Budak Jim dan Huckleberry Finn

Finn bocah bandel, miskin, gembel, pemberontak, nggak suka sekolah, pintar, dan suka menolong

0
51
views
Foto : Shinta Maharani
  • Artikel
  • Mereka merantai kedua tangan dan kakinya. Setelah kejadian itu, mereka bilang Jim hanya akan mendapatkan roti dan air hingga majikannya datang.

    Dia akan dijual ke pelelangan jika majikannya tidak datang dalam kurun waktu tertentu.

    Kutipan yang ada dalam dua bab terakhir The Adventures of Huckleberry Finn itu karangan sastrawan penting Amerika Serikat Mark Twain.

    Karya sastra modern yang diterbitkan pertama kali pada 1884. Jadi umur karya yang berkali-kali difilmkan ini sekarang 135 tahun.

    Baca juga : Gelandangan dan Momok

    Novel penuh petualangan seru bocah bandel ini berlatar perang sipil Amerika Serikat tahun 1860.

    Perbudakan, rasisme, segregasi kulit putih dan kulit hitam merajalela. Tragedi kemanusian yang mengerikan.

    Mark Twain adalah nama pena Samuel Langhorne Clemens, yang meninggal pada 1910 dalam usia 74 tahun. Dia dilahirkan sebagai anak dengan kondisi tubuh yang lemah.

    Ayah Mark Twain meninggal karena pneumonia saat dia berumur 13 tahun. Mark Twain meninggalkan bangku sekolah dan bekerja di bidang percetakan.

    The Adventures of Huckleberry Finn tak lepas dari karya lainnya berjudul The Adventures of Tom Sawyer.

    Keduanya saling bertautan, mengisahkan dua bocah bandel dan panjang akal : Hucckleberry Finn dan Tom Sawyer. Finn mengesankan kemampuannya menggunakan akalnya.

    Baca juga : Anna Karenina dan Tolstoy yang Anarkis

    Dia digambarkan selalu menggugat sesuatu yang tidak masuk akal buat dia. Misalnya suatu hari keluarga angkatnya, janda Douglas mengeluarkan buku dan mengajari Finn tentang Musa dan pengrajin rotan.

    Tubuh Finn mengucurkan keringat dingin karena ia takut bertemu dengan Musa.

    Janda Douglas kemudian mengatakan bahwa Musa telah lama mati. Finn lalu tak takut lagi karena dia tidak percaya kepada orang yang sudah mati.

    Tom Sawyer identik dengan heroisme. Dia digambarkan ingin mengumpulkan semua budak, mengajak mereka berdansa, dan mengaraknya ke kota dengan iringan kelompok musik tiup. Dengan begitu dia akan menjadi pahlawan.

    Mereka berdua sahabat karib yang tidak tahan berada di rumah. Mereka gemar berpetualang ke hutan, menyusuri lembah, berkumpul di gua, dan bermain-main.

    "Aku merasa sangat kesepian dan nyaris berharap mati saja. Bintang-bintang berkilauan di langit, dan desau daun-daun di hutan terdengar begitu memilukan.

    Aku mendengar suara burung hantu di kejauhan, mengabarkan ada seseorang yang sedang mendekati ajalnya," kata Finn.

    Dia anak yang malang. Ayahnya suka memukuli Finn dalam kondisi mabuk berat. Finn terbiasa hidup susah dengan pakaian compang camping, penuh lumpur.

    Janda Douglas kemudian menjadi keluarga angkatnya. Dia tak tahan dikurung dan aturan rumah keluarga angkatnya.

    Finn suka mengendap-endap keluar rumah menemui Tom. Suatu hari Tom mengajaknya pergi ke gua bersama rombongan anak-anak lainnya.

    Mereka merencanakan merampok orang-orang, menjarah barang-barang berharga, dan membunuh orang yang dirampok. Tentu saja ini cuma main-main.

    Di dalam gua, mereka membikin janji sumpah setia sebuah geng berandalan. Melukai tangan dengan peniti lalu menggoreskan darah sebagai bentuk sumpah setia geng. Ketua geng si Tom Sawyer.

    Kenakalan-kenakalan mereka semakin menjadi-jadi. Suatu hari mereka ingin berpetualang menggunakan rakit menyusuri sungai Mississippi bersama budak Jim.

    Tapi, Jim budak yang dirantai oleh tuannya. Sebagian orang ingin menggantungnya untuk dijadikan contoh buat semua budak agar tidak coba-coba melarikan diri. Orang-orang memaki Jim sebagai tawanan. Tapi, Jim tidak membalas sedikitpun.

    Baca juga : Amazon dan Orang-orang yang Kalah

    Tom dan Finn berusaha membebaskan Jim. Merencanakan pelarian Jim. "Mereka tak berhak mengurung dia. Bertindaklah, jangan buang-buang waktu lagi. Bebaskan dia. Dia bukan budak, dia bebas seperti makhluk lain yang hidup di atas bumi," kata Tom.

    Finn lalu berusaha membebaskan Jim. Alasan dia ingin membebaskan Jim karena ingin berpetualang bersama Jim di atas rakit menyusuri Sungai Mississippi.

    Jim dikurung di sebuah pondok dengan rantai pada pergelangan kakinya yang terluka dan nyaris membusuk. Finn mencuri kunci rantai. Mereka lari dikejar sejumlah orang dan anjing.

    Finn yang tengil kemudian menyuruh Jimm melepas bajunya. Dia mengalihkan perhatian anjing pengendus.

    Sedangkan Jim berenang ke tengah sungai. Finn menaruh baju Jim di semak-semak. Dia memanjat pohon.

    Jim bebas. Suatu hari Tom mengajak Finn pergi berpetualang. Tapi, Finn sedang memikirkan ayahnya yang menghabiskan uangnya untuk mabuk-mabukan. Kepada Finn, Jim berkata ayah Finn tidak akan kembali (mati).

    "Kau ingat rumah yang hanyut di sungai itu, yang di dalamnya ada seorang laki-laki terjebak? Waktu itu aku masuk untuk melihatnya dan melarangmu ikut masuk," kata Jim.

    Baca juga : Buck Penakluk Tradisi

    Karya ini membawa pesan mendalam tentang persahabatan Finn dengan budak Jim, pencarian kebebasan, dan melawan prasangka rasial. Saya ingin menekankan soal rasialisme yang jadi masalah kemanusian akut.

    Saya teringat beberapa masalah berlatar rasialisme di negara saya (dalam bentuk yang berbeda). Di Yogyakarta misalnya, terjadi praktik rasialisme belum lama ini.

    Hanya gara-gara beragama Katolik, seorang seniman ditolak mengontrak di sebuah kampung dengan aturan hanya Muslim yang bisa tinggal di kampung itu. Alasannya kearifan lokal.

    Belum lagi masalah yang terjadi sebelumnya, nisan bersimbol Katolik dipotong dengan alasan itu kuburan kampung Muslim.

    Rasialisme lainnya juga menimpa orang-orang yang dianggap separatis (Papua Barat) dan orang-orang yang dilabeli sebagai preman. Betapa mudah menjalar rasialisme seperti urat syaraf manusia yang tak putus.

    Dari The Adventures of Huckleberry Finn, kita bisa belajar kepada bocah yang sekuat tenaga melawan prasangka rasial dan arti kemanusiaan.

    Finn bocah bandel, miskin, gembel, pemberontak, nggak suka sekolah, pintar, dan suka menolong. Dia patut jadi inspirasi buat orang-orang dewasa untuk keberaniannya menolak rasisme.

    Oh ya di negeri Abang Sam, karya itu sempat dilarang di sekolah-sekolah karena kritiknya terhadap situasi sosial negeri itu.

    [Tulisan ini bersumber dari sini]

    Shinta Maharani, wartawan, penikmat seni dan pembaca buku setia. Tinggal di Jogja

    (Visited 19 times, 2 visits today)
    Please follow and like us:
    error

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here