Melihat Kondisi Wamena

Sekitar 80 persen pengungsi dari Wamena orang Minang yang berada di Sentani memilih untuk pulang kampung dulu.

0
27
views
Kondisi di Wamena. Sumber foto: Syofiardi Bachyul JB.
  •  Artikel Langsung dari Wamena: Syofiardi Bachyul Jb
  • Saat ini saya berada di Jayapura, Provinsi Papua untuk melihat dan memahami kejadian di Wamena. Hari ini, saya dan kawan-kawan di Jayapura akan menuju Wamena dengan Trigana Air. Mungkin kami akan beberapa hari di Wamena.

    Ke Wamena gampang, karena beberapa pesawat komersial sudah melakukan penerbangan beberapa kali sehari. Tapi untuk kembali dari Wamena ke Jayapura tiket sudah habis hingga 10 Oktober (mungkin hari ini lebih lagi). Sedangkan dengan Hercules pengungsi sudah antre berhari-hari. Soal kembali ini akan diurus nanti sesampai di Wamena.

    Setelah semalaman di pesawat, saya mendarat di Jayapura Senin, 1 Oktober 2019 pagi. Malam hari setelah menunggu karena ada acara dengan KPU akhirnya saya bertemu dengan Gubernur Papua Lukas Enembe.

    Kami mewawacarainya terkait penanganan kejadian di Wamena dan penyebabnya. Selain itu juga fokus tentang tanggapannya terhadap para korban dari Sumatra Barat.

    Tentu saja para perantau Sumbar yang tinggal di Wamena tersebut adalah warganya Pak Enembe, bukan warga Sumatra Barat.

    Tapi ikatan kampung halaman kuat di daerah-daerah di Nusantara, sehingga setiap kejadian masyarakat kampung asal selalu terlibat, terutama secara positif memberikan bantuan.

    Wawancara dengan Pak Lukas Enembe sudah saya tuliskan dalam dua berita yang saya bebaskan ke kawan-kawan di Padang untuk memuat di medianya masing-masing.

    Kemarin, seharian saya melihat pengungsi di Sentani, Kabupaten Jayapura. Bersama kawan-kawan wartawan di Jayapura saya pergi ke Lanud Jayapura.

    Sejak 26 September hingga pukul 12.36 WIT kemarin, Hercules telah mengangkut 5.900 pengungsi dari Wamena.

    Selama dua jam di sana Hercules sudah masuk dua kali membawa penduduk yang berasal dari bermacam daerah, termasuk orang asli Papua.

    Saya menanyakan kian-kemari apakah ada yang dari Padang. Ternyata kedua Hercules tidak membawa pengungsi orang Minang. Mereka dari Sulsel (umumnya Toraja), Jawa Timur, dll. Saya mewawancarai beberapa.

    Menjelang pergi saya bertemu dengan dua pemuda yang membawa spanduk kecil "Posko IKM (Ikatan Keluarga Minang) Padang".

    Saya menemuinya dan menggali informasi. Salah satu ternyata istrinya sedang hamil tua, hampir 9 bulan. Ia mengungsi sejak Jumat dan bingung apa yang akan dilakukan.

    Jika memilih membawa istri ke kampungnya di Pesisir Selatan, takut tidak sanggup dan khawatir kalau melahirkan di jalan.

    Pilihan terbaik bertahan di Sentani hingga melahirkan, tapi uang di kantong tidak punya. Ia ingin melakukan USG istrinya, tapi di puskesmas dan rumah sakit antrean panjang, sedangkan di klinik swasta sekitar Rp400 ribu, belum lagi biaya obat.

    Ternyata dia menunggu Hercules yang akan membawa pengungsi orang Minang. Hercules belum sampai.

    Saya menuju Posko Pengungsi Minang di Tabita. Saya bertemu pengurus posko, ada Mus Mulyadi yang lebih awal mengungsi ke Sentani, ada Bambang Zulhadi pengusaha minang di Sentani.

    Ia kemudian sibuk membagikan kebutuhan pengungsi di ruko tersebut. Saya mendapat kabar juga, korban luka perempuan bernama Putri di rumah sakit sudah mulai membaik.

    Namun perlu pendampingan psikologis karena anaknya yang kecil meninggal di pangkuannya dan suaminya meninggal di dekanya.

    Di Posko Tabita, Sentani tercatat pengungsi asal Sumbar kemarin 76 orang. Sedangkan di masjid Al Aqso 47 orang, dan di belakang Gerja Silo 117 orang. Sehari sebelumnya telah berangkat 21 orang ke Padang dengan pesawat dengan biaya sendiri.

    Kemudian sehari sebelumnya juga diberangkatkan 130 orang dengan kapal laut menuju Tanjung Periuk yang difasilitasi ACT.

    Kapal akan berlayar selama seminggu dengan menyinggahi Sorong dan Ambon. Di setiap kita yang disinggahi para pengurus IKM setempat sudah dikontak untuk menyupplay bantuan logistik.

    Hari ini juga ada yang akan berangkat 97 orang dengan pesawat yang difasilitasi ACT. Kemudian 50 orang pengungsi sudah ditampung kerabat mereka di Sentani.

    Sekitar 80 persen pengungsi dari Wamena orang Minang yang berada di Sentani memilih untuk pulang kampung dulu.

    Tujuan utama menenangkan diri sambil mencari jalan untk melanjutkan usaha, entah kembali ke Wamena atau mencari daerah lain. Mereka butuh bantuan dari pihak ketiga.

    Saya mendapat kabar, ada sekitar 2.000 perantau minang di Wamena. Umumnya mereka berasal dari Kabupaten Pesisir Selatan.

    Dengan tercatat sekitar 500 yang mengungsi, berarti masih ada 1.500 yang memilih masih bertahan di Wamena. Data ini akan saya cek nanti.

    Semoga Pemprov Papua, Pemprov Sumbar, dan para pihak segera menyalurkan bantuan sesuai kebutuhan mereka, terutama yang mendesak. Sekian dulu.

    [Tulisan ini bersumber dari FaceBook Syofiardi Bachyul JB]

    [Penulis adalah mantan wartawan The Jakarta Post. Ketua Majelis Etik Nasional Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan anggota AJI Padang yang juga mengelola website jurnalistravel.com]

    (Visited 10 times, 1 visits today)
    Please follow and like us:
    error

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here