Ini Kisah Kopi Suku Osing

Secangkir kopi adalah wujud kearifan dan keramahan dari Masyarakat Osing di Banyuwangi

0
39
views
Sangrai kopi tradisional ala Osing, Banyuwangi. Foto : Anton Wisuda/Mongabay Indonesia
  • Artikel
  • Suku Osing adalah penduduk asli Banyuwangi, Jawa Timur. Mereka juga biasa disebut sebagai Laros, atau singkatan dari Lare Osing selain juga dikenal sebagai Wong Blambangan.

    Seperti layaknya wilayah-wilayah kerajaan di Pulau Jawa pada jaman dahulu, Suku Osing pada awalnya memeluk agama Hindu-Budha.

    Tetapi pada perkembangannya, perkembangan Islam yang begitu pesatnya, turut mempengaruhi kepercayaan Suku Osing pada masa berikutnya.

    Berkembangnya Islam dan masuknya pengaruh luar lain di dalam masyarakat Osing juga dipengaruhi oleh usaha VOC dalam menguasai daerah Blambangan.

    Baca juga : Sampah Muncar yang tak Kunjung Kelar

    Dengan mayoritas mata pencaharian petani, kebanyakan suku Osing Banyuwangi tinggal di daerah-daerah yang mempunyai tanah yang subur.

    Dan Suku Osing pun dikenal dekat dengan alamnya. Salah satunya ditunjukan melalui tanaman kopi.

    Kopi bisa dikatakan telah membudaya dan menyatu di dalam kehidupan orang-orang osing. Bahkan di dalam keseharian orang Osing ada anggapan, jika lelaki harus minum kopi, dan ketika sedang kumpul-kumpul tetapi ada seseorang yang minum teh, berarti dia disebut kurang sehat.

    Jika dilihat dari sejarahnya, Banyuwangi merupakan proyek percontohan pengembangan kopi Arabica, terutama di daerah pegunungan seperti Ijen dan Raung.

    Orang Osing juga biasa menanam kopi di pekarangan rumahnya. Kopi yang ditanamberjenis robuta excels, liberica, atau kopi buria, atau juga sering disebut kopi jemblung atau kopi nangka, oleh orang Osing.

    “Rasa dari kopi liberica bila dibandingkan dengan dengan Arabica yang banyak ditanam di dataran tinggi mempunyai kesamaan rasa, yaitu asam, hanya saja karakternya yang berbeda," jelas Nidhom Masyusron, salah satu penggiat kopi dari Banyuwangi kepada Mongabay.

    "Arabica mempunyai keasaman yang relatif lembut, sedangkan liberica lebih tajam. Karena itu, masyarakat Osing ketika mengolahnya akan mencampur kopinya dengan bahan yang lainnya, seperti jagung, beras, kelapa, kayu manis, lamtoro, dan bahan yang lainnya untuk meredam keasaman kopi liberica atau kopi jemblung ini,” imbuhnya.

    Baca juga : Detak Waktu Terhenti di Warung Kopi

    “Karakter kopi di Banyuwangi ini, khususnya di lereng Ijen juga tergolong unik, karena pengaruh belerang dari ijen, ditambah dengan uap garam dari laut selat Bali," paparnya.

    "Robusta di Banyuwangi karakter dasar yang cenderung kekacang-kacangan, ada kalanya mendekati moka, coklat dan dark coklat," tambah Nudhom.

    Sedangkan ada pula karakter rasa sampingannya, seperti kapulaga, jahe atau cengkeh, tergantung tanaman selanya saja.

    Orang Osing pun mengsangrai atau mengolah kopi secara tradisional, yaitu dengan menggunakan belanga tanah liat dan kayu bakar.

    Menurut Nidhom mengatakan pula jika kopi tradisional ini punya keunggulan tersendiri.

    “Kopi yang diolah secara tradisional mempunyai karakter yang sangat unik, karena ada pengaruh dari kayu bakar yang digunakan," ujarnya.

    "Seperti ada aroma asapnya, sehingga kopi menjadi lebih lembut. Dan ini pun masih mempunyai keberagaman rasa di setiap daerahnya, tergantung dari kayu bakar yang digunakan di tiap-tiap daerahnya," katanya.

    Berbeda dengan kopi yang diolah dengan menggunakan mesin dengan standar yang sama, yang rasanya cenderung sama di berbagai daerah.

    Baca juga : Kopi Tubruk dan Wartawan Amerika yang Kecewa

    Pengolahan kopi secara tradisional juga sangat tergantung pada kemampuan orang yang mengolahnya, seperti pada tingkat kematangannya.

    Setiap orang Osing mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda-beda. Sehingga rasanya pun sangat beragam.

    Tetapi yang jelas, kopi atau kopai dalam bahasa Osingnya, terasa sangat lembut dengan aromanya yang khas.

    Secangkir kopi adalah wujud kearifan dan keramahan dari Masyarakat Osing di Banyuwangi.

    [penulis adalah kontributor Mongabay Indonesia di Banyuwangi]

    Artikel "Ini Kisah Kopi Suku Osing" merupakan konten kolaborasi dengan Mongabay Indonesia. Konten serupa bisa dilihat di sini

    (Visited 10 times, 1 visits today)
    Please follow and like us:
    error

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here