Mengutuk Ketololan di Dalam Bungker

Lalu Ethile? Di mana laki-laki itu. Lalu polisi Kroasia itu? Saya juga melihatnya dengan jelas

0
32
views
Benny Arnas di Praha. Foto: Dokumentasi Benny Arnas.
  • Artikel Benny Arnas
  • Saya baru tahu sekarang kalau berada dalam semacam bungker itu seperti menunggu ajal yang akan datang dalam ketukan yang tak takut sekali dibayangkan.

    Oh, bagaimana mayat dalam kubur setelah pengantar jenazah melangkah delapan langkah meninggalkan kuburan? Oh tak sanggup saya bayangkan.

    Ruangan gelap ini tidak besar, tapi cukup tinggi. Mungkin tingginya 1,8 meter dengan luas 1 x 1,5 meter. Karena lantai kayu di atas sudah tertutupi karpet, saya tak bisa melihat apa pun.

    Baca juga : Di Praha, Saya Takut, Takut Sekali!

    Saya hanya mendengar bunyi sepatu yang menginjak lantai tanpa diawali bunyi pintu didobrak. Tampaknya ada beberapa orang. Mungkin 3 atau 4 orang. Mereka berbicara dalam bahasa Kroasia. Oh saya kenal sekali suara mereka.

    Saya hakkul yaqin kalau salah duanya adalah David dan Feo. Mereka hilir mudik. Kadang mendekat lalu menjauh lagi dari lantai tempat saya bersembunyi. Oh benar-benar begitu dekat kematian itu.

    Dalam keadaan cemas tak tepermanai, saya mencoba berpikir jernih.

    Kalau semua ini tentang kejahatan di Plivitce itu, mengapa saya harus takut begini? Saya siap jadi saksi dan menceritakan semua apa adanya? Kalaupun waktu saya akan habis beberapa hari di Kroasia karena memang pihak kepolisian membutuhkan, saya pikir tak ada salahnya. Sesimpel itu.

    Oh Ethile, mengapa kamu seberlebihan ini merespons semua ini. Kenapa kamu tidak mendengarkan saran saya untuk mengonfirmasi ke nomor telepon resmi di lama policija.hr untuk memastikan segalanya.

    Kenapa kamu, atas nama kekesalan ditipu, lebih memilih ke rumah sakit untuk menjenguk Aida dan kamu pun tak mendapatkan apa-apa! Dan kini, pihak berwajib malah mencari-cari kita.

    Tentu saja, tebakanku, ini adalah tentang mangkirnya kita dari panggilan mereka untuk menjadi saksi atas kasus di Plivitce itu. Tentu mereka heran bin aneh dengan sikap kita yang menurut mereka tidak bisa diajak bekerjasama—padahal urusannya tidak sesederhana itu.

    Saya sedang berpikir untuk keluar dari persembunyian dan menyerahkan diri untuk kemudian menjelaskan segalanya dari awal, dari nol. Kalau Ethile tak sepakat dan membenci saya sehingga memutuskan berhenti jadi fasilitator residensi ini, no problem.

    Kalaupun residensi harus berakhir di Ceko, ya mau apa lagi. Saya pulang lebih cepat untuk sesuatu yang lebih baik, tak ada salahnya.

    Baca juga : Ketegangan di Plivitce (Bagian 1)

    Suara sepatu yang tadi hilir-mudik sudah tak lagi terdengar. Di kejauhan, keriuhan masih bergremengan di telinga. Lima menit kemudian, saya masih belum membuat keputusan.

    Ah, saya benci keadaan yang melampaui batas seperti ini. Kenapa saya harus berada dalam posisi yang aneh seperti ini, kenapa saya menerima saja instruksi Ethile untuk menjadi pseudo-kriminal begini, seakan-akan saya adalah psikopat yang sedang menyiapkan skrip baru untuk sebuah aksi yang menggemparkan esok harinya? Ahhhhh!!!

    Saya akhirnya benar-benar berteriak. Saya melompat dan mendorong lantai di atas kepala saya dengan sekuat tenaga yang berkumpul di kedua tangan. Huft! Lantai itu berbunyi tapi tak bergerak. Wah parah nih! Ethile kelewatan! Lubang ini sepuluh meter lebih tinggi daripada saya.

    Apa Ethile sengaja? Prasangka buruk itu menyerang-nyerang saya. Udara mulai pengap. Apa keadaan ini dipengaruhi oleh kecemasan saya atas kemungkinan Ethile berbuat jahat pada saya? Ah, saya tak ingin memikirkan banyak hal. Saya ingin keluar saat ini juga dari persembunyian keparat ini.

    Saya ingat sesuatu. Ponsel. Saya merogoh kantong jins dan mengeluarkan benda yang baru saya sadari bisa jadi alat penerangan sekaligus. Saya cek baterai.

    Alhamdulillah masih 53 persen. Saya menelepon Ethile. Tak ada nada dering. Ketika saya cek di kiri atas layar, sinyal hanya satu batang, itu pun mati-hidup.

    Saya makin cemas.

    Baca juga : Kamu Salah Memilih Teman Curhat, Eth!

    Oh haruskah saya meregang nyawa di residensi yang mulia ini? Saya tiba-tiba menyesal meminta Ethile membawa saya ke-12 negara ketika kami berada dalam Luftansa Airlines dalam penerbangan dari Paris ke Munich.

    Dengan jari manis dan kelingking yang berlumur tinta pencoblosan calon presiden dari KBRI Paris, saya menunjukkan telunjuk kaman dan kedua jari bertinta di tangan kiri kepadanya.

    “Oke. Kita lihat, Benn. Dua belas negara akan membuat kita hectic selama sebulan. Belum lagi jadwal dengan narasumber yang harus kau atur dengan sangat presisi. Berakhir di Portugal?”

    Dan saya menggeleng, seraya bilang “Maroko!”

    Tapi, saat ini, Portugal atau pun Maroko, sungguh tak ada arti lagi. Yang ada dalam pikiran saya hanya bebas dari sini. Oke, saya coba lagi. Kali ini saya menggunakan ransel saya yang penuh untuk dilemparkan ke atas. Nihil! Hasilnya sama saja.

    Tiba-tiba terdengar suara tepukan beberapa kali dari lantai ini. “Benn, you are just locked. Swith the lights on.”

    Oh suara perempuan. Apalagi ini? “How to switch it on?” tanya saya dengan suara bergetar. Tangan saya meraba-raba dinding. Ceklek. Saya sepertinya tidak sengaja menekan tombol. Lampu menyala dan lantai di atas seperti ditarik ke atas. Dua orang gadis yang wajahnya saya kenal mengulurkan tangan.

    “Benny,” kataku seraya menerima uluran tangannya. “Shitttt! This is not a good time to say hello, Benn!” Ia lalu menarik tangan tanhan saya sangat kuat hingga saya dengan mudah bergerak keluar.

    “Kamu sedang butuh bantuan, eh malah mengangga uluran tangan saya sebagai tawaran perkenalan. Lucu juga, Indonesia ini!” Ia nyengir pada rekannya yang juga nyengir.

    Mereka adalah dua dari tiga resepsionis di bawah tadi. Seorang Amerika dan Prancis. “Ethile mana?” tanya saya begitu tiba di atas. “Kami pikir kami yang akan menanyakan itu padamu?” Gadis Prancis mengerutkan kening.

    “Sudahlah, Xing.” Gadis Amerika tersenyum pada gadis Prancis yang ia panggil Xing barusan. “Dia sudah lelah, jangan ditambah lagi.” Lalu mereka berdua tertawa. “So, di mana Ethile?” Kali ini saya memandang gadis Amerika. “Dia sebentar lagi tiba. Dia mungkin akan menceritakan segalanya.”

    “Sebentar, jadi kalian berdua ini mengenal Ethile sudah lama?” Saya penasaran. “Yes, we are,” jawab gadis Amerika cepat. “He’s nice, hot, dan unpredictable!” timpal Xing dengan ekspresi nakal.

    “Okay, bagaimana polisi Kroasia tadi?”. “Polisi Kroasia?” Xing refleks bertanya balik sebelum kemudian memandang gadis Amerika yang balas memandangnya. Kali ini saya sedang memandang kedua gadis yang sedang berpandangan. Ach!

    “Tidak ada polisi di sini, Benn.” Xing menggeleng. “Apalagi polisi Kroasia. Ngapain mereka ke sini?” Gadis Amerika memandang saya aneh. “Kamu ...?”

    “No!” Saya cepat memotong kalimat Xing yang saya pikir akan menuduh saya sedang berhalusinasi. “Ethile said you are a writer. Aren’t you?” Gadis Amerika seperti sedang menginterogasi.

    But I can differ reality and my imagination. Itulah mengapa saya masih menulis hari ini, bukan ngetem di rumah sakit jiwa!” Saya tak terima. “Calm down, Benn!” Gadis Amerika menepuk pundak saya.

    Baca juga : Kejutan Setiba di Budapest

    Saya beranjak menjauh dan mengambil kursi di dekat jendela.

    “Kami tak menuduhmu sejauh itu,” lanjut gadis Amerika itu. “Tapi, coba kamu berada dalam posisi kami yang tak pernah kedatangan polisi Kroasia dan kamu bilang barusan kalau mereka datang? Coba, bagaimana?”

    “Tapi aku yakin sekali,” bantahku.

    “Kami lebih yakin lagi.” Xing balik membantah. “Hotel ini sudah pasti riuh dan heboh kalau itu benar, tapi ... kamu lihat keadaan sekitar atau melongoklah ke bawah. Apakah ada yang aneh di parkiran?”

    Saya bangkit dan melongok ke bawah. Xing benar, tak ada yang aneh. Namun ... “Nah sekarang kenapa saya ada di bungker?”. “Lah kok kamu bertanya?” Xing memasang wajah heran.

    “Oke, saya ubah pertanyaannya: kenapa kalian tahu kalau saya ada di bawah?”. Xing dan gadis Amerika itu berpandangan. “Benn, kamu tampaknya harus masuk lagi.” Xing melihat ke lubang.

    “Kenapa?”. “Gak usah cemas begitu. Itu satu-satunya cara mengeluarkan koper dan ranselmu dari sana.”. Mereka benar, tapi saya ragu turun lagi. “Atau kalau kamu masih trauma, biar saya yang turun ...”

    Oh tidak, Xing. Biar saya yang urus. Kalian silakan meninggalkan kamar. Biar saya cari cara untuk mengeluarkannya. Saya akan cari benda panjang atau apa. Biarkan saya yang menanganinya.”

    “Baiklah, Benn. Kami permisi dulu. Jangan lupa, cukup tekan nomor 0 di telepon, kami di resepsionis akan membantumu.”

    Baca juga : Maafkan (Prasangka) Kami, Dod!

    Saya mengangguk cepat.

    Begitu mereka meninggalkan kamar, saya pastikan pintu terkunci ganda: kunci otomatis dan rantai di bagian tengahnya sudah terkait ke daun pintu bagian dalam. Saya sebenarnya ingin mengulang pertanyaan yang tadi belum mereka jawab, tapi mendapati mereka angkat kaki dari kamar saya, itu jadi prioritas saat ini. Nanti atau besok saya akan menanyakannya lagi.

    Lalu Ethile? Di mana laki-laki itu. Lalu polisi Kroasia itu? Saya juga melihatnya dengan jelas. Saya tak punya riwayat stress berat atau depresi. Sangat tak mungkin saya berhalusinasi. Saya memutuskan untuk mandi.

    Namun ketika saya melewati lubang di lantai dan mendapati koper dan ransel saya masih di sana, perasaan-tak-enak itu mendorong-dorong saya. Beberapa detik kemudian saya dikejutkan ketukan serampangan dari luar.

    Hanya ketukan. Makin lama makin keras. Makin lama temponya makin rapat. Tak ada suara, tak ada panggilan. Saya mengeratkan lilitan handuk di pinggang. Mendekat ke pintu dan melihat ke lubang kecil di sana untuk mengetahui siapa di luar sana.

    [Sumber tulisan diambil dari sini]

    [Penulis adalah Founder BennyInstitute. Tinggal di Lubuklinggau, Sumatera Selatan]

    (Visited 20 times, 1 visits today)
    Please follow and like us:
    error

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here