Joker dan Anarkisme

Joker dikejar-kejar polisi di kereta. Orang-orang bertopeng badut membantunya. Mereka mengeroyok polisi dan Joker berhasil melarikan diri.

0
45
views
Salah satu adegan dalam film Joker. Sumber foto: www.jawapos.com
  • Artikel Shinta Maharani
  • Gelap dan mengusik, film Joker besutan sutradara Todd Phillips. Badut ini kesepian dan tak pernah bahagia sepanjang hidupnya.

    Untuk bercinta pun ia hanya bisa berhalusinasi membayangkan seorang perempuan, Sophie (Zazie Beetz).

    Sophie, ibu tunggal yang tinggal di apartemen kumuh, tetangga Arthur Fleck (Joaquin Phoenix), tokoh Joker.

    Arthur tumbuh di lingkungan yang sangat keras. Penny Fleck (Frances Conroy) yang menderita kesehatan mental mengadopsi Arthur. Sejak bocah Arthur mengalami serangkaian kekerasan dan ibunya membiarkan itu.

    Arthur tak suka sekolah. Ibunya menasehati agar ia bersekolah supaya punya nasib dan kehidupan yang lebih baik.

    “Saya tak suka sekolah. Saya bercita-cita menjadi pelawak,” kata Arhur saat menghibur penontonnya.

    Film berdurasi dua jam ini dibuka dengan Arthur yang memakai kostum badut dengan rambut kriwil sedang membawa papan di jalanan.

    Segerombolan anak muda mencuri papan yang ia bawa. Arthur mengejar anak muda itu untuk merebut papan di antara gang-gang kumuh penuh tumpukan sampah.

    Berandalan itu menghajar Arthur dan papannya dihancurkan.

    Arthur tertawa terbahak-bahak di hadapan seorang pegawai Dinas Sosial di Kota Gotham di awal 1980-an.

    Gotham, kota yang penuh kekacauan karena ketimpangan si kaya dan miskin, kejahatan merajalela, sampah berserakan, dan tikus di mana-mana.

    Arthur tak bisa menahan tertawa dengan gigi yang menyeringai, tenggorokannnya seringkali berbunyi seperti sedang tersedak.

    Tertawa tiba-tiba yang tidak bisa dihentikan ini terjadi karena Arthur mengalami gangguan syaraf. Ia harus mengkonsumsi obat-obatan.

    Todd, Sutradara Amerika Serikat peraih nominasi Oscar membuka filmnya dengan gambaran cerita awal mula bagaimana Joker selalu tertawa menyeringai terbahak-bahak.

    Suatu hari Arthur naik bus kota. Seorang bocah yang duduk di depannya menoleh kepadanya dan ketakutan. Arthur lalu menghiburnya dengan melebarkan mulutnya lewat dua tangannya.

    Bocah itu tertawa. Arthur tertawa terbahak-bahak terus menerus. Ibu sang bocah membentak Arthur agar tak mengganggu anaknya.

    Arthur menyodorkan kertas berisi keterangan tertawa tiba-tiba yang tidak bisa dikendalikan itu karena ia sakit.

    Suatu hari di kereta, Arthur yang mengenakan pakaian badut dan menenteng tas melihat tiga orang laki-laki berdasi yang mengganggu seorang perempuan.

    Ketiganya terus merayu perempuan itu. Arthur tiba-tiba tertawa dan tak bisa dikendalikan. Tiga lelaki itu marah dan merasa Arthur mengejek. Arthur dipukuli.

    Dia melawan dengan menembak ketiganya. Oh ya perempuan yang diganggu tadi selamat dari gangguan tiga lelaki.

    Arthur jadi buronan polisi. Poster bergambar badut sebagai buruan muncul di mana-mana dan televisi juga menyiarkannya.

    Dia membunuh karena terdesak dan membela diri. Hidup Arthur terus terguncang. Suatu hari ia sedang menghibur anak-anak di rumah sakit dengan aksi badutnya.

    Pistol dari kantungnya terjatuh. Pihak sekolah memecat Arthur karena ketauan membawa senjata. Arthur membela diri itu sebagai bagian dari pertunjukannya.

    Dia kehilangan pekerjaan. Padahal, Arthur harus mengurus ibunya yang tua renta. Ia setia memandikan ibunya dan menemani ibunya menonton televisi.

    Ibunya selalu mengoceh tentang calon wali kota Gotham City, Thomas Wayne. Thomas ayahanda Bruce Wayne, si superhero Batman, musuh bebuyutan Joker. Ada skandal percintaan antara Thomas dan ibunda Arthur.

    Ibunda Arthur menulis surat yang isinya Arthur adalah anaknya si Thomas Wayne. Tentu saja Arthur yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ayah marah dan berusaha mencari tahu kebenarannya. Ternyata ibunya berhalusinasi.

    Film yang diputar perdana di Indonesia pada 3 September ini menuai kritik karena menonjolkan kekerasan dan senjata.

    Apakah film ini menonjolkan kekerasan? Di sepanjang film memang iya. Ada aksi pembantaian orang-orang yang Joker anggap memusuhinya.

    Saya sebagai orang yang menolak berbagai bentuk kekerasan sangat terganggu karena kekerasan yang tampak nyata itu.

    Tapi, lagi-lagi ini kan film tentang bandit Joker dalam hidup yang serba tertekan. Saya mencoba memahami kenapa kekerasan itu terus bermunculan dan tak bisa dibendung.

    Pertama, Joker hidup di lingkungan yang penuh kekerasan. Trauma mempengaruhi hidupnya. Pistol yang ia gunakan itu ia dapatkan dari seorang temannya.

    Joker ditawari dan dipaksa utang. Joker sebenarnya terusik dengan pemberian senjata itu. Orang yang memberikan senjata ini pada akhirnya dibunuh Joker dengan gunting saat dia ke rumah Joker.

    Oh ya, Joker tak membunuh temannya yang cebol yang datang bersama si pemberi pistol tadi. Si tubuh kerdil ini satu-satunya teman Joker yang baik dan tak pernah mengganggunya.

    Brutalitas Joker bisa kita lihat lagi saat ia membekap mulut ibunya dengan bantal hingga tewas di rumah sakit.

    Joker juga memberondongkan peluru ke mata dan tubuh Murray Franklin (Robert De Niro), penyiar televisi karena ia mengundangnya untuk mengolok-olok.

    Di penghujung film, saya terkesan dengan adegan semua orang di Gotham City yang mengenakan topeng badut.

    Situasi kota menjadi kacau tak terkendali. Joker, representasi orang-orang miskin dan paria. Orang-orang bersimpati dan menjadikan dia sebagai tokoh perlawanan terhadap orang-orang kaya dan otoritas.

    Joker dikejar-kejar polisi di kereta. Orang-orang bertopeng badut membantunya. Mereka mengeroyok polisi dan Joker berhasil melarikan diri.

    Di bagian ini saya jadi ingat film Robin Hood yang berpihak pada orang-orang tak berdaya. Joker berhasil memprovokasi orang-orang, seperti ingin revolusi. Dia menyebarkan sinisme pada kalangan borjuis.

    Kekacauan Gotham City mengingatkan saya pada film berjudul Blindness, yang diadaptasi dari karya Nobelis asal Portugis, Jose Saramago.

    Blindness bicara tentang situasi kota yang tak terkendali, kelaparan, wabah kebutaan, dan totalitarianisme.

    Saramago dikenal punya kecenderungan politik anarko dan komunis. Dia juga atheis. Apa yang Joker gambarakan di ujung film juga mengingatkan pada film V for Vendeta yang bercerita bagaimana orang-orang melawan kekuasaan totaliter di Inggris.

    Orang-orang mengenakan topeng Guy Fawkes dan menyerbu para politikus ambisius dan fasis. Natalie Portman yang botak alias gundul, pemeran utama film ini tampil menggugah.

    Dari bagian cerita tokoh-tokoh subversif itu saya kemudian teringat Batman, musuh Joker yang dielu-elukan sebagai pahlawan dan tokoh protagonis.

    Batman anak dari Thomas Wayne yang dibunuh bersama isterinya oleh orang yang bertopeng badut.

    Batman waktu itu masih bocah. Pembunuhan ini tragis. Tapi, buat saya kehidupan Batman tidak segelap dan semuram Joker.

    Ini karena saya tak terkesan dengan karakter hero layaknya Batman, Superman, dan Spiderman. Dari dulu saya sinis terhadap kepahlawanan.

    Joker mengajarkan tragedi hidup tak berkesudahan. “Aku berpikir hidupku tragedi, tapi kemudian aku tahu itu komedi,” kata Joker.

    Kalimat itu mengingatkan pada komedian Charlie Chaplin. Saya menonton Modern Times, tokoh utamanya Chaplin dan menjadi paham apa itu kapitalisme.

    Saya menjadi bersimpati pada Joker yang hidupnya penuh tragedi dan nestapa.

    Tentu saja saya puas dengan penampilan Phoenix yang mampu menghidupkan perannya. Peraih nominasi Oscar ini dikenal sebagai aktor yang suka melakukan pendekatan mendalam terhadap karakter yang dimainkannya. Tubuhnya yang kurus, menari-nari di antara sampah dan kubangan comberan dengan raut wajah yang muram.

    Catatan: berbagi untuk orang-orang yang tidak sempat menonton film ini karena mungkin tidak seberuntung saya, bisa menikmati film di bioskop. Juga untuk mereka yang tidak bisa merogoh kocek membeli tiket film Joker agar tetap bisa makan atau untuk memenuhi kebutuhan hidup lainnya.

    Terdengar klise dan sentimentil mungkin ya. Tapi, barangkali tak semua orang mau, suka, dan membuang duit di bioskop. Semoga berguna.

    [Sumber tulisan berasal dari FaceBook Shinta Maharani]

    Shinta Maharani, wartawan, penikmat seni dan pembaca buku yang setia. Peresensi amatir. Tinggal di Jogja

    (Visited 22 times, 1 visits today)
    Please follow and like us:
    error

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here