Tantangan Pers di Era Disrupsi

Tantangan nyata di era digitalisasi ini adalah adaptasi jurnalis dan media terhadap beragam bentuk platform digital

0
25
views
Konferensi Media dalam rangka peringatan ulang tahun Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia ke-25 tahun. Sumber foto: AJI Indonesia
  • Artikel Dony P. Herwanto
  • Perubahan adalah sesuatu yang pasti. Ia tak bisa ditawar lagi. Siapa yang bisa berubah dan mengikuti perkembangan, akan selamat - saya enggan menyebutnya pasti.

    Pun dengan pers. Era disrupsi telah mengubah wajah media dan jurnalisme hari ini.

    Alih-alih mengikuti perkembangan, tak pelak, ada yang tumbang. Tak mengikuti pun ia hilang.

    Lantas, apakah ada formula yang tepat untuk berjalan beriringan dengan kemajuan jaman?

    Menjawab pertanyaan itu, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia menggelar Seminar Konferensi Regional dan Nasional bertajuk "The Biggest Challenge of Journalism in Digital Era".

    Baca juga : Turbulensi Industri Media di Era Digital

    Dalam seminar Regional yang bertajuk The Challenge of Journalist and Media in Southeast Asia Region menghadirkan Nonoy Espina (NUJP Filipina), Steven Gan (Pemimpin Redaksi Malaysiakini.com, Malaysia), Jane Worthington (Direktur IFJ Asia Pasific berbasis di Sydney, Australia), Adam Portelli (Victorian Branch of Media Entertainment and Art Alliance, Australia) dan Asep Setiawan (Anggota Dewan Pers, Indonesia).

    Sementara itu, Seminar Nasional disampaikan oleh pemimpin redaksi sejumlah media, stakeholder pers, dan termasuk empat pemenang call paper yang diharapkan memberikan masukan baru untuk media dan pers di Indonesia.

    Dalam sambutannya, Ketua Umum AJI Abdul Manan menjelaskan, ada banyak kegelisahan mengenai pers dan praktek jurnalisme hingga model bisnis di era digital.

    Hal ini tak hanya terjadi di Indonesia dan Asia Tenggara, tetapi mengalami perubahan cukup signifikan di berbagai negara di seluruh dunia.

    Era digitalisasi juga mendatangkan kekhawatiran terhadap iklim kebebasan pers.

    "Diskusi ini mengemuka dalam Kongres IFJ di Tunisa Juni lalu. Hampir 50 persen peserta mengkhawatirkan tentang ancaman terhadap kebebasan pers,” ujar Manan saat pembukaan konferensi di Hotel JS Luwansa, Setiabudi, Jakarta Selatan, Selasa, 6 Agustus 2019.

    Baca juga : Lawan Kekerasan dan Ancaman Terhadap Kebebasan Pers

    Komisioner Dewan Pers Asep Setiawan dalam paparannya mengatakan, tantangan nyata di era digitalisasi ini adalah adaptasi jurnalis dan media terhadap beragam bentuk platform digital.

    Realitanya adaptasi itu menuntut lingkungan dan kemampuan kerja baru bagi jurnalis.

    Di era digitalisasi, media di Indonesia dan Asia Tenggara berhadapan dengan kecepatan serta memanfaatkan big data.

    Karena itu, Jurnalis harus lebih profesional dan dilatih kembali untuk memenuhi kebutuhan publik.

    "Salah satu solusi yang ditawarkan oleh Dewan Pers untuk meningkatkan kualitas jurnalis ini dengan menerapkan sertifikasi kepada jurnalis dan media," ujar Asep.

    Digitalisasi, kata Asep, juga membawa dampak bagi kebebasan pers. Banyak media di sejumlah negara masih menghadapi masalah seperti penyensoran, kekerasan dan hingga pembunuhan terhadap jurnalis.

    "Bahkan ancaman terhadap kebebasan pers menunjukkan trend meningkat," jelasnya.

    Baca juga : Yang Privat dan Umum dalam Satu Ruang

    Sementara itu, Jane Worthington mengatakan, tantangan media dan jurnalis saat ini tidak mudah dan memiliki jalan berliku.

    Agar dapat bertahan hidup, lanjutnya, salah satu satu caranya adalah dengan bekerja sama, berjejaring dan memperkuat serikat.

    Di tempat yang sama, Adam Portelli dari MEAA, menyinggung masalah industri pers sebagai dampak dari digitalisasi.

    Dia menjelaskan pengalamannya untuk mengadvokasi masalah ketenagakerjaan para pekerja lepas dan pekerja media digital. Ia menekankan pentingnya kesepakatan kolektif.

    "Pentingnya serikat kerja kepada para jurnalis muda yang bekerja di outlet digital karena meningkatnya tantangan jurnalisme," ucapnya.

    Adapun Nonoy Espina membagi kondisi pers Filipina yang mengalami tantangan berat.

    Salah satu ancaman terbesar di negara ini adalah ancaman kekerasan terhadap jurnalis.

    Setidaknya 13 jurnalis tewas selama pemerintahan Rodrigo Duterte.

    Jelas, imbuhnya, ini memperburuk situasi pers sejak tragedi pembunuhan masal para jurnalis pada 2009.

    Perkembangan media sosial juga menjadi momok ancaman bagi para jurnalis.

    Pemerintah setempat, katanya, menggunakan media sosial untuk menyebarkan fakenews.

    "Facebook disebut sebagai tool yang paling populer untuk menyebarkan fakenews dan hal itu dipercaya oleh masyarakat," katanya.

    Baca juga : Komite Keselamatan Jurnalis Akhirnya Dideklarasikan

    Pemimpin Redaksi Malaysiakini.com Steven Gan menekankan perlunya dukungan semua pihak, saling support antar jurnalis se Asia Tenggara menjadi sangat penting.

    "Kolaborasi menjadi sesuatu yang tak bisa dihindarkan. Saling menjaga satu sama lain menjadi kunci tetap waras," tegasnya.

    Seminar dan konferensi yang digelar selama sehari ini menjadi bagian acara peringatan HUT ke-25 tahun AJI Indonesia.

    [Tulisan diolah dari rilis AJI Indonesia]

    Dony P. Herwanto, documentary maker, peminum kopi yang setia dan pembaca buku. Menulis untuk menjaga kewarasan dan ingatan.

    (Visited 15 times, 1 visits today)
    Please follow and like us:
    error

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here