Desa Namo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Desa cantik di jantung kawasan Taman Nasional Lore Lindu yang anggun. Pepohonan menghijau masih menyelimuti sepanjang bukit dan lereng-lereng. Air menggericik jatuh dengan jernihnya. Sesekali, burung Rangkong Sulawesi terbang dan hinggap di pohon dengan damainya.

    Saya berada di surga. Di alam yang masih terjaga. Dan Paulo Coelho benar, keajaiban Tuhan ada di sekitar kita. Di sana, di langit yang membiru. Dan pagi bersama kabut tipis yang menggelayut di pucuk pohon Lore Lindu.

    Di kaki langit Indonesia, Desa Namo baru saja pulih dari bencana gempa yang merobek Palu-Donggala. Sesar aktif kedua terbesar di Indonesia ini, ibarat tegangan listrik. Sengatannya merobohkan setiap inci bangunan dan tebing-tebing di perbukitan.

    Bencana memang meninggalkan duka. Namun, warga Desa Namo segera terjaga. Bagi mereka, gempa yang terjadi menjelang akhir September setahun lalu itu, bukanlah kejadian yang pertama. Gempa-gempa kecil ibarat riak yang terus bergerak mencari keseimbangannya.

    “Gempa-gempa kecil saja. Tapi ini paling besar,” seingat Dahlia, nenek yang saya jumpai di rumahnya. Ia baru saja pulang dari kebun. Memanggul dua batang pohon kayu bakaar. Nafasnya tersenggal naik turun.

    Gempa sudah menjadi bagian dari kehidupan warga Namo sejak dulu. Nenek moyang Dahlia tahu, gempa tak bisa dihindari. Namun, manusialah yang mesti beradaptasi.

    “Dulu rumah panggung. Hanya bergoyang-goyang saja,” katanya. Rumah panggung ditinggalkan. Seolah menjadi tradisi usang. Rumah bertembok berdiri dan kemudian hari justru mengancam penghuninya.

    “Saya tidak ingin rumah tembok lagi,” kata Rosmiati.

    Kini, Rosmiati dan warga Desa Namo lainnya sudah menempati rumah bambu berukuran 4 x 6 meter. Rumah bambu ini diinisiasi oleh KUN Humanity System+, lembaga baru dari Bandung yang bergerak di kebencanaan. Lembaga yang digawangi dokter Chandra Sembiring ini melihat, rumah bambu bagian penting dari pemulihan para penyintas.

    “Mereka tidak bisa berlama-lama tinggal di pengungsian,” katanya.

    Rumah tak hanya tempat berlindung dari cuaca dingin maupun panas. Rumah juga tempat untuk bertumbuh. Di Desa Namo ini, warga semakin sadar bahwa bambu adalah jawaban untuk masa depan mereka. Rumah bambu yang berdiri di desa ini menjadi jalan untuk mengenali bumi Lindu yang terus berdetak. Dan Tuhan ada di bilik bambu.

    Bambu Ibarat Rahim Ibu

    Belajarlah ke Dusun Namo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah untuk melihat bahwa bambu adalah jawaban pascabencana gempa Palu-Dongala.

    Sebanyak 60 rumah bambu berdiri dan dijadikan rumah hunian sementara. Warga penyintas terlibat mulai dari tahapan perencanaan, proses pengawetan bambu, hingga konstruksi rumah.

    "Kami tenang saja saat ada gempa susulan," kata Arman, warga Namo yang kini tinggal di rumah bambu. Gempa tak lagi membuatnya panik.

    "Ini bukan sekedar rumah hunian sementara, tapi rumah selamanya," kata Rosmiati.

    Bagi warga Namo, rumah permanen ternyata bukan jawaban di tengah pusarnya gempa sesar Palu-Koro yang mengancam. Faktanya, rumah beton berkonstruki baja adalah ilusi yang membutakan sekaligus mematikan.

    Di sini, batang bambu saling mengikat satu sama lain. Atap rumbia menjadi penyejuk dari guyuran sengatan matahari khatulistiwa. Hembusan angin dari rimba Lore Lindu menjadi ketenangan bagi para penghuninya.

    Ibarat rahim ibu, bambu adalah rumah bagi manusia.

    [Tulisan bersumber dari sini]

    [Penulis adalah seorang penjelajah, pembaca buku, penikmat kopi dan pernah berkeliling Indonesia menggunakan sepeda motor bersama wartawan senior, Farid Gaban]

    Tulisan menarik lainnya:

    Baca : Cerita Kecil dari Halaman Depan Krakatau

    (Visited 23 times, 1 visits today)
    Please follow and like us:
    error

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here