Bersuaralah Senyaringnya, Sekeras-kerasnya

Masyarakat adat di wilayah Nusantara nyatanya masih terpinggirkan secara politik dan ekonomi

0
50
views
Sumber foto: http://perempuan.aman.or.id/
  • Artikel Dony P. Herwanto
  • Keterlibatan masyarakat adat dalam pelbagai persoalan bangsa, terutama perubahan iklim menjadi solusi.

    Meski begitu, nasib baik belum berpihak. Masyarakat adat di wilayah Nusantara nyatanya masih terpinggirkan secara politik dan ekonomi.

    Kondisi masyarakat adat di atas akan menjadi salah satu soroton pada Perayaan Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia (HIMAS), hari ini, 9 Agustus 2019. Sekaligus merayakan 20 tahun keberadaan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN).

    Baca juga : Masyarakat Adat dan Ruang Hidupnya

    Sekjen AMAN, Rukka Sombolinggi mengatakan, selama 20 tahun perjuangan AMAN telah terjadi banyak perubahan.

    “Ada kemenangan-kemenangan kecil dan besar yang patut dicatat, ada pencapaian, dan penghargaan dari berbagai pihak baik di nasional, daerah, regional serta internasional," ucap Rukka.

    "Namun masih banyak tantangan yang harus kita hadapi sama-sama, salah satunya agar masyarakat adat di Nusantara tidak terpinggirkan secara politik dan ekonomi,” lanjutnya.

    Menurut Rukka, sampai saat ini pemerintah belum menunjukkan komitmen yang serius untuk segera menghadirkan Undang-undang yang mengakui dan melindungi hak-hak Masyarakat Adat secara komprehensif.

    Tumpang tindih Undang-undang sektoral menyebabkan perlindungan hak-hak Masyarakat Adat belum maksimal dan perampasan wilayah-wilayah adat yang berujung pada konflik masih terus terjadi.

    Perkembangan pembangunan yang masih berorientasi pada peningkatan ekonomi makro mempengaruhi juga eksistensi, identitas dan ketahanan dari tatanan kehidupan komunitas-komunitas adat.

    Baca juga : Sektoralisme, Abaikan Hak-hak Masyarakat Adat

    Pengembalian wilayah adat pun masih terbatas hanya hutan adat saja, belum menyentuh pengembalian wilayah adat secara utuh.

    “Saat ini kehidupan komunitas-komunitas adat sangat berperan penting untuk mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim, melalui kelestarian hutan adat dan wilayah adat," paparnya.

    "Jadi dalam situasi sekarang ketika terjadi krisis iklim global, maka jawabannya itu ada di komunitas masyarakat adat," sambung Rukka.

    Karena itu, lanjutnya, momentum 20 tahun AMAN yang bertepatan dengan perayaan HIMAS 2019 sangat penting untuk membangun kesadaran sosial secara lebih luas tentang hak-hak Masyarakat Adat.

    Ini, imbuhnya, sekaligus mendorong pemerintah mengambil langkah yang diperlukan dalam merespon situasi Masyarakat Adat di Indonesia yang sudah lama terpinggirkan secara politik dan ekonomi, serta terabaikan dari proses-proses keadilan.

    Baca juga : Merawat Hutan Adat, Menjaga Martabat

    Mina Susana Setra, Ketua Pelaksana Kegiatan mengatakan, perayaan 20 Tahun AMAN dan HIMAS 2019 akan dilangsungkan pada tanggal 9-11 Agustus di Taman Ismail Marzuki.

    Acara ini mengambil tema: “Meneguhkan Tekad, Memperkuat Akar, Mengedepankan Solusi”.

    Menurut Mina, tujuan dari perayaan 20 Tahun AMAN dan HIMAS 2019 ini adalah melakukan dialog dengan pemerintah tentang pelbagai perkembangan kebijakan terhadap Masyarakat Adat, mensosialisasikan Gerakan Masyarakat Adat Nusantara dan Masyarakat Adat se-Dunia kepada publik.

    Selain itu, lanjutnya, membangun empati dan partisipasi publik untuk terlibat mempromosikan keragaman budaya Masyarakat Adat Nusantara, mendorong kesadaran akan perbedaan budaya dalam semangat Bhineka Tunggal Ika.

    "Kami mengajak publik untuk menyaksikan dan belajar serta terlibat secara langsung dalam berbagai event dalam Festival Masyarakat Adat Nusantara," ujarnya.

    Penyelenggaraan 20 tahun AMAN dan HIMAS 2019 ini terbuka untuk umum. Selain dialog umum dengan pemerintah, juga digelar pelbagai macam event di dalam perayaan ini.

    Diantaranya, pameran produk komunitas adat, pameran foto Masyarakat Adat, pekan film Masyarakat Adat Nusantara, Bengkel seni, permainan tradisional, pagelaran seni budaya, serta kuliner Masyarakat Adat Nusantara.

    Baca juga : Potret Masalah Masyarakat Adat

    Untuk diketahui, Perayaan 20 tahun AMAN dan HIMAS 2019 ini akan melibatkan dan dihadiri sekitar 1.500 orang yang berasal dari perwakian Masyarakat Adat dari pelagai wilayah nusantara, perwakilan Masayarakat Adat dunia dari berbagai negara, pemerintah pusat dan daerah, para penggiat seni, organisasi-organisasi pendukung dan mitra, sekolah-sekolah adat dan lain-lain.

    [Tulisan diolah dari Rilis Pengurus Besar AMAN]

    Dony P. Herwanto, documentary maker, peminum kopi yang setia dan pembaca buku. Menulis untuk menjaga kewarasan dan ingatan.

    (Visited 28 times, 1 visits today)
    Please follow and like us:
    error

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here