Bumi yang Subur

Sebuah keluarga akan habis riwayatnya kalau mereka sudah mulai menjual tanah-tanahnya

0
28
views
Foto: Shinta Maharani
  • Artikel Shinta Maharani
  • Pearl S. Buck, Nobelis Sastra yang tidak hitam-putih mengeksplorasi karakter setiap tokoh di "Bumi yang Subur".

    Tidak ada yang betul-betul jahat, begitu pula sebaliknya. Setiap manusia kompleks dengan warna-warni pikirannya.

    Baca juga : Tragedi Lennie

    Saya ingin memulai dari tokoh utama Wang Lung, petani Cina miskin yang naik kastanya menjadi tuan tanah kaya raya.

    Dia sangat percaya pada kekuatan dewa-dewa, yang bagi dia penentu seluruh kehidupannya.

    Wang Lung seorang yang mengamini patriarki. Buck menguliti dominasi laki-laki dalam kehidupan sosial Cina.

    Misalnya seorang perempuan harus bersusah payah mengikat jari-jari kakinya agar mendapatkan kaki yang mungil dan cantik. Tak peduli pada siksaan.

    Wang Lung memandang perempuan sebagai pembawa sial. Suatu hari dia mengutuki kelahiran anaknya yang perempuan dari rahim isterinya, O-Lan.

    Anak perempuannya itu seorang difabel, mengalami gangguan pikiran.

    Di usia senjanya, Wang Lung merenung tentang anak gadisnya yang malang. Apa yang akan terjadi pada anak perempuannya bila ia mati.

    Tak ada yang memperhatikan gadis itu setelah ibundanya, O-Lan mati selain Wang Lung.

    Baca juga : Dostoevsky, Peracau Bermantel Lusuh

    Suatu hari ia membeli bungkusan kecil berwarna putih berisi bubuk beracun di rumah obat kota.

    Petani itu berkata pada dirinya sendiri bahwa ia akan memberikan bubuk itu kepada anak perempuan sewaktu ia merasa ajalnya sudah dekat.

    Namun, ia membayangkan akan mengerikan saat memberikan racun kepada anaknya ketimbang kematiannya sendiri.

    Wang Lung tak sampai hati meracuni anaknya sendiri karena tak ada seorang pun yang peduli apakah anak itu masih hidup atau mati.

    Wang Lung menitipkan anaknya kepada Pearl Bloosom, seorang budak perempuan yang setia kepada keluarga Wang Lung.

    Tak ada orang lain yang dia percaya kecuali Pearl Bloosom untuk merawat anak perempuannya yang malang itu seumpama Wang Lung tak ada lagi.

    "Kau mesti ingat, anak itu akan hidup terus biarpun aku sudah mati. Otaknya tak bisa bekerja seperti orang normal.

    Tak ada yang dapat menakuti atau membuat dia khawatir," kata Wang Lung.

    Karakter menarik lainnya ada pada diri O-Lan. Dia seorang budak di keluarga istana.

    O-Lan yang miskin dijual keluarganya agar bisa bertahan hidup. Dia digambarkan sebagai perempuan pucat, pekerja keras, dan lugu.

    O-Lan sangat cekatan mengerjakan semua hal: bertani, memasak, membersihkan rumah, dan melahirkan anak-anaknya dengan cara dia sendiri tanpa bantuan dukun bayi atau tenaga kesehatan.

    Suatu ketika Wang Lung datang ke istana tempat O-Lan bekerja sebagai budak. Wang Lung memperisteri O-Lan.

    Mereka hidup bersama. Ada kebahagiaan, badai, prahara. Lagi-lagi, Buck cemerlang menggambarkan lika liku kehidupan manusia yang tak selamanya riang gembira atau berjalan mulus.

    Ada kepedihan, kejatuhan, dan kemalangan.

    Baca juga : Budak Jim dan Huckleberry Finn

    Paceklik pernah mendera desa tempat keluarga Wang Lung mengolah tanah pertanian.

    Petani gagal panen di mana-mana, hujan tak turun. Semua orang kelaparan dan saling berebut makanan. "Dewa-dewa marah, kata Wang Lung.

    Wang Lung, O-Lan, dan ayahanda kemudian mengungsi ke kota agar tak mati. Di kota, Wang Lung bekerja sebagai buruh, mengantar orang keliling kota.

    O-Lan, anaknya, dan ayahanda Wang-Lung terpaksa mengemis di jalanan.

    Tak tahan dengan kehidupan kota, mereka kembali ke kampung. Bagi Wang Lung tak ada yang lebih mulia ketimbang tanahnya sendiri.

    Wang Lung mencintai tanahnya melebihi cintanya kepada keluarga dan dewa-dewanya.

    Tanahnya itu memang membuat hidupnya makmur. Dia pontang panting mempertahankan tanahnya dari gempuran bencana alam dan gerombolan bandit.

    Baca juga : Blindness

    Prahara terus muncul dalam kehidupan Wang Lung. Wang Lung yang borjuis, tuan tanah kepincut dengan seorang pekerja seks bernama lotus.

    Hampir tiap malam dia datang ke rumah bordir untuk menikmati tubuh Lotus.

    Wang Lung kemudian menjadikan Lotus sebagai selirnya. Dia memboyong Lotus ke rumah besarnya.

    O-Lan sedih. Tapi, dia tak bisa apa-apa. Hanya perlawanan-perlawanan kecil yang ia lakukan.

    Misalnya ia tak mau melayani Lotus di rumah itu. Lotus materialistik. Dia menyukai perhiasan-perhiasan.

    Lagi-lagi, Buck juga tak menggambarkan Lotus hitam-putih. Lotus perempuan yang dijual keluarganya sebagai budak.

    Dia mengalami kepedihan hidup yang tak terkira. Menjadi pelacur bukan pilihan hidupnya.

    Di rumah bordir, dia seringkali murung dan kesal saat harus bekerja.

    Baca juga : Anna Karenina dan Tolstoy yang Anarkis

    Selain karakter-karakter tokoh yang kompleks, Buck juga sedikit menyelipkan revolusi Cina dengan ideologi komunisnya.

    Petani-petani Cina menghancurkan kalangan ningrat, menduduki rumah-rumah mereka.

    Dinasti Wang Lung belum berakhir. Wang Lung hidup dalam kekuasaan yang penuh intrik dan penghianatan.

    Anak-anaknya berebut tanah milik Wang Lung untuk dijual. "Sebuah keluarga akan habis riwayatnya kalau mereka sudah mulai menjual tanah-tanahnya," kata Wang Lung.

    Orang berasal dari tanah dan mesti kembali lagi ke situ. Pertahankan tanah, hidup terus, dan tak ada orang yang bisa merampas tanah begitu saja.

    Kemudian Wang Lung sengaja membiarkan air matanya mengering di pipinya yang keriput bagai pasir-pasir laut yang kering dan asin.

    Baca juga : Buck Penakluk Tradisi

    The Good Earth atau Bumi yang Subur terbit pada 1931 dan mendapatkan penghargaan Pulitzer pada 1932.

    Novel ini punya pengaruh penting, mengantarkan Buck meraih Nobel Kesusastraan pada 1938.

    Novel ini bagian dari trilogi, dua lainnya meliputi Sons (1932) dan A House Divided (1935).

    Pearl S. Buck menghabiskan sebagian waktunya di Cina, mengikuti ayahnya yang seorang misionaris.

    Buck tumbuh di antara bandit, pengemis, penderita kusta, banjir, topan pemberontakan, kemiskinan, prajurit perampok, dan pecandu opium.

    [Tulisan ini bersumber dari sini]

    Shinta Maharani, wartawan, penikmat seni dan pembaca buku yang setia. Tinggal di Jogja

    (Visited 18 times, 1 visits today)
    Please follow and like us:
    error

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here