Pada Timbunan Sampah Plastik

Menteri Susi menyebut Indonesia adalah penyumbang sampah plastik kedua terbesar di dunia.

0
84
views
Sampah-sampah yang tidak terkelola dengan baik. Foto: Bim Harahap
  • Artikel 
  • Sungguh soal sampah plastik terlalu sulit diatasi hanya dengan kampanye berbagai tagar.

    Terobosan konkrit penting dieksekusi sesegera mungkin, mengingat jumlah sampah plastik saat ini begitu mencemaskan.

    Dengan jumlah produksi sampah plastik yang terus meningkat dari hari ke hari.

    Ini tak bisa didiamkan saja. Harus ada yang bergerak. Itu jika kita tak ingin anak cucu kita hidup dalam timbunan sampah.

    Tahun 2018 lalu, Menteri Susi menyebut Indonesia adalah penyumbang sampah plastik kedua terbesar di dunia.

    Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton/tahun di mana sebanyak 3,2 juta ton merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut.

    Bukan tidak mungkin kelak saat mengkonsumsi ikan gembung bakar yang lezat itu, kita juga sedang mengkonsumsi kepingan ember anti pecah.

    Sebagai pelaku UMKM yang menggunakan cup plastik, ada dilema besar yang kadang membuat tidur tidak nyenyak, bagaimana tidak.

    Dalam sehari kami turut menyumbang sampah plastik hingga 50-100 cup kemasan per hari.

    Jika di total, kami turut menyumbang 1.500 hingga 3.000 cup kemasan sampah plastik per bulan.

    Setahun? saya khawatir saat makan udang saos tiram, saya menemukan di balik cangkangnya cup kopi kemasan produksi warung kopi kami sendiri.

    itu dilemanya.

    Apakah kami menyadari? ya kami sangat menyadari betul dampaknya.

    Solusinya? beberapa kawan menyarankan sediakan tumbler. Apakah efektif? kami belum tau pasti seberapa efektif itu kelak.

    Belum lama ini, seorang teman mengirimkan link berita bahwa di Jerman telah ada produksi cup kopi daur ulang dari ampas kopi.

    Tentu jika dibebankan pada pelaku UMKM untuk membeli alatnya, bisa-bisa seluruh aset usaha kami terjual, itu mesin belum juga terbeli.

    Saya membayangkan, ada tangan yang lebih kuat untuk tampil ambil bagian, dalam hal ini pemerintah.

    Tidak perlu pemerintah pusat, pemerintah daerah saja ambil peran. Kota Medan saja misalnya, dengan memanfaatkan forum CSR yang ada.

    Duduk bersama untuk memikirikan bagaimana ada produksi massal kemasan ramah lingkungan dengan harga terjangkau.

    Bisa kerjasama G to G dengan negara lain untuk pengadaan alat.

    Bukankah soal lingkungan adalah persoalan seluruh warga dunia? syukur-syukur unit ini bisa menjadi BUMD baru yang menjadi sumber pendapatan kota metropolitian yang gegap gempita ini.

    Apa mungkin pelaku UMKM mau beli? itu kan soal regulasi, sama halnya soal pajak, jangan terlalu pesimislah dengan rakyat.

    Sediakan produksi massal kemasan dan kantong plastik daur ulang, letakkan harga sesuai standar.

    Wajibkan seluruh pelaku UMKM menggunakan (dengan catatan harga tak mencekik).

    Bayangkan, kemasan dan kantong plastik daur ulang tersebut setelah digunakan masuk ke tong sampah.

    Kemudian diangkut oleh dinas kebersihan, setelahnya kembali didaur ulang oleh unit yang bertugas memproduksi kemasan dan kantong ramah lingkungan tersebut.

    Artinya kota ini dapat bahan baku gratis yang kemudian dapat diproduksi kembali.

    Apa mungkin?

    Mungkinlah, jika pemimpinnya....?

    [Sumber tulisan dari sini]

    [Penulis adalah seorang pedagang kopi pinggir jalan. Mantan wartawan Koran Sindo Medan. Asisten Koordinator Fasilitator Wilayah TFCA Sumatera Regional Utara di Leuser Conservation Partnership. Tiggal di Medan, Sumatera Utara]

    (Visited 19 times, 1 visits today)
    Please follow and like us:
    error

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here