Bangun Huntara Mandiri dan Hidup dari Pangan Lokal

Untuk membangun hunian sementara, warga mencari lahan-lahan di dataran tinggi agar jauh dari ancaman tsunami. Sebagian membangun di dekat kebun hingga dekan dengan sumber pangan.

0
42
views
Sagu, pangan olahan dari lingkungan sekitar. Foto: Mahmud Ichi/ Mongabay Indonesia
  • Artikel
  • Pada penghujung Juli lalu, di Desa Jibubu, Gane Barat Selatan, Halmahera Selatan, Maluku Utara, begitu ramai.

    Tak hanya ramai oleh keluarga korban gempa yang berkumpul dalam satu hunian sementara (huntara), juga kesibukan mereka memaku atap seng dan dinding rumah dari papan.

    Saat saya menyambangi desa ini empat hari pasca gempa, belum banyak bantuan menyentuh desa dengan 77 keluarga dan 300 jiwa lebih itu.

    Baca juga : Menengok Waturaka, Sebuah Desa Ekowisata

    Bantuan beras pertama datang dari desa sendiri beli pakai dana desa 300 sak, dengan 40 kg persak. Ada juga bantuan makanan cepat saji seperti mie instan.

    Dalam kondisi mengungsi dan kekurangan terpal untuk membangun tenda, warga mandiri bikin huntara sekitar 1,5 kilometer dari desa mereka.

    Lokasinya, di tempat agak tinggi. Lokasi ini sekaligus jadi permukiman baru.

    Mereka membangun dengan mengambil bahan dari reruntuhan rumah terutama seng dan kayu.

    Ada yang memilih membangun di tepi jalan yang menghubungkan ke Desa Gane Dalam dan Jibubu.

    Ada juga yang membangun agak jauh dari jalan dan berada di tempat agak tinggi.

    Tidak itu saja, lokasi yang dipilih juga berada di bawah tanaman kelapa atau kebun pisang milik mereka.

    Keluarga besar Hasyim Tomadehe membangun satu huntara besar buat tinggal lima keluarga.

    Mereka memilih membuat huntara di ketinggian untuk menghindari ancaman tsunami pasca gempa besar melanda Gane 14 Juli lalu.

    Baca juga : Mangrove yang Tidak Pernah Mengkhianati

    Lahan yang mereka pilih adalah kebun pisang dan ubi kayu. Di sekeliling huntara, banyak tanaman pisang dan ubi kayu, sebagai pangan utama warga.

    Di dapur huntara juga terlihat tandan pisang baru tebang.

    Hasyim Tomadehe, mengatakan, memilih membangun huntara di kebun pisang dan ubi kayu selain menghindari tempat rendah karena takut tsunami, juga ketersediaan pangan lokal ada setiap saat.

    “Kami sadar, bukan satu dua hari tinggal di sini. Mungkin bisa satu tahun bahkan lebih karena rumah-rumah sudah hancur bahkan kampung kami diusulkan pindah karena perkampungan sudah takut ditinggali,” katanya.

    Warga, katanya, takut kembali ke Kampung Jibubu, karena saat gempa air keluar dari dalam tanah seperti menyembur.

    Terjadi rekahan tanah memanjang di tepi pantai desa itu.

    Hasyim bilang, tak mau banyak berharap uluran tangan pemerintah.

    “Kami inisiatif sendiri beberapa keluarga berkumpul membuat rumah yang bisa ditinggali enam bulan sampai satu tahun," ucapnya.

    "Kami memilih kebun ini karena ada pisang, ada kasbi (singkong-red) yang bisa dimakan jika sudah tak ada beras,” katanya.

    Langkah ini, dia ambil sebagai bentuk adaptasi terhadap bencana yang melanda desa mereka.

    Mereka juga memilih membangun huntara dengan material dari rumah yang rusak.

    “Jika kami gunakan terpal atau tenda, daya tahan tak lama. Kami harus tinggal cukup lama sampai rumah bisa terbangun kembali," jelasnya.

    "Butuh biaya besar dan waktu cukup lama membangun kembali rumah kami,” lanjutnya.

    Dia tak banyak berharap kepada pemerintah karena yang terdampak bencana ini bukan hanya satu dua desa.

    “Kami harus bangun rumah supaya bisa ditinggali,” katanya.

    Warga di sini berpikir jangka panjang. Setelah tanggap darurat bencana berakhir atau bantuan dan sumbangan pemerintah maupun masyarakat umum berakhir, mereka harus mengurus diri masing-masing.

    p class="p1">Karena itu, harus berusaha hidup menetap dan mandiri dengan membangun hunian sebelum ada rumah tinggal lebih layak.

    Soal makanan, katanya, mereka juga mengandalkan pangan lokal seperti pisang, ubi kayu dan sagu.

    “Beras juga makanan utama tetapi jika belum ada bantuan, kami andalkan pisang dan ubi kayu serta sagu,” katanya.

    Rugaya Alkatiri, istri Hasyim mengatakan, soal pangan, mereka tak khawatir karena tidak hanya beras.

    Mereka memiliki kebun pisang maupun ubi kayu yang bisa menjamin konsumsi hingga berbulan- bulan belum habis.

    “Saat kami mengungsi hari pertama hingga hari kedua tidak lapar karena kami mengungsi itu kebun yang pisang cukup banyak. Siap dikonsumsi,”katanya.

    Warga di desa ini terbilang tak terlalu pusing logistik makanan karena banyak pangan pilihan selain beras tersedia di lahan mereka.

    Saat menyambangi tempat pengungsian di Jibubu itu baru-baru ini, saya menyaksikan ibu-ibu di tenda milik keluarga Hasyim, memasak makanan dari pisang dan ubi kayu.

    Meski ada bantuan beras dan mie instan untuk, tetap saja ada pangan lain yang dimasak untuk konsumsi sehari-hari.

    Di huntara itu, ada lima karung beras dan beberapa karton mie instan. Ada juga pisang dan singkong tersedia di dapur.

    Cerita soal pangan lokal yang sangat membantu warga korban bencana alam , terlebih ketika belum ada bantuan, juga dilakukan warga Desa Gane Luar.

    Daerah ini, hingga hari ketiga pasca bencana belum ada bantuan bahan makanan.

    Dalam kondisi itu, pangan lokal dari kebun-kebun warga jadi andalan.

    Pemerintah Halmahera Selatan, baru mulai mendistribusi bantuan masuk ke daerah mereka pada hari ketiga.

    Baca juga : Kisah Para Pencari Sampah Jaring Nelayan

    Kala itu, warga berembuk dan mengecek kebun yang punya tanaman pisang, singkong maupun ketela rambat.

    “Hari ketiga kejadian, belum ada bantuan logistik datang, kami berembuk dan mengidentifiksi kebun warga yang memiliki pisang dan singkong untuk jadi bahan makanan,” kata Samaun Malonga, tokoh masyarakat Gane Luar.

    Dia bilang, pangan lokal tak bisa ditinggalkan karena dari kecil hidup mereka mengkonsumsi pisang dan ubi kayu.

    Saat ini, sebagian warga Gane Luar membangun rumah di kebun sebagai hunian sementara sambil menunggu waktu tepat membangun kembali rumah yang hancur.

    Huntara, mereka bangun di kebun selain aman, juga tidak khawatir kesulitanan makanan.

    “Kitorang (kami,red) di sini pangan lokal menjadi penolong utama pasca bencana ketika belum datang bantuan,” katanya.

    Senada dikatakan Argaia Sangaji, warga Gane Dalam. Perempuan usia 72 tahun ini yang hidup bersama anak dan cucu di pengungsian itu tetap mengandalkan sagu sebagai makanan utama mereka.

    Meski di pengungsian banyak bantuan beras maupun mie instan, dia tetap menyiapkan tepung sagu untuk konsumsi sehari- hari.

    Saat ditemui di tenda pengungsian, di Lapangan Sepak Bola Gane Dalam, belum lama ini, dia sedang menjemur tepung sagu di beberapa nampan.

    Tepung sagu ini dibawa ke tempat pengungsian usai gempa. Kala dia mencari mengambil barang-barang tersisa ternyata ada tepung sagu tak rusak. Sagu ini dia dapat dari olahan warga.

    “Ini bagian saya. Sebelum gempa sagu yang saya tanam diolah warga Gane Dalam,".

    Tepung sagu yang ditaruh dalam baskom itu, tak rusak jadi dibawa ke tempat pengungsian untuk dikeringkan,”katanya.

    Dia perlu makan popeda (bubur sagu) atau dibakar maupun divorno jadi lempengan sagu.

    Selain itu, bahan makanan khas Maluku ini juga bisa tahan lama sebagai bahan konsumsi jangka panjang.

    Baca juga : Lau Pun Nioh tak Melawan

    Kemandirian Warga

    Herman Oesman, sosiolog Maluku Utara mengatakan, kalau dilihat inisiatif dan respon warga menunjukkan mereka memiliki kemandirian dan tak ingin tergantung pada pemerintah dalam menangani persoalan.

    “Perlawanan dengan simbol-simbol. Ini sudah dapat jadi “pesan” warga untuk pemerintah, bahwa, mereka memerlukan kepastian, ketepatan, dan keberlanjutan meniti hari-hari mereka usai bencana.”

    Abdul Kadir Arief, Ketua Ikatan Geologi Indonesia (IAGI) Maluku Utara mengatakan, aksi warga itu menunjukkan kemandirian menyikapi kondisi pasca bencana.

    Hal ini, katanya, perlu mendapat respon pemerintah hingga bisa mengembangkan jadi kampung pembelajaran bencana, terutama dalam kemandirian mereka menyikapi pasca bencana.

    Warga bahkan memindahkan tempat tinggal secara mandiri.

    “Ini sebuah langkah maju. Ini sebenarnya model evakuasi mandiri yang diidam-idamkan negara ketika suatu daerah terkena bencana, termasuk misal, menentukan jalur evakuasi mereka ketika terjadi bencana,” katanya.

    Dalam konsep respon pasca bencana, katanya, satu bulan pertama memindahkan warga yang kocar-kacir di dalam tenda. Warga dalam tenda maksimal dua atau tiga bulan.

    “Tidak boleh lebih, karena orang akan stres. Orang yang tinggal di tenda itu tidak sehat secara social. Misal, keluarga yang punya anak perempuan dan laki laki tinggal di suatu tempat bercampur.”

    Dalam waktu tiga bulan itu, katanya, pemerintah harus mulai membangun shelter.

    Shelter, katanya, berfungsi sebagai tempat menunggu pembangunan hunian tetap.

    “Yang terjadi saat ini warga sudah bisa melakukan sendiri. Ini menunjukkan kemandirian warga,".

    [Penulis adalah kontributor Mongabay Indonesia di Halmahera]

    Artikel "Bangun Huntara Mandiri dan Hidup dari Pangan Lokal" merupakan konten kolaborasi dengan Mongabay Indonesia. Konten serupa bisa dilihat di sini

    (Visited 12 times, 1 visits today)
    Please follow and like us:
    error

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here