Pidato Soeharto dan Surat Tagore Kepada Gandhi

Kekuasaan apapun bentuknya selalu irasional; seperti kuda yang ditutup matanya

0
128
views
Pidato Soeharto. Sumber foto: www.x.detik.com
  • Artikel Hasan Aspahani
  • Pada malam tanggal 17 Juni 1966, Letjen Soeharto, sebagai Waperdam Hankam dan Menteri Panglima Angkatan Darat, berpidato di radio dan televisi. Pidato itu diselenggarakan untuk menyambut Sidang Umum ke-4 MPRS.

    Judul atau tema pidatonya adalah: Adakan jaminan-jaminan obyektif untuk cegah kecenderungan ke arah kultus perseorangan dan mencegah kecenderungan kepada anarkisme liberal.

    Masih segar diingatkan, ajakan kami di saat-saat dekat setelah penggunaan Surat Perintah Presiden tanggal 11 Maret 1966, yang dengan segala kesungguhan hati dan penuh rasa tanggung-jawab, kami dengan dukungan rakyat telah membubarkan Partai Komunis Indonesia dan mengambil tindakan terhadap sejumlah Menteri dan Pejabat-Pejabat lain yang cukup ada indikasi hubungannya dengan Gerakan 30 September/PKI, juga terhadap mereka yang diragu-ragukan iktikad baiknya dalam membantu Presiden dan mereka yang secara amoral dan asosial hidup bermewah-mewah di atas beban pundak rakyat yang dideritakan karenanya….,” Soeharto memulai pidatonya dengan kalimat panjang itu.

    Baca juga : Buku Marx dan Engels di Ruang Kerja Mayjen Sutojo Siswomihardjo

    Supersemar.

    PKI dibubarkan.

    Menteri dan pejabat yang terindikasi terlibat G30S ditindak.

    Mereka yang tak beritikad baik membantu Presiden – waktu itu Sukarno masih sebagai Presiden – juga ditindak.

    Mereka yang secara amoral dan asosial hidup bermewah-mewah di atas beban pundak rakyat juga ditindak.

    Satu surat perintah, empat libasan!

    Dan Soeharto menutup pidatonya dengan menanggapi desas-desus yang mengatakan seolah-olah persidangan MPRS dijadikan untuk mendongkel-dongkel Presiden Sukarno.

    Soeharto memetakan situasi politik yang membagi elit ke dalam kubu Pro-Sukarno dan Anti-Sukarno.

    Soeharto juga menanggapi pamflet liar yang berbunyi: Awas, Jangan dongkel-dongkel Bung Karno dengan kedok UUD 1945.

    “Jelas, masalah itu digerilyakan oleh Gestapu/PKI dan oleh kaum vested interest, yang hanya dapat hidup karena bergandulan kepada azas kekuasaan kultus perseorangan,” kata Soeharto.

    Oleh karena itu, Soeharto berpesan kepada MPRS yang hendak bersidang, “Hindarkanlah kecenderungan ke arah kewenang-wenangannya pemusatan kultus perseorangan, akan tetapi hindarilah juga kecenderungan ke arah liarnya anarchisme liberalisme.

    Kita ulangi, tema pidato pengantar sidang MPRS itu adalah: Adakan jaminan-jaminan obyektif untuk cegah kecenderungan ke arah kultus perseorangan dan mencegah kecenderungan kepada anarkisme liberal.

    Itulah koridor kehidupan politik yang dijaga Soeharto selama ia berkuasa. Di satu sisi mencegah anarkisme liberal, di sisi lain mencegah terjadinya kultus perseorangan.

    Pada satu sisi, Soeharto berhasil, pada sisi lain mungkin ia gagal: ia kemudian menjadi pusat dari segala pusaran politik di Indonesia, dia dikultuskan!

    Baca juga : Penjara tidak Mengubah Seorang Sukarno

    Ada seorang tentara idealis. Ketika G30S PKI meletus, ia sedang berada Sumatera Utara bergabung dengan satu brigade yang disiagakan di hadapan Selat Malaka, dalam kaitan konfrontasi dengan Malaysia.

    Ketika meletus G30S/PKI, namanya berada dalam daftar tentara yang hendak dihabisi PKI, karena dia sangat anti-komunis dan berperan banyak menumpas pemberontakan PKI di Madiun.

    Ia dipanggil Soeharto ke Jakarta untuk memperkuat tentara memulihkan keamanan di Jakarta pasca-G30S-PKI.

    Ia lalu diangkat menjadi Kepala Staf KOSTRAD, dan menjadi panglima pasukan darat di Jakarta, dan merancang upaya pembersihan di daerah-daerah.

    Soeharto mempercayainya untuk mengawal gerakan mahasiswa.

    “Jagalah anak-anak muda ini jangan sampai mereka menjadi korban. Gerakan mahasiswa adalah gerakan kita juga,” ujar Soeharto.

    Ia dekat dengan Abdul Gafur, David Napitupulu, dan Cosmas Batubara, beberapa nama tokoh pergerakan mahasiswa kala itu.

    Tetapi kemampuannya menggalang kedekatan anak-anak muda dan masyarakat luas pada umumnya kelak membuatnya menjadi tokoh yang mengancam posisi Soeharto, dan karena itu ia harus diredam.

    Baca juga : Banzai! Banzai! dan Raung Sirine di Kota Padang

    Soeharto memerintahkan dia untuk menangkap Soebandrio, dengan cara apa saja. Untuk itu ia menempatkan pasukan tanpa identitas – yang sebenarnya adalah bagian dari pasukan RPKAD – mengepung Istana Negara, di mana Soebandrio berlindung.

    Baginya peristiwa G30S-PKI merupakan lembaran hitam dalam sejarah bangsa Indonesia.

    Orang komunis membunuh banyak orang Islam, sebaliknya ratusan ribu anggota partai komunis itu terbunuh pasca-pemberontakan yang gagal itu.

    Ia ikut membangun orde baru dengan bangga, dengan sepenuh pengabdian, tapi kemudian kecewa menyaksikan bagaimana kekuasaan pelan-pelan mengubah kawan-kawan militernya, juga mengubah Soeharto yang semakin merasa besar, semakin merasa paling benar, dan tak lagi mau mendengar pendapat orang lain.

    Ia menolak dijadikan duta besar, karena itu berarti ia dibuang di saat ia merasa pengabdiannya pada Indonesia yang sedang membangun begitu dibutuhkan, tetapi akhirnya harus menerima penugasan di Yugoslavia dan kemudian Yunani.

    Ia yang menolak tawaran Soeharto untuk dikaryakan sekembalinya dari tugas menjadi duta besar, karena itu ia disebut sebagai “Jenderal Bodoh”, dan memilih bekerja profesional dan kemudian menjadi pengusaha pengelola sampah di Jakarta, karena itu dia disebut “Jenderal Sampah”.

    Ia yang kelak ikut merumuskan sikap dan menandatangani apa yang terkenal sebagai “Petisi 50” sebagai protes kepada Presiden Soeharto yang di mata mereka sudah menyimpang dari cita-cita awal Orde Baru.

    Dan karena itu ia menjadi musuh utama penguasa dan kemudian bertahun-tahun ia dibungkam.

    Dialah yang bersama empat belas orang jenderal senior mendatangi gedung DPR/MPR-RI, menjelang reformasi 1998, dan meminta DPR untuk mendesak Soeharto mengundurkan diri atau mengundang ke sidang istimewa.

    Darahnya tulen Minang, tapi ia sama sekali tak bisa berbahasa Minang. Ia fasih berbicara dalam beberapa bahasa asing. Ia adalah Kemal Idris. Ia lahir di Singaraja, 1923 – Meninggal di Jakarta 2005.

    Baca juga : Sukarno: Pakailah Peci Sebagai Lambang Indonesia Merdeka

    Pada tanggal 19 April 1919. Penyair besar India menulis surat kepada Mahatma Gandhi: Kekuasaan apapun bentuknya selalu irasional; seperti kuda yang ditutup matanya, yang menghela kereta. Moral adalah kusir, dialah yang sosok manusia yang mengendalikan kuda itu.

    Ya, morallah yang mengembalikan kekuasaan yang irasional itu kepada akal sehat. Dan sejarah? Sejarah adalah seorang tua bijak yang berpapasan di jalan, yang memberi tahu kusir tentang jalan yang akan ditempuhnya di depan sana.

    [Penulis adalah mantan wartawan. Kini bermukim di Jakarta. Giat menulis puisi dan sedang mendalami penulisan naskah film. Tukang gambar yang rajin berkeliling Jakarta]

    Artikel "Pidato Soeharto dan Surat Tagore Kepada Gandhi" merupakan konten kolaborasi dengan narakata.com, konten serupa bisa dilihat di sini

    (Visited 53 times, 1 visits today)
    Please follow and like us:
    error

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here