Jalan Keabadian Ani Yudhoyono

Harus berjuang mengalahkan Kanker Darah yang ia derita

0
235
views
Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden ke-6 Republik Indonesia tengah mendorong Ani Yudhoyono yang selama 3 bulan lebih dirawat di NUH, Singapore. Sumber foto: kompas.com
  • Artikel Tussie Ayu
  • Tenggorokan saya seperti tercekat ketika mendengar berita ini. Kemudian kenangan bersama Ibu Ani seperti terulang dalam ingatan.

    Pertemuan saya dengan Ibu Ani pertama kali mungkin sekitar tahun 2006, ketika saya ditugaskan sebagai reporter yang "attach" dengan kegiatan ibu negara dan SIKIB (Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu).

    Saat itu saya masih reporter ingusan di koran baru bernama Jurnal Nasional. Saya juga sebenarnya tidak terlalu mengerti, mengapa saya yang dipilih oleh kantor sebagai reporter ngepos di istana, khusus untuk meliput kegiatan Ibu Ani dan SIKIB.

    Tapi saya menerima tugas itu sebagai tantangan, dan saya menjalaninya dengan senang hati.

    Meliput kegiatan Ibu Ani, otomatis saya mendapat banyak kesempatan berharga. Beberapa di antaranya adalah mendapatkan ID Pers Istana (hanya wartawan yang memiliki ID ini, yang bisa masuk ke lingkungan istana), bisa naik pesawat kepresidenan (termasuk masuk ke base ops Halim Perdanakusuma), masuk ke kediaman pribadi Presiden SBY di Cikeas, dan banyak lagi kenangan indah lainnya.

    Namun bukan berarti semuanya indah, di balik kemudahan-kemudahan itu, tentu saya memiliki banyak tanggung jawab.

    Saya dituntut untuk bisa menghasilkan tulisan-tulisan yang indah, akurat, dan "sesuai". Beberapa kali saya kena semprot Andi Mallarangeng (saat itu menjabat sebagai Jubir Presiden), Nurhayati Assegaf (saat itu menjabat sebagai Aspri Ibu Ani), atau ibu-ibu anggota SIKIB seperti Ibu Widodo AS (saat itu menjabat sebagai salah satu pimpinan SIKIB).

    Biasanya karena angle yang saya ambil dianggap kurang bagus, atau karena foto yang ditampilkan tidak bagus.

    Saya ingat, terkadang ketika menulis berita tentang Ibu Ani, jantung saya berdebar, menerka apakah angle yang saya ambil kali ini dirasa cukup sesuai? Tapi sungguh, semuanya merupakan pengalaman yang sangat berharga dan tak terlupakan.

    Salah satu pengalaman paling berharga adalah ketika saya, Pak Ramadhan Pohan Full dan Mba Sally Piri berkesempatan untuk mewawancarai Ibu Ani secara eksklusif di Cikeas.

    Saat itu, kami diterima di perpustakaan pribadi di Cikeas. Ibu Ani menerima kami dengan hangat.

    Walaupun saya yang termuda dan paling junior di dalam tim itu, namun tak sedikitpun saya merasa dikecilkan.

    Selain itu, pengalaman berharga lainnya adalah ketika saya ditugaskan untuk meliput kegiatan Ibu Ani dalam United Nations Framework Convention on Climate Change di Bali tahun 2007.

    Selama 2 minggu, saya ditugaskan untuk meliput kegiatan SIKIB yang berkaitan dengan lingkungan hidup, sekaligus meliput konferensi perubahan iklim.

    Ini adalah event internasional pertama yang saya liput dan sangat berkesan hingga saat ini.

    Pertemuan terakhir dengan Ibu Ani terjadi tahun lalu, ketika saya ikut menghadiri peluncuran buku biografi Ibu Ani tentang perjalanan selama 10 tahun menjadi Ibu Negara.

    Saat itu beliau masih sangat energik dan semangat, tak terlintas sedikit pun itu akan menjadi kesempatan terakhir bagi saya untuk bertemu dengan beliau.

    Yang saya sesalkan adalah, saya bukan penyimpan foto yang baik. Saya juga bukan tipe wartawan yang senang berfoto-foto dengan narasumber.

    Darah muda penjunjung tinggi kode etik jurnalistik, membuat saya menjaga jarak dengan semua narasumber.

    Urusan pekerjaan adalah pekerjaan, urusan pribadi adalah urusan pribadi. Foto-foto dengan Ibu Ani pun sudah hilang bersamaan dengan matinya jejaring sosial Friendster di dunia maya.

    Selama sekitar tiga tahun meliput kegiatan beliau, saya selalu ingat betapa Ibu Ani adalah seorang public speaker yang handal.

    Pidato-pidato beliau selalu bersemangat, berisi dan menggugah. Dan beliau bisa mewujudkan visi-visinya dalam bentuk nyata.

    Seperti program perpustakaan keliling bernama mobil pintar, kapal pintar dan rumah pintar yang menggagas pemerataan literasi di daerah-daerah terpencil.

    Beruntunglah Indonesia pernah memiliki Ibu Negara seperti Ibu Ani, she is a true inspiration.

    Selamat jalan menuju keabadian, Ibu Ani. Terima kasih untuk inspirasi yang telah engkau tularkan untuk Indonesia.

    Biografi Ani Yudhoyono:

    Hj. Kristiani Herrawati, S.IP., atau lebih dikenal dengan nama Ani Yudhoyono, adalah Ibu Negara Republik Indonesia sejak 20 Oktober 2004 hingga 20 Oktober 2014. Ia adalah istri dari Presiden Indonesia keenam, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono. Meninggal: 1 Juni 2019. Orang Tua: Sarwo Edhie Wibowo, Hj. Sri Sunarti Hadiyah. (Sumber: Wikipedia)

    [Sumber asli tulisan dari beranda Facebook Tussie Ayu]

    [Penulis adalah mantan jurnalis Jurnal Nasional yang bertugas di Istana Negara, Jakarta. Pernah bekerja di Kompas TV dan TV One. Tinggal di Jakarta]

    (Visited 93 times, 1 visits today)
    Please follow and like us:
    error

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here