Hoax, Sebuah Analisa Psikologis

Kita memiliki pengalaman pribadi, prasangka, ketakutan, bahkan fobia

0
106
views
Ilustrasi. Sumber gambar : gesuri.id
  • Artikel Husni Mubarok
  • Kemajuan teknologi informatika dan arus penyebaran informasi yang sangat cepat membuat masyarakat sering melupakan apa arti kata “berpikir dua kali”.

    Ingin selalu dianggap aktual/ up to date dalam pergaulan sosial cenderung mengorbankan hal yang sangat berharga, yakni kebenaran informasi.

    Hal ini diperburuk dengan meningkatnya sensitivitas suku, agama, ras dan antar golongan (SARA) membuat banyak orang cenderung mencari konfirmasi ketimbang informasi.

    Ketika mereka menerima informasi yang tidak disukai, mereka akan lebih tertarik ke sumber-sumber lain yang sesuai keinginan.

    Sementara, pihak atau sumber berita lain yang tidak sesuai dengan keinginan, mereka sebut salah atau berbohong.

    Inilah akar mindset informasi hoax (berita bohong/ menipu) memperoleh ceruk pasarnya.

    Tom Nichols dalam bukunya The Death of Expertise mengatakan, saat ini masyarakat kita memiliki masalah bias konfirmasi, yakni kencenderungan alami untuk hanya menerima bukti yang mendukung hal yang sudah kita percayai.

    Kita memiliki pengalaman pribadi, prasangka, ketakutan, bahkan fobia yang membuat kita enggan menerima nasihat para pakar.

    Lebih lanjut Tom menegaskan, internet bukan hanya tempat penyimpanan pengetahuan yang mengagumkan, melainkan juga sumber sekaligus pendorong tersebarnya berbagai kesalahan informasi.

    Sebut saja penolakan penayangan film karya sutradara kawakan Garin Nugroho yang berjudul “Kucumbu Tubuh Indahku” di Pontianak dan beberapa daerah lain seperti Kubu Raya, Kota Padang, Garut dan Depok.

    Tidak semua orang yang setuju melakukan penolakan bisa menceritakan detail isi cerita film atau pernah menonton film dengan durasi yang utuh. Hanya berdasarkan trailer/ cuplikan dianggap cukup untuk menyimpulkan.

    Sehingga sikap penolakan cenderung kekurangan data yang detail mengenai isi dan pesan yang disampaikan oleh film tersebut.

    Dalam iklim demokrasi fenomena pro dan kontra adalah hal yang sah dan wajar. Namun pemaparan argumentasi berdasarkan data yang terperinci sangat diperlukan.

    Hal ini untuk menjaga bahwa sikap keputusan diambil secara rasional dan bukan emosional, apalagi sekedar ikut-ikutan. Sehingga muncul sikap bertanggungjawab dan saling menghormati untuk menjaga iklim demokrasi yang positif.

    Karakter berita dan informasi yang mendominasi saat ini cenderung mendistorsi pandangan orang-orang tentang dunia karena adanya hama mental yang oleh psikolog Amos Tvesky dan Daniel Kahneman disebut sebagai Heuristik Ketersediaan atau Availability Heuristic.

    Orang yang terjangkit hama mental ini memperkirakan probabilitas suatu peristiwa atau frekuensi suatu hal berdasarkan kemudahan yang muncul dalam pikiran.

    Ini menyebabkan simplifikasi atau penyederhanaan serampangan, orang dengan mudah menjustifikasi dan menyimpulkan berdasarkan pengetahuan yang terbatas atau kurang.

    Internet bukan hanya membuat kita lebih bodoh, tapi juga lebih kejam saat seseorang berada di balik papan ketik komputer atau smartphone.

    Dalam media sosial dan aplikasi percakapan daring/ chating kita sering mendapati orang berdebat dan bukan berdiskusi, menghina dan bukan mendengar. Sebagian konflik di wilayah publik adalah keributan yang diperkuat oleh internet dan media sosial.

    Internet mengumpulkan factoid (pernyataan palsu yang disajikan sebagai fakta atau berita rujukan) dan gagasan setengah matang, lalu menyebarkan (sharing) semua informasi dan pikiran buruk ke seluruh dunia teknologi.

    Fenomena di atas menimbulkan masalah besar, yakni permusuhan pada metode berpikir ilmiah dan pengetahuan yang sudah mapan. Kemudahan akses internet membuat semua orang merasa menjadi pakar dan ahli dalam semua bidang.

    Mereka hanya butuh terhubung internet lalu membuka mesin pencari (Google, Bing, Yahoo) menuliskan satu atau dua kata kunci dan pertanyaan pada kolom pencarian. Algoritma canggih mesin pencari akan menghubungkan ke halaman-halaman yang relevan dengan kata kunci.

    Padahal tidak semua yang tertulis di halaman-halaman internet tersebut adalah informasi yang benar dan terverifikasi sebagai sumber yang bisa dipertanggunngjawabkan.

    Perlu pengetahuan dasar mengenai metode verifikasi informasi, apakah halaman portal berita online atau halaman web dan blog pribadi berasal dari sumber informasi yang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Perlu memilah dan memilih halaman media berita online di internet dengan teliti.

    Apakah perusahaan media tersebut terdaftar di Dewan Pers sebagai lembaga yang mengawasi tingkah laku pers berdasarkan Undang-Undang Pers dan Kode Etik Jurnalistik.

    Apakah perusahaan media tersebut memilik alamat kantor dan keredaksian yang jelas. Kita perlu membaca berita lebih dari satu sumber informasi baik cetak (koran, majalah) atau elektronik (poral berita online, televisi, radio) untuk membandingkan berita tersebut dengan sumber lain yang memiliki sudut pandang berbeda.

    Semakin banyak perbandingan akan memperkaya sudut padang dan pengayaan sumber referensi pengetahuan mengenai isu yang ingin kita ketahui.

    Media sosial (Facebook, Instagram, Twitter) dan aplikasi percakapan daring/ chating (Whatsapp, Telegram, dsb) memperburuk situasi simpang siurnya kebenaran informasi.

    Melalui grup-grup chating beredar banyak informasi yang tidak jelas sumbernya namun tersebar luas dan terkadang langsung ditelan mentah-mentah sebagai rujukan informasi yang benar.

    Cuplikan video pendek tidak lengkap yang sengaja dipotong-potong, meme (kutipan bergambar), pesan berantai dengan bertuliskan nama tokoh publik (agamawan, pejabat publik, politisi, praktisi profesional, dsb) seolah sudah mencukupi sebagai validasi kebenaran.

    Fenomena ini mewarnai pesta demokrasi Pemilu 2019, berita hoax, kampanye hitam, ujuran kebencian beredar dan tersebar luas tanpa kenal batas tingkat pendidikan maupun ekonomi.

    Mengutip tulisan seorang Profesor Psikologi Harvard Steven Pinker dalam bukunya yang berjudul “Enlightment Now”; Hal-hal buruk dapat terjadi dengan cepat, tetapi hal-hal yang baik tidak dibangun dalam sehari.

    Internet berhasil mengubah perilaku manusia dengan cepat. Penting untuk mempunyai pengetahuan dasar menggunakan internet secara bijak guna memperoleh manfaatnya yang luar biasa.

    Namun butuh waktu lebih lama untuk memperbaiki kerusakan yang diakibatkan daripada mempelajari cara menggunaannya.

    Kunci utama memperoleh kebaikan dan terhindar dari kerusakan akibat internet adalah litertasi (membaca dan menulis). Pendidikan menjadi sarana penting untuk mengembangkan literasi, karena meningatkan minat dan perilaku membaca masyarakat tidak bisa ditawar lagi.

    Tulisan menarik lainnya

    Baca juga : Kenakalan Anak dan Penghayatan Maulid Nabi

    Baca juga : Memasyarakatkan Kembali Narapidana

    Baca juga : Darurat Korupsi, Akan Sampai Kapan?

    Husni Mubarok, Petugas BAPAS Kelas II Pontianak, Alumni Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta.

    (Visited 96 times, 1 visits today)
    Please follow and like us:
    error

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here