Menjadi Haruki Murakami dan Sebungkus Nasi Padang

Bagi seorang kreator, motivasi adalah hal yang nyata dan tersimpan di dalam diri, bukan hal memiliki bentuk atau tuntutan dari pihak lain

0
36
views
Novel karya Haruki Murakami. Sumber foto : Facebook Ahmad Yunus
  • Artikel Ahmad Yunus
  • Lari dari kenyataan adalah basi. Coba sebarapa kuat lari dari godaan sebungkus nasi Padang.

    Setiap kali mengantar anak ke sekolah ada satu pemandangan yang selalu bikin saya iri.

    Setiap pagi, di lintasan Gasibu, tak pernah sepi orang berlari. Mulai dari orang tua hingga anak muda.

    Bahkan, – maaf – yang tua renta pun, di mana kakinya terlihat rapuh dan reyot masih semangat untuk berlari. Luar biasa.

    “Saya mah geus 70 tahun!,” teriak seorang kakek yang giginya entah meloncat kemana.

    Ia terus bergerak berlari tanpa terlihat tersiksa. Omongannya memang tidak terlalu jelas.

    Tapi seperti meledek saya yang baru saja rehat di pinggir lapangan.

    Jujur saja saya ini termasuk pelari dadakan. Mungkin belum pas juga dibilang sebagai pelari. Serius.

    Maksudnya, seperti pelari teman-teman yang lain. Mereka yang mulai mengoleksi berbagai medali lomba lari.

    Mereka selalu hadir dan meramaikan ajang lomba lari di berbagai kota. Saya iri sekaligus kagum melihat semangat mereka.

    Bayangkan betapa kuatnya mereka. Otot kakinya begitu liat. Jantungnya seperti kuda.

    Berbagai lomba dengan lintasan beragam mereka selesaikan dengan sukaria. Sungguh menakjubkan!

    Rasanya, saya sih masih jauh dari kategori itu. Mimpi agar bisa lari seperti mereka pun tidak.

    Bukan tidak mau. Cuma berlari itu tidak bisa serba dadakan. Butuh latihan berbulan-bulan. Bahkan tahunan.

    Dan kerja keras latihan satu-satu jalan membangun stamina tubuh. Mental berlari lomba pun juga harus sekuat baja.

    Namanya juga lomba lari. Masa jalan kaki saat lomba. Nah, menjadi pelari seperti ini tentu tidak mudah dilakukan bagi pemula seperti saya.

    Alasan saya mulai berlari sebenernya sederhana. Saya berlari karena mengisi waktu senggang di pagi hari.

    Biasanya, setelah sarapan pagi dan mengantarkan anak, saya mulai menyibukan diri dengan urusan pekerjaan.

    Mengecek surat elektronik dan menyelesaikan pekerjaan sebelumnya yang belum beres. Dan begitulah rutinitas saya setiap hari.

    Lama-lama rutinitas ini terasa membosankan. Otak buntu. Tidak ada ide yang segar. Badan loyo. Payah.

    Saya butuh kegiatan lain yang lebih menyegarkan di pagi hari. Selain, tentu saja minum kopi yang bagi saya seperti ritual ibadah.

    Sejak satu minggu terakhir ini saya mulai berlari secara berkala. Kala mau kala tidak.

    Maksudnya, dalam dua hari sekali, saya sudah bikin jadwal sendiri untuk berlari. Dari jam 07.30 sampai jam 09.00 pagi.

    Tentu, setelah saya selesai mengantarkan anak ke sekolah. Lalu mampir menuju lapangan Gasibu.

    Lapangan depan Gedung Sate yang sudah nyaman. Lintasannya dari karet sehingga nyaman di kaki. Empuk.

    Seingat saya, dulu lapangan Gasibu hanya cocok buat motor trail.

    Lintasannya bukan karet tapi terbuat dari pasir bata merah. Berdebu dan sangat keras. Kaki rawan cedera. Lari tidak bisa berlama-lama.

    Sekarang lintasannya sangat baik. Di sekeliling lapang juga banyak pohon. Cukup menahan debu dan bising kendaraan yang lewat dan padat di pagi hari.

    Setelah lari saya bisa berleha-leha di bawah pohon. Anginnya terasa sejuk.

    Lari sebenarnya jadi aktivitas yang mewah sekaligus murah buat saya. Mewah karena saya bisa menikmati lezatnya matahari di pagi hari.

    Kemewahan ini mungkin tidak didapatkan para pekerja dan anak-anak sekolah kebanyakan.

    Mereka menjalankan rutinitas setiap hari tanpa menikmati sinar matahari yang gratis dan sehat ini.

    Mereka tidak sadar lagi bahwa menikmati pagi dengan lebih tenang itu sangat penting.

    Badan dan pikiran butuh pengkondisian sebelum mereka beraktivitas. Kemacetan, rasa terburu-buru, tidak sarapan, barang yang tertinggal, dan beban pekerjaan menghantui keseharian mereka.

    Stress bisa berakibat buruk bagi perkembangan emosi dan jiwa mereka.

    Sinar pagi, istilahnya golden time bagi para kameraman adalah waktu yang pas untuk mengambil gambar.

    Cahayanya tidak terlalu keras dan bisa menghasilkan visual yang lebih cantik. Jam antara 07.00 hingga 10.00 pagi hari sinar matahari masih terasa hangat-hangat kuku.

    Pas buat badan manusia untuk melancarkan darah. Membuat otot kaku setelah tidur semalaman terasa lebih ringan. Pegal pun hilang seketika.

    Tak salah jika dokter pun banyak menyarakan agar manusia sering-sering berjemur di pagi hari.

    Sinarnya mengandung vitamin E yang sangat baik buat kesehatan kulit manusia.

    Lari juga termasuk olahraga murah. Perlengkapannya hanya butuh sepatu. Sepatu apa saja yang paling penting enak di kaki. Tidak perlu mahal dan bermerk. Itu saja.

    Setelah mencoba berlari, ternyata cukup mengasikkan. Sangat mujarab menguras keringat dan menaikkan suhu tubuh di pagi hari.

    Apalagi musim kemarau di Bandung akhir-akhir ini terasa jauh lebih dingin. Bahkan sempat di angka 14 derajat celcius! Kondisi seperti ini tentu olahraga jadi pilihan menarik.

    Cuaca yang cukup ekstrem ini membuat badan saya ambruk. Di awal musim kemarau tahun ini saya terserang radang tenggorokan. Sakitnya bukan main. Badan demam. Kepala pusing.

    Rasanya, seperti menelan tanaman kaktus. Nyeri. Saya belum pernah merasakan sakitnya radang tenggorokan seperti kemarin itu.

    Biasanya, cukup minum asam jawa, madu dan istirahat yang cukup. Itu sudah. Namun, kali ini tidak berhasil.

    Saya terpaksa berobat ke dokter. Dan alamak! Saya mesti menelan antibiotik sekarung kacang sukro.

    Saya menyerah pada obat-obat kimia. Tidak ada pilihan lain.

    Dalam tiga hari radang tenggorokan saya pun cespleng. Makan dan minum jauh lebih enak. Leher tidak ada pembengkakan lagi.

    Sekalipun sembuh, di sisi lain saya merasa menyesal. Saya benar-benar benci dengan obat kimia. Duh!.

    Lari pun menjadi sarana pelarian saya. Bagaimana caranya agar saya lebih sehat. Dan bisa membuang racun-racun efek dari obat kimia.

    Saya butuh mengeluarkan efek negatif ini. Dan lari adalah cara yang cepat untuk membuang racun-racun ini.

    Setelah lari satu hingga dua jam, badan saya berkeringat. Saya puas. Lega. Saya bisa lari dengan santai sekalipun membawa bobot badan 85 kilogram! Padahal sepuluh tahun terakhir saya masih ingat berat badan saya hanya 70 kilogram.

    Konon, ketika berlari beban tumpuan pada kaki semakin berat. Berat badan bisa 3 kali lebih berat! Tuh apa tidak rontok lutut dan sendi-sendi kakinya.

    Sejak kecil, lari sebenarnya olahraga yang tak pernah saya sukai. Sekalipun saya senang main sepak bola atau main basket.

    Lari sudah tentu bagian dari permainan dua olahraga favorit saya. Tapi, fokus pada lari sendiri, saya merasa kepayahan dan tidak pernah berhasil.

    Saya selalu mencari cara agar menyelesaikan rute lari dengan cara yang cepat.

    Dan memotong jalur lari adalah cara bodoh sekaligus pintar. Saya tak pernah memenangkan lomba marathon tingkat RW ini.

    Begitulah, lari membuat saya traumatik. Rasanya mau mati saja. Nafas ngosngosan. Dan lari tidak membuat saya terhibur. Apalagi menjadi rutinitas yang membahagiakan.

    Tapi, itu ingatan di masa lalu. Dalam satu minggu ini, saya justru merasakan sebaliknya.

    Ada kenikmatan saat kaki mulai melangkah pelan. Satu dua langkah mulai berlari kecil.

    Mengatur nafas seperti biasa. Merasakan hangatnya sinar matahari. Mendengar percakapan para pejalan kaki. Melihat semangat para orang tua agar selalu sehat.

    Dan semua ini memberi rasa semangat dan motivasi agar saya tetap berlari di lintasan yang sama.

    Dengan cara yang menyenangkan dan membahagiakan.

    Saya senang berlari dengan santai. Sesantai-santainya seperti orang berjalan kaki.

    Tehnik ini saya pelajari dari Profesor Hiroaki Tanakan. Ia mengembangkan tehnik slow jogging. Lari tanpa melukai. Lari sambil menebar senyum.

    Metodenya sederhana. Anda cukup berlari dengan pelan. Nafas seperti biasa. Posisi badan dan kepala lebih tegak. Dan pandangan lurus ke depan. Bukan ke lintasan.

    Tehnik ini ternyata menyenangkan. Sekalipun lambat tapi langkah lari Anda lebih banyak.

    Anda dijamin tidak akan tersiksa. Dan saya sudah mencobanya. Saya bisa berlari selama dua jam tanpa merasa ngos-ngosan.

    Dampaknya apa? Tentu saja badan saya mulai segar. Ringan. Makan juga jauh lebih enak. Tidur lebih lelap. Itu sudah cukup buat saya.

    Berlari juga membuat konsentrasi saya bisa lebih fokus lagi. Dan ini menyenangkan.

    Jika berlari membuat berat badan menjadi turun, bagi saya itu bonus. Saya tidak mau terbebani dengan hasrat ini. Biarlah badan menyesuaikannya sendiri.

    Saya jadi ingat dengan penulis sekaligus pelari, Haruki Murakami. Dalam bukunya, What I Talk About When I Talk About Running menjelaskan bahwa otot itu seperti binatang yang cepat belajar.

    “Otot itu benar-benar seperti binatang, mereka ingin hidup sesantai mungkin, dan jika tekanan tidak diberikan, mereka akan bersantai dan menghapus semua ingatan tentang latihan keras itu. Saat mencoba untuk memasukkan ingatan itu sekali lagi, kamu harus mengulangi semua prosesnya dari yang paling awal,“ katanya.

    Haruki Murakami memang novelis yang kecanduan lari. Lari membantu dirinya menjadi lebih fokus, bisa bertahan menulis selama empat jam, dan menyelesaikan setiap novelnya.

    Dan pengalamannya itu sangat menarik untuk dicermati. Bagaimana lari bisa meningkatkan kemampuan menulisnya. Buku memoirnya sangat intim, filosofis, dan mendalam.

    Penulis Jepang ini berkali-kali diunggulkan meraih Nobel Sastra. Karyanya telah diterjemahkan ke dalam 50 bahasa.

    Ia mendapatkan berbagai apresiasi dari para kritikus. Novelnya memang seperti marathon. Panjang. Mendalam.

    Bahkan novelnya bisa mencapai 500 halaman! Daya tahan dalam menulis ini, ia dapatkan dalam olahraga berlari.

    Dan Haruki Murakami menikmati lari sejauh 10 kilometer setiap harinya.

    "Menulis novel memiliki kemiripan dengan melakukan maraton penuh. Secara mendasar aku bisa mengatakan bahwa bagi seorang kreator, motivasi adalah hal yang nyata dan tersimpan di dalam diri, bukan hal memiliki bentuk atau tuntutan dari pihak lain,” katanya.

    Ia benar. Berlari memang melatih untuk mengalahkan diri sendiri. Dan filosofi ini banyak diamini oleh banyak pelari professional.

    Haruki Murakami membuktikan dengan berlari ia melatih motivasi dan mental bajanya.

    Dan bagi saya, sebagai pelari pemula, cukup berlari dari godaan nasi Padang saja sudah cukup. Itu sudah.

    Itu pun jika berhasil.

    [Tulisan ini diambil dengan persetujuan penulisnya. Sumber dari Facebook Ahmad Yunus]

    [Penulis adalah seorang penjelajah, pembaca buku, penikmat kopi dan pernah berkeliling Indonesia menggunakan sepeda motor bersama wartawan senior, Farid Gaban]

    (Visited 21 times, 1 visits today)
    Please follow and like us:
    error

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here