Lau Pun Nioh tak Melawan

Kesempatan mendapatkan uang dengan cepat, terbuka di depan mata. Tapi Pun Nioh sudah renta. berpanas-panasan di bibir pantai sudah bukan waktunya.

0
117
views
Lau Pun Nioh (kiri) bersama suaminya, Aceng di bale-bale rumahnya, Desa Cemarajaya, Kecamatan Cibuaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Foto: Dony P. Herwanto
  • Artikel Dony P. Herwanto
  • Perempuan itu baru saja bangun dari tidur siangnya. Desa Cemarajaya, Kecamatan Cibuaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat sangat terik. Ia mencoba bangkit dari bale-bale di teras rumahnya yang tak lagi kokoh. Rumahnya membelakangi laut. Lima puluh meter jaraknya.

    Perlahan, ia berjalan menuju tungku, tempat puluhan bacang direbus menggunakan kayu bakar. “Lebih panas desa ini atau Jakarta? ,” tanyanya. Belum sempat saya jawab, ia berkata: “Tapi saya betah di sini,”. Perempuan ini, Lau Pun Nioh. 70 tahun tepat usianya.

    Rumah yang ia tempati saat ini merupakan rumah kelima, setelah 4 rumahnya hancur akibat abrasi. Matanya berkaca-kaca ketika mengenang kejadian itu. “Mungkin ini rumah terakhir. Nenek sudah tua,” ucapnya.

    Pun Nioh berjalan meninggalkan tungku di depan rumahnya. Matahari tak banyak beranjak. Desa Cemarajaya baru saja mendapat musibah. Minyak mentah milik PT Pertamina Hulu Energi Offshore Northwest Java atau PHE ONJ bocor.

    Untuk menanggulanginya, Pertamina mengebor relief well (sumur YYA-1 RW). Ini dilakukan untuk menghentikan gelembung gas dan minyak tumpah di sekitar sumur YYA-1.

    Tanah kosong di sebelah rumah Pun Nioh dijadikan terminal pengambilan minyak yang melibatkan ribuan warga terdampak.

    Pun Nioh sudah tua. Sangat tua untuk mengerjakan pekerjaan itu. Mengambil minyak di bibir pantai, memisahkan dengan pasir, kemudian memasukkan minyak ke dalam kantong yang disediakan Pertamina. Ia sudah tak sanggup.

    “Saya cukup menyediakan bale-bale saja untuk istirahat. Kalau mau minum, saya juga siapkan,” jelasnya.

    Di dalam rumah yang minim penerangan itu, Pun Nioh duduk di tubir dipan. Mengambil dupa dan korek api. Menyalakan. Mengambil tikar.

    Pun Nioh memilih berdoa di sisa siang yang terik, dan debu yang sesekali masuk ke dalam rumahnya.

    Saya menyaksikan itu sebagai sebuah bentuk keindahan. Bukan kepasrahan atas usia dan tenaganya. Lau Pun Nioh tak melawan semua itu.

    Usai berdoa, Pun Nioh berjalan menuju dapur. Mengambil bahan-bahan untuk membuat bacang.

    Meski sudah sangat tua, Pun Nioh pantang menengadahkan tangan. “Daripada minta-minta, lebih baik sisa tenaga dibuat untuk kebaikan,”.

    Pun Nioh adalah seorang Buddhist taat. Tapi tidak fanatik. Ayahnya Buddha, ibunya Islam. Umur 15 tahun menikah. Tidak punya anak biologis.

    Di rumah, ia hanya tinggal berdua dengan Aceng, suaminya yang kini terkena serangan jantung.

    Aceng lebih sering tidak berada di rumah. Seminggu, barangkali hanya 2 hari ia ada di rumah. Sisa waktunya habis untuk berobat ke Karawang yang waktu tempuhnya sekira 2 jam dari Desa Cemarajaya, Kecamatan Cibuaya.

    Pun Nioh tidak protes. Tidak marah dengan keadaan. Ia tetap sabar. Ia sadar, harus ada yang tetap mencari uang untuk biaya berobat.

    Kesempatan mendapatkan uang dengan cepat, terbuka di depan mata. Tapi Pun Nioh sudah renta. Berpanas-panasan di bibir pantai sudah bukan waktunya.

    Ia hanya bisa menatap perempuan dan laki-laki muda usia berteman dengan terik, memungut minyak mentah milik PT Pertamina itu.

    Pun Nioh mengajak saya melihat bangunan bekas gereja yang hancur akibat abrasi. Sore yang hangat. Langkah Pun Nioh terlihat tidak seperti perempuan berusia 70 tahun. Bangunan bekas gereja itu letaknya hanya satu rumah di belakang rumahnya.

    Tak ada lagi yang bisa membatasi ombak untuk masuk ke dalam bangunan yang hilang separuh itu. Atapnya sudah rubuh. Sesekali, tempias ombak masuk ke dalam bangunan yang sudah tidak ada jejak-jejak bekas gereja.

    “Jangan berdiri di situ. Nanti lantainya ambles,” katanya. Saya pun bergeser, mengikuti perintahnya. Perintah seorang nenek kepada cucunya.

    Tempias ombak sampai ke lantai bekas bangunan. Sesekali, Pun Nioh menatap jauh ke depan. Menatap lautan yang dulunya adalah rumah warga Cemarajaya. Atau malah sebaliknya?

    Pun Nioh menghela nafas, dalam dan sangat dalam. Ia memejamkan mata. Membiarkan angin laut memeluknya. Memeluk tubuh rentanya itu.

    Di laut, tumpahan minyak masih terlihat. Sebagian menempel pada sisa-sisa tembok bekas gereja yang tidak sengaja menjadi pemecah ombak. “Untung minyaknya tidak sampai ke rumah saya,” ucapnya.

    Pun Nioh menjadi satu dari 1.200 warga terdampak tumpahan minyak milik Pertamina yang hanya bisa menunggu kapan bencana ini berakhir. Ada 1.689 perahu terkena ceceran minyak, 5.000 hektare tambak udang dan bandeng yang tersebar di 10 desa terpaksa dikeringkan untuk mencegah limbah masuk, dan 108,2 hektare tambak garam gagal panen. Itu berdasarkan data yang dikeluarkan Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA).

    Pun Nioh masuk lebih dalam ke sisa bangunan bekas gereja itu. Sudah tidak ada lagi simbol-simbol umat Kristiani yang tersisa di sana.

    Yang ada hanyalah sebagian panggung, tempat Pendeta Yanes Lantu berkhutbah, dulu, jauh sebelum terkena abrasi.

    “Dulu saat tempat ini terkena abrasi, nenek dan beberapa warga ikut membantu angkat-angkat barang. Meski bukan tempat ibadah nenek, nenek tetap bantu. Kasihan,” ungkapnya.

    Kini, tempat ibadah itu ditinggalkan. Pendeta Yanes Lantu memindahkan semua aktivitas gereja ke rumahnya. Sekitar 100 meter jaraknya dari gereja yang lama. Pun Nioh memanggilnya Om Yanes. Sudah dianggap seperti anak sendiri, meski memanggilnya om.

    Pada tahun 1964, di saat usia Pun Nioh menginjak 15 tahun, kedua orangtuanya menikahkan dirinya dengan Aceng. Lelaki yang setia menemani sampai saat ini meski belum dikaruniai seorang anak biologis.

    Aceng dan Pun Nioh dibesarkan dalam tradisi Tionghoa, Buddha dan Islam. Aceng fasih dan masih hafal surat Al-Ikhlas, meski mad dan qashr-nya tidak tepat.

    Kini usia Aceng 72 tahun. Sering keluar masuk rumah sakit. Ia terkena serangan jantung. Hafal betul nama-nama daerah di Jakarta Barat, dan Jakarta Utara. Sebelum tinggal di Cemarajaya, Aceng dan Pun Nioh pernah tinggal di Jakarta. Cukup lama memang.

    Fisik Pun Nioh terlihat lebih kuat daripada Aceng, meski sudah sama-sama renta. Bacang menjadi salah satu tumpuan menyambung hidup. Hanya itu yang bisa dia kerjakan. Pun Nioh tidak berkeliling untuk menjualnya.

    Ia menitipkan bacang kepada tetangganya yang juga renta, dan tidak bisa mendengar. Tetangganya itu yang berkeliling menjajakan bacang dari rumah ke rumah. 1 bacang dijual dengan harga Rp 2 ribu.

    Tiba-tiba Pun Nioh mengajak saya pergi ke rumah Pendeta Yanes Lantu. Tak jauh memang. Tidak sampai 1 menit. Sebelum pergi, Pun Nioh memasukkan beberapa bacang ke dalam tas kresek. “Untuk Om Yanes. Dia dan anak-anaknya suka bacang,”.

    Di rumah yang dijadikan gereja sementara itu, Pendeta Yanes Lantu tengah berbincang dengan dua orang jamaahnya. Barangkali, ada pembicaraan serius. Pun Nioh tak berani masuk. Kami memutuskan menunggu di teras rumah yang menghadap jalan dan laut.

    “Dulu lautnya masih sekitar 1 kilometer dari sini. Sekarang tak lebih dari 20 meter,” jelasnya. Saya hanya bisa memberikan senyuman. Tanda bahwa saya sudah kehabisan kata-kata atas peristiwa yang menimpa warga Desa Cemarajaya ini.

    Tapi, Lau Pun Nioh tak sedikit-pun menunjukkan ekspresi takut tinggal dan menetap di daerah yang terancam hilang akibat abrasi ini. Ia dan ribuan warga Desa Cemarajaya sudah sangat berpengalaman menghadapi abrasi.

    “Ya kalau rumahnya hancur, pindah lagi,” katanya, “Geser ke tanah yang masih kering. Di sana,”. Sambil menunjuk hamparan tambak udang yang memang dikeringkan untuk menghindari dampak tumpahan minyak.

    Hingga 28 Agustus 2019, ceceran oil spill di Cemarajaya makin banyak. Bahkan, menurut banyak pemberitaan, ada sekitar 20 keluarga mengungsi karena minyak sudah masuk rumah.

    Itu terjadi di Dusun Cemara 2. Rumah mereka berada tepat di tubir pantai. Sama dengan gereja di belakang rumah Lau Pun Nioh.

    Sepasang sumi istri meninggalkan rumah Pendeta Yanes Lantu. Kami dipersilahkannya masuk. Begitu masuk, kami dihadapkan dengan poster besar bergambar Yesus. Di sampingnya, sebuah mimbar kecil dengan lambang salib. Tumpukkan kursi disandarkan pada dinding yang belum selesai dicat.

    “Ini kamar anak-anak tadinya. Terus saya bongkar, dijadikan tempat ibadah,” kata Yanes Lantu. Ia lelaki asal Ambon. Lebih dari 10 tahun menetap di Cemarajaya, menjadi pemimpin jamaah umat Kristiani.

    Yanes Lantu mengambil tiga kursi yang tersandar. Meletakkannya di depan gambar Yesus. “Untuk sementara, rumah ini jadi tempat ibadah kami. Gereja yang lama tidak mungkin lagi kami tempati,” ujarnya.

    Lau Pun Nioh menyimak setiap detail perkataan Pendeta Yanes. Sesekali mengusap air matanya. Hati umat agama apa yang tak sedih, jika melihat tempat ibadahnya hancur akibat abrasi? “Apa yang bisa nenek bantu?” kata Pun Nioh.

    Yanes Lantu tersenyum. Berdiri dari kursi. Lau Pun Nioh, perempuan 70 tahun itu dipeluknya dengan erat. Sangat erat. Sesekali, Yanes Lantu mengelus punggung Pun Nioh.

    Ini seperti melihat pertemuan orang tua dan anak yang lama terpisah. Saya tak bisa membendung rasa haru itu. Saya tak ingin mengganggu suasana pertemuan itu. Bagi saya, ini sangat sentimentil.

    “Saat nenek di Vihara, titip doakan kami agar segera memiliki gereja lagi,” ucap Yanes. “Tuhan selalu bersama orang-orang yang baik, om,” balas Lau Pun Nioh. Sekali lagi, saya dihadapkan pada situasi yang membanggakan. Di sini, Indonesia masih baik-baik saja.

    Sore beranjak malam. Suara debur ombak makin keras. Sayup-sayup terdengar suara adzan. Lau Pun Nioh dan saya beranjak berdiri dari kursi. “Ada masjid, tak jauh dari sini, mas,” kata Pendeta Yanes. Saya menganggukkan kepala. Menyalaminya. Demikian dengan Lau Pun Nioh.

    Kami berjalan meninggalkan rumah Pendeta Yanes Lintu. Di samping rumah Lau Pun Nioh, sejumlah warga Cemarajaya masih terlihat sibuk memasukkan karung-karung berisi minyak ke dalam truck. Tak hanya satu. Hari itu, hanya ada 4 truck yang terlihat.

    Diketahui, kemunculan gelembung gas disertai tumpahan minyak di anjungan lepas pantai YYA-1 area Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java terjadi sejak 12 Juli 2019. Tiga wilayah terkena imbas tumpahan minyak itu, seperti Kabupaten Bekasi, Karawang dan Kepulauan Seribu.

    Pertamina membutuhkan waktu minimal 6 bulan untuk mengatasi dampak sosial dan lingkungan dari tumpahan minyak. Tahap pemulihan dilakukan hingga 2020. Tanggal 15 Agustus 2019, berdasar tulisan di tempo.co, Pertamina mengaku telah melakukan pengeboran sedalam 5.512 kaki dengan target 9.000 kaki.

    Pengeboran itu dilakukan di titik interset agar dapat mengisolasi keluarnya oil spill atau tumpahan minyak secara permanen.

    Siang itu, 22 Agustus 2019, Lau Pun Nioh dan Aceng duduk di bale-bale sambil menikmati secangkir teh dan kue cucur. Tak lama, rombongan Menteri ESDM Rini Mariani Soemarno melintas di depan rumah Pun Nioh.

    “Nggak ikut kumpul di kantor desa, nek,” tanya saya. “Kami di rumah saja. Toh kami ini siapa,” ucapnya.

    Sekira 30 menit, Menteri Rini Soemarno beserta rombongan meninggalkan kantor desa. Itu setelah berfoto bersama sejumlah warga yang bekerja memungut tumpahan minyak, dan memberikan santunan kepada warga terdampak.

    Dari bale-bale rumahnya, Lau Pun Nioh dan Aceng hanya bisa menyaksikan rombongan Menteri ESDM dan petinggi PT Pertamina melintasi depan rumahnya. Meninggalkan Desa Cemarajaya.

    “Siapa yang datang?” tanyanya. “Ibu Menteri Rini Soemarno, nek,” jawab saya. “Oh bukan Menteri Susi,”. “Bukan, nek,” kata saya.

    Dony P. Herwanto, documentary maker, peminum kopi yang setia dan pembaca buku. Menulis untuk menjaga kewarasan dan ingatan.

    (Visited 94 times, 1 visits today)
    Please follow and like us:
    error

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here