Lurus, Bersih, Berani: Belajar dari Baharudin Lopa

Dengan hidup sederhana, kita bisa lebih mudah untuk berpegang pada prinsip kerakyatan secara konsisten

0
76
views
Baharudin Lopa. Sumber foto: www.narakata.com
  • Artikel Hasan Aspahani
  • Dia adalah pendekar hukum yang pernah ada negeri ini. Dia bersih dan tegas. Dia seakan tak pernah takut. Dia tak kenal kompromi. Dia sangat ditakuti koruptor.

    Di manapun dia ditugaskan sebagai jaksa dia usut siapa saja yang melanggar hukum terutama mereka yang melakukan korupsi, tindakan yang merusak sistem dan merugikan rakyat banyak.

    Tak jarang pengusutannya berakhir dengan pemindahan tugas sebelum usahanya tuntas. Dan dia tak peduli. Dia adalah Prof. Baharuddin Lopa, S.H. (1935-2011).

    Minggu 24 Januari 1993, harian Kompas menerbitkan wawancara dengan beliau dalam rubrik Lebih Jauh Dengan Prof. Dr. Baharuddin Lopa S.H.

    Kala itu nama beliau jadi pembicaraan publik setelah mundur hanya beberapa jam dari pemilihan gubernur Sulawesi Selatan oleh DPRD setempat yang penuh rekayasa dan pengaturan suara.

    Tentu saja tak cukup satu wawancara untuk memahami dan memetik hikmah kehidupan beliau. Tapi dari wawancara itu setidaknya kita bisa mencatat sejumlah kutipan yang berisi pelajaran berharga.

    Pertama, kunci hidup bersih adalah kesederhanaan. Kalau kita bisa hidup sederhana, maka mudah kita terhindar untuk menerima pemberian-pemberian tidak halal.

    "Sekali kita terpancing dan melakukan penyelewengan, sulit untuk menjadi berani menegakkan keadilan.

    Kedua, Lopa selalu berusaha melihat suatu masalah dengan mengujinya dari dua sisi. Pertama apakah manfaatnya bagi kepentingan umum dan apakah sesuai dengan keadilan.

    "Kalau saya melihat suatu kondisi tidak sesuai dengan kepentingan umum dan keadilan, saya akan gunakan segala daya untuk mengubah keadaan," katanya.

    Ketiga, bahwa ternyata Lopa melawan arus, itu kan tergantung pada kondisinya. Kalau kondisinya sudah sesuai dengan prinsip kepentingan umum dan keadilan, toh Lopa tidak melawan arus. Dalam menegakkan kebenaran dan keadilan, kita tidak perlu lihat arus.

    Keempat, wibawa yang sejati, harus didukung oleh penegakkan hukum. Kalau hukum ditegakkan, wibawa akan terangkat dengan sendirinya dan kepercayaan akan meningkat.

    Kelima, setiap usaha mulia, selalu mendapat ujian. Kita dituntut untuk tak boleh takut dan maju terus. Jika kita mau menjadi orang beriman, maka makin besar ujiannya kita harus semakin terdorong untuk melakukan tugas.

    "Itu pegangan saya. Kalau jabatan menghambat tugas Illahi, letakan jabatan itu. Kebenaran dan keadilan tidak boleh bergantung pada jabatan," kata Lopa.

    Keenam, keseimbangan antara pendidikan umum dan pendidikan agama itu penting untuk membentuk kepribadian kita. Di samping itu, lewat keseimbangan pendidikan, kita bisa menghayati arti pentingnya kesederhanaan sebagai cara hidup.

    Dengan hidup sederhana, kita bisa lebih mudah untuk berpegang pada prinsip kerakyatan secara konsisten.

    [Penulis adalah mantan wartawan. Kini bermukim di Jakarta. Giat menulis puisi dan sedang mendalami penulisan naskah film. Tukang gambar yang rajin berkeliling Jakarta]

    Artikel "Lurus, Bersih, Berani: Belajar dari Baharudin Lopa" merupakan konten kolaborasi dengan narakata.com, konten serupa bisa dilihat di sini

    (Visited 17 times, 1 visits today)
    Please follow and like us:
    error

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here