Menenun Kehidupan di Sa’dan

andai suatu ketika, tenun ini menjadi pengikat keakraban antarmanusia, menjadi simbol bagi siapa saja yang ingin mengenal kami, dengan bijak...

0
47
views
Festival Tenun di Sa'dan. Foto: Suciyadi Ramdhani
  • Artikel Suciyadi Ramdhani
  • Sa’dan. Sungai terpanjang di Sulawesi Selatan yang membelah tanah Toraja dan memberi kehidupan bagi mahluk hidup di sekitarnya.

    Sungai yang terlihat tenang, dihiasi bebatuan purba yang menancap disekitaran.

    Buku-buku Antropologi berbicara banyak tentang Sa’dan. Entah karena dulu lebih dikenal sebagai Toraja Sa’dan yang otonom dengan wilayah Toraja lainnya atau memang Sa’dan memiliki keunikan di dalamnya.

    Siapa sangka, sungai ini memberikan warna bagi kehidupan Orang Toraja, membentuk kekhasan Toraja dari identitas lainnya.

    Dan yang paling berarti adalah sungai ini menjadi inspirasi bagi orang-orang yang hidup di sekitarnya untuk menamakan tempat di mana mereka tinggal, yakni Sa’dan.

    Masuk dalam kehidupan Sa’dan, begitu penuh warna. Warna yang disusun sedemikian rumitnya menjadi sebuah simpul kehidupan.

    Kehidupan yang menghiasi hari-hari perempuan Sa’dan. Mereka sedang menenun kehidupan, yang diekspresikan melalui ratusan helai benang.

    Membentuk motif-motif yang menjadi cermin kultur Orang Toraja. Menggariskan apa yang ada dalam benak, menjadi sebuah karya.

    Karya tenun yang maknawi. Tenun Sa’dan bukan sekedar disusun dari helai demi helai benang, tapi disusun dari cerita dengan penuh kesabaran, ketelitian, dan keikhlasan.

    Cerita luhur dari leluhur, yang dibanggakan di setiap harinya. Muda-renta kokoh mewariskan tenun dengan semangat dan pengharapan.

    “...andai suatu ketika, tenun ini menjadi pengikat keakraban antarmanusia, menjadi simbol bagi siapa saja yang ingin mengenal kami, dengan bijak”.

    Begitu kiranya suara pengharapan. Cahaya mata mereka terlihat tak pernah lelah untuk bermimpi.

    Bermimpi dalam naungan keinginan yang kuat untuk melahirkan wastra.

    Di sini, satu warna menggambarkan banyak cerita. Kuning melambangkan sinar matahari, anugerah kehidupan dari Sang Puang Matua.

    Merah adalah darah, sebuah simbol kehidupan. Putih adalah tulang, sebagai simbol kesucian dalam hidup.

    Hitam adalah kegelapan, yang akan menjadi akhir dari kehidupan manusia di bumi, yakni kematian.

    Suatu ketika seorang nenek mendekat, bercerita. Ukiran-ukiran indah yang ada di tongkonan dan alang harus didasari warna hitam, lalu dirias dengan motif lain berwarna merah, kuning, dan putih.

    Siapa kira, itu adalah sebuah falsafah. Falsafah yang mendasari konstruk pikir, bahwa kehidupan ini didasari oleh kematian.

    Itu sedikit cerita saja dari sebuah warna ukiran. Warna yang menggerakan manusia, menentukan sikap.

    Pun dengan tenunan, beragam warna dipilih tidak dengan sembarang, tapi dengan aturan.

    Aturan yang bercita-cita membuat manusia lebih bijak. Bijak menyikapi kehidupan, bijak menyikapi kematian.

    Selaras. Sa’dan telah menemukan jati dirinya. Itulah mereka, Orang Sa’dan sedang menenun kehidupan.

    [Sumber tulisan dan tulisan lainnya ada di sroombrary.wixsite.com]

    [Penulis adalah antropolog dan dosen di IAIN Syekh Nurjati, Cirebon. Tinggal di Cirebon]

    (Visited 22 times, 1 visits today)
    Please follow and like us:
    error

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here