Melintasi Semesta Kecil Tongkonan

mempelajari Toraja adalah mempelajari tongkonan

0
44
views
Sumber foto: pesona travel
  • Artikel Suciyadi Ramdhani
  • Ada perumpamaan bahwa identitas itu adalah ke-kita-an. Dimiliki hanya oleh sekelompok orang yang merasa hidup dalam falsafah yang sama, gen yang sama, atau tradisi yang sama.

    Identitas kita adalah milik kelompok kita, identitas lain adalah milik kelompok lain.

    Penganut teori evolusi percaya bahwa identitas suatu kelompok berkembang dari pengalaman manusia yang cukup lama, belajar dari lingkungan secara bertahap.

    Lain halnya dengan teori difusi yang menunjukan bahwa identitas kelompok dipengaruhi oleh persebaran dari satu tempat ke tempat lain, dari satu kelompok ke kelompok lain.

    Terlepas dari semua teori tentang kebudayaan suatu kelompok, ujung dari perdebatan itu adalah tipikal dari kelompok di tengah keberagaman.

    Dibedakan oleh karya melalui proses olah pikir yang pada akhirnya menjadi budaya milik suatu kelompok, membedakan yang satu dengan yang lain.

    Dengan segala usahanya terus memelihara ke-kita-an, diwariskan dengan harapan karya yang telah dibuat nenek moyangnya itu turut dipertahankan.

    Karya itu diciptakan dan menciptakan. Sama halnya dengan semesta kecil Toraja yang disebut tongkonan.

    Diciptakan oleh kelompok manusia, lalu kembali menciptakan falsafah hidup manusia.

    “…mempelajari Toraja adalah mempelajari tongkonan”,

    Begitu kata seorang bapak yang dengan cakap bercerita di bawah lumbung sebari menyeruput kopi.

    Tongkonan mencerminkan identitas Toraja yang paling mapan. Berakar pada suatu aspek ke-kita-an yang tentu tidak dimiliki kelompok atau sukubangsa lain.

    Tongkonan adalah bangunan tradisional Toraja, dihiasi dengan ukiran berwarna yang kompleks dan maknawi.

    Tongkonan berasal dari kata tongkon yang berarti duduk. Duduk tidak dimaknai secara pasif yang berarti diam bersantai di sebuah tempat, melainkan duduk bersama dalam suatu perencanaan keluarga besar maupun penyelesaian masalah dengan bermusyawarah.

    Tongkonan juga digunakan sebagai pusat pelaksanaan upacara adat sehingga tongkonan bukan sekedar tempat yang ditinggali, tapi juga tempat melakukan ibadah oleh orang-orang yang memiliki hak di situ (garis keturunan), dan itu lah tongkonan yang pada dasarnya bersifat sakral dan memiliki aturan dalam pembangunannya.

    Tongkonan mendorong orang Toraja untuk selalu mengenal kerabat satu sama lain, mengenal siapa nenek/kakek mereka, mengenal bagaimana kebesaran budaya mereka, dan mengetahui darimana mereka berasal.

    Ini menggambarkan bahwa tongkonan membuat keluarga di Toraja “kembali ke akar”. Maksudnya seberapa jauh Orang Toraja merantau, seberapa lama mereka tinggal di perantauan, dan seberapa sukses pencapaian keuangan mereka; tongkonan akan tetap mengembalikan mereka pada asalnya. Orang akan bertanya “...kamu berasal dari tongkonan mana?”.

    Tongkonan tidak hanya merujuk pada satu bangunan rumah, tapi juga satu sistem kehidupan yang meliputi lumbung padi (alang), sawah, tempat ritual (rante), makam (liang).

    Terutama tongkonan dan alang adalah keutuhan yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya menunjuk pada dua dimensi kehidupan yaitu dewa-dewa dan leluhur.

    Di mana pun tongkonan berada, letak posisinya akan selalu menghadap ke utara, yang berarti penghormatan pada Puang Matua atau dewa tertinggi sebagai pencipta alam semesta.

    Puang Matua dipercaya berada di utara yang bertepatan dengan hulu sungai di wilayah Toraja.

    Orientasi tongkonan yang selalu menghadap utara diikuti juga oleh pemahaman terhadap bagian belakang tongkonan dan alang yang menghadap selatan.

    Bagian selatan dalam kepercayaan Orang Toraja adalah tempatnya puya (akhirat), yang merepresentasikan hubungan dengan para leluhur dan kehidupan setelah kematian.

    Siklus hidup Orang Toraja juga tidak terlepas dari waktu, yang turut menentukan aktivitas apa yang akan dilakukan di pagi hari, siang hari, hingga malam hari.

    Waktu sebagai elemen penting dalam kehidupan, di mana ritus-ritus mengacu pada waktu terbit dan terbenamnya matahari.

    Pun dengan aktivitas pertanian yang menjadi pekerjaan utama Orang Toraja di pedesaan, ditentukan oleh seberapa dekat antara manusia dengan waktu.

    Pengetahuan akan waktu melalui gerak matahari, turut membuat Orang Toraja mengetahui secara pasti tentang aturan.

    Kapan dan di mana upacara adat dilakukan, kemana seharusnya arah bangunan rumah diposisikan, telah diatur sedemikian rupa.

    Pengetahuan ini lahir dari sebuah falsafah hidup yang tercermin dari semesta kecil tongkonan. Sebuah karya Orang Toraja yang kompleks.

    Itulah maksud bahwa karya menciptakan. Menciptakan sebuah falsafah bagi orang yang terikat dalam satu identitas, identitas Toraja.

    Falsafah tongkonan memainkan peran besar dalam karya hidup Toraja. Semuanya tidak didesain begitu saja, melainkan perlambang kebesaran budaya Toraja yang pada hakikatnya memiliki relasi keharmonisan dengan semesta.

    Keteraturan kelompok di bawah falsafah hidupnya memungkinkan Orang Toraja menciptakan karya-karya penuh makna, seperti semesta kecil tongkonan.

    [Sumber tulisan dan tulisan lainnya ada di sroombrary.wixsite.com]

    [Penulis adalah antropolog dan dosen di IAIN Syekh Nurjati, Cirebon. Tinggal di Cirebon]

    (Visited 16 times, 1 visits today)
    Please follow and like us:
    error

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here