Nyobeng, Ritual Restu Langit Sebelum Tanam Padi

Nyobeng sejatinya upacara perdamaian. Kepala manusia merupakan simbol harga diri, selain pelindung desa.

0
42
views
Para pemanjat pada ritual Nyobeng yag merupakan orang-orang pilihan. Foto: Aseanty Pahlevi/Mongabay Indonesia
  • Artikel
  • Sinaga [35], sumringah sore itu. Pertengahan Juni 2019 merupakan musim tersibuk warga Desa Rambai.

    Musim tanam telah tiba. Sebagaimana Suku Dayak di belahan bumi Borneo lainnya, musim tanam adalah saat yang disongsong dengan semangat.

    Sinaga anak Suku Dayak asli. “Kami suka nama-nama bagus, untuk nama anak,” katanya.

    Tubuh Sinaga tidak tinggi. Kulitnya kuning kemerahan. Wajahnya dipenuhi rambut halus berwarna pirang, matanya kecokelatan. Rambutnya pun cokelat. Profil khas Suku Dayak di Kalimantan.

    Walau tidak tinggi, tubuh Sinaga kekar. “Biasa kerja di huma,” ujarnya, memamerkan otot di balik baju tak berlengan.

    Di luar, bunyi tabuhan gendang bertalu. Di depan Sinaga, tersaji tuak beras ketan dengan tempat botol plastik bekas minuman bersoda.

    Hari ini, hari kedua Gawai. Hari pertama kemarin, telah dilakukan upacara Nyobeng.

    Baca juga : “Hutan Adalah Ibu Kami”

    Nyobeng merupakan penghormatan terhadap tengkorak manusia oleh Suku Dayak Bidayuh.

    Di Kalimantan Barat, ritual ini sudah ternama. Kementerian Pariwisata memasukkannya dalam agenda kepariwisataan internasional.

    Pada 15-16 Juni 2019, dihelat International Nyobeng Dayak Bidayuh Festival.

    Nyobeng rangkaian Gawai, prosesi pesta panen padi Suku Dayak. Gawai dilakukan sebagai ucapan syukur pada Tuhan Yang Maha Esa atau Tipaiak’ng, dalam bahasa Bidayuh.

    Dalam Nyobeng, mereka memandikan atau membersihkan tengkorak manusia dengan upacara adat.

    Hari itu, di hari kedua, warga Desa Rambai, Kecamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, menggelar upacara Make Tamui atau upacara naik bambu.

    Di Desa Rambai, suasana kekeluargaan sangat terasa. Setiap warga menerima tamu dengan tangan terbuka.

    Baca juga : Masih Ada Kelompok Nelayan di Kuta Bali

    Make Tamui memang sangat dinanti, saat prajurit desa membuka pintu langit, memohon perlindungan tahun ini.

    Bagi Suku Dayak, bertani menggunakan cara-cara kearifan lokal merupakan hal sakral.

    Suku Dayak dan alam merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

    Bercocok tanam selain upaya utama penghidupan, juga menjaga alam yang diberikan oleh Jubata atau Tuhan.

    Selain padi, mereka menaman ubi, timun, terung, pisang, dan beberapa jenis palawija.

    Untuk padi, mereka memiliki puluhan jenis lokal yang memiliki kisah, dan tempat berbeda dalam ritual adat.

    Dalam upacara Make Tamui, para pria pemanjat adalah orang-orang pilihan.

    Mereka telah melalui serangkaian seleksi adat. Di Desa Rambai ini, para pemanjat menyandarkan bambu seukuran empat meter ke sebuah pohon.

    Baca juga : Warga Sungai Nibung Nikmati Manfaat dari Menjaga Hutan Mangrove

    Matahari mulai meninggi. Upacara Make Tamui dimulai. Semua warga keluar dari kediamannya.

    Para ibu berpakaian kebaya, berbaris rapi. Kaki-kaki mereka bergemerincing, gelang terbuat tembaga melingkari pergelangan kaki.

    Nyayian bersahutan tak henti. Di belakangnya, beberapa pria gagah ikut berbaris.

    Babi, ayam, ikan yang difermentasi disiapkan sebagai sesaji. Begitu juga tuak. Bambu yang dipilih dimanterai. Disandarkan pada pohon pelaik.

    “Jangan dikira mudah. Semua rata-rata lihai memanjat, tapi ini ritual adat. Bisa jadi mereka tidak kuat,” kata Hendra [25], warga Rambai, yang menyaksikan ritual naik bambu itu.

    Para pemanjat sudah diolesi darah sesaji. Ini merupakan bentuk suka cita menyambut ritual Gawai.

    Ada gong, juga gendang. Warga yang mempunyai senjata api rakitan untuk berburu memasukkan mesiu, menembaki semak-semak.

    “Supaya hantu-hantu yang mengganggu lari,” kata Sinaga, yang juga dukun di desa tersebut.

    Di sisi lain, para pemanjat mempersiapkan upacara awal untuk meminta izin dimulainya ritual.

    Semua pemanjat berada di alam bawah sadar. Roni Nyawi [48], adalah generasi pemanjat ketiga di Desa Rambai.

    Dia tergolong pemanjat muda. Tubuhnya kekar, kulit kecokelatan terpapar matahari.

    “Di atas itu pintu alam lain,” ucapnya. “Tadi ada senior yang mau coba-coba manjat lebih dahulu. Hampir saja jatuh, karena prosedurnya bukan begitu. Yang jadi pembuka harus pemanjat muda,” ujarnya.

    Dua pemanjat berhasil naik ke pohon pelaik melalui bambu. Mereka membersihkan sesaji tahun lalu.

    Menggantinya dengan yang baru. Riuh suka cita warga menandakan ritual berhasil.

    Pertanda, padi yang ditaman akan berbuah baik, jauh dari hama penyakit dan bencana alam.

    Baca juga : Mangrove dan Kembalinya Kesejahteraan Masyarakat Lubuk Kertang

    Makna Sakral

    Dari berbagai literasi, selain bagian dari Gawai, Nyobeng sejatinya upacara perdamaian.

    Bentuk penghormatan para tetua pada tengkorak musuh yang mereka penggal kepalanya.

    Hasil perang itu disimpan warga Dayak Bidayuh Hli Buei di rumah balug [rumah adat]. Setiap tahun tengkorak dimandikan dan dibersihkan.

    Dalam upacara itu, mereka memainkan tetabuhan. Simlog adalah gendang panjang yang dipasang menembus lantai balok, dibunyikan bersama gong dan kenong.

    Iramanya nyaris sama. Tamu bisa turut menari, asal berani memanjat tangga balug yang tingginya sekitar 15 meter dari permukaan tanah.

    Warga mempersiapkan makanan, yang bisa disantap tamu. Semua gratis.

    Nasi dan sayur disuguhkan di atas daun. Tuak disajikan dalam tabung bambu.

    Sama halnya dengan ritual naik bambu, Nyobeng yang dilakukan sehari sebelumnya pun memerlukan sesaji.

    “Tradisi ini sudah lama dilakukan, dari nenek moyang. Zaman Jepang sudah ada,” tukas Sinaga.

    Baca juga : Memanen Energi Matahari

    Para tetua adat memandikan batok kepala manusia yang disimpan di sebuah kotak, bersama kalung babi hutan.

    Kepala manusia merupakan simbol harga diri, selain pelindung desa.

    Roh kepala manusia akan menghalau hantu yang membawa hama penyakit, lalu mendatangkan hujan, serta menghindari desa dari bahaya.

    Tahun ini mereka menanam tujuh jenis padi lokal. Mereka bersuka ria sejenak.

    Pekerjaan berat, menggarap ladang bersama, telah menanti.

    [penulis adalah kontributor Mongabay Indonesia di Bengkalis]

    Artikel "Nyobeng, Ritual Restu Langit Sebelum Tanam Padi" merupakan konten kolaborasi dengan Mongabay Indonesia. Konten serupa bisa dilihat di sini

    (Visited 21 times, 1 visits today)
    Please follow and like us:
    error

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here