Ketika Suku Laut Tidak Lagi di Laut

Saat ini sebagian besar masyarakat Suku Sekak bekerja untuk penambangan timah rakyat.

0
56
views
Batman, pawang atau tokoh adat Suku Sekak, sub Suku Laut, di Desa Baskara Bakti, Namang, Bangka Tengah. Foto: Iga Pengestu / Mongabay Indonesia
  • Artikel 
  • Suku Sekak, sub Suku Laut, merupakan salah satu suku tua yang hidup di Pulau Bangka dan Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung, yang masih bertahan hingga saat ini.

    Apakah Suku Sekak merupakan laskar dan penjaga gerbang terdepan wilayah kemaritiman Kedatuan Sriwijaya, serta sejumlah Kesultanan? Bagaimana kondisinya saat ini?

    “Sejak 1973 kami tidak lagi menetap di laut, dan 10 tahun terakhir sebagian besar kami tidak lagi melaut atau mencari ikan,” kata Batman [70], pawang atau tokoh adat Suku Sekak yang berdiam di Desa Baskara Bakti, Kecamatan Namang, Kabupaten Bangka Tengah.

    Dijelaskan Batman, Suku Sekak merupakan keturunan Suku Mantang, suku tertua Suku Laut. Mereka bukan bagian dari Suku Melayu. Di bawah Suku Mantang adalah Suku Juru dan Suku Belantu.

    “Saat ini sebagian besar warga kami ikut penambangan timah rakyat untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Kebun kami yang dulunya ditanami lada dan sayuran, yang diberikan pemerintah ketika pindah ke darat, sebagian besar sudah dijual, dijadikan perkebunan sawit dan lainnya,” jelasnya.

    Awal mereka tidak lagi melaut sekitar 2009. Saat itu, mereka ditangkap dan dilarang mencari ikan di laut karena menggunakan bom ikan. “Kami diajari orang luar agar mendapatkan banyak ikan yang dijual pada mereka,” katanya.

    Saat ini, sebenarnya bisa saja kembali melaut. “Tapi ikannya sudah habis, sulit didapatkan. Jika ingin melaut lebih jauh [Laut Cina Selatan], banyak ruginya, sebab kapal yang kami punya kapasitasnya tidak seimbang antara kebutuhan BBM dan hasil tangkapan.

    Mungkin ikan sudah busuk dan sulit dijual jika sampai ke daratan,” jelas Batman yang saat ini terus mempertahankan “identitas” Suku Laut Mantang melalui seni tradisi sastra tutur yang biasa digunakan dalam ritual laut yang disebut “Taber Laot”. Tradisi yang dilakukan setiap Agustus.

    Dijaga

    Terkait hubungan Suku Laut dengan Suku Melayu di Pulau Bangka dan Belitung, Batman menceritakan kisah yang diyakini Suku Sekak selama ratusan tahun.

    Kisahnya, manusia di Bumi [Nusantara] ini dijaga dua putri. Putri duyung bernama Siti Muli yang menjaga wilayah Timur atau matahari terbit, sementara di Barat atau matahari terbenam dijaga Putri Murni Muna.

    “Mereka bersudara, yang tertua Siti Muli. Di masa lalu masyarakat yang dijaga Putri Murni Muna banyak hidup di daratan, sementara yang dijaga Situ Muli hidup di laut,” jelasnya.

    Kelompok masyarakat yang dijaga Putri Siti Muli adalah Suku Laut, sementara yang dijaga Putri Murni Muna adalah Suku Melayu.

    Dalam perkembangannya, Suku Laut dan Suku Melayu terjadi pembauran melalui pernikahan. Banyak lelaki Suku Melayu mempersunting perempuan Suku Laut. Dari pernikahan ini terjadi asimilasi budaya, seperti bahasa, seni dan kepercayaan atau agama.

    Suku Sekak di Pulau Bangka tersebar di pesisir Kabupaten Bangka Tengah, Bangka Induk dan Bangka Barat, serta di Bangka Selatan yang menyambung ke Selat Kaspar hingga Belitung Barat dan Belitung Timur.

    Batman mengatakan, asal usul Suku Sekak dari Gunung Daik, Pulau Lingga, Provinsi Kepulauan Riau. Kawasan pertama yang ditinggali mereka berada di Selat Kaspar.

    Dikutip dari artikel “Taber Laot dan Muang Jong Tradisi Adat Masyarakat Pesisir Pantai Kepulauan Bangka-Belitung” yang ditulis Vau-G, Suku Sekak saat ini memiliki organisasi.

    Di Teluk Kelabat dipimpin Sakban yang menetap di Desa Air Asem, dan wakilnya Awang di Desa Jebu Laut. Di Pulau Semujur dipimpin Batman di Desa Baskara Baakti dan wakilnya Bujang Badrin di Desa Puding Besar. Di Lepar Pongok dipimpin Arip di Desa Kumbung. Di Gantung Manggar dipimpin Sunardo di Desa Seberang.

    Vau-G mengutip catatan EP Wieringa dalam “Carita Bangka” [Rijksuniversiteir Leiden, 1990] yang mengalihbahasakan “Legenda Bangka” yang disusun Haji Idris tahun 1861, pasal 26. Disebutkan bahwa orang Sekak adalah keturunan prajurit Tuan Sarah.

    Tuan Sarah seorang pedagang yang ditunjuk Sultan Johor untuk memimpin pasukan penyerbu bajak laut di Bangka awal abad ke-17. Setelah para bajak laut diusir, sebagian pasukan tersebut menetap di Bangka.

    Ini yang menjadi cikal-bakal orang Sekak. Terkadang, Suku Sekak dikenal juga dengan Manih Bajau atau keturunan bajak laut.

    Apakah leluhur Suku Sekak di Pulau Lingga merupakan suku laut dari laskar Kedatuan Sriwijaya? Ternyata, dalam ingatan Batman, tidak ditemukan kisah Kedatuan Sriwijaya. “Dalam cerita tutur yang saya dapatkan dari para orangtua belum ada riwayat itu,” jelasnya.

    Bambang Budi Utomo, arkeolog lahan basah, menyebutkan kemungkinan besar Suku Laut yang saat ini menetap di Kepulauan Riau seperti Lingga [Leluhur Suku Sekak], Pulau Batam, Semenanjung Malaya, pesisir Sumatera Timur dan Pulau Tujuh, dulunya merupakan perompak yang berperan penting dalam Kedatuan Sriwijaya, Kesultanan Malaka, dan Kesultanan Johor.

    Suku Laut yang juga disebut “Orang Selat” bukan Orang Lanun. Mereka bertugas menjaga selat-selat dan memandu pedagang ke pelabuhan kerajaan-kerajaan tersebut.

    Dijelaskan Batman, pada dasarnya Suku Sekak di komunitasnya ingin kembali ke laut atau mencari ikan. “Sebab timah ini kan tidak abadi, jika habis maka habis pula sumber kehidupan kami. Sementara lahan untuk berkebun sudah tidak ada, satu-satunya cara ya kembali ke laut,” katanya.

    Persoalannya, untuk kembali ke laut mereka tidak memiliki perahu yang kapasitasnya lebih baik. “Kami senang jika ada bantuan dari pemerintah berupa perahu yang kapasitasnya memadai, sehingga dapat mencari ikan hingga Laut Cina Selatan atau sekitar Kepulauan Natuna,” ujarnya.

    Penambangan Timah

    Penambangan timah di permukiman Suku Laut Sekak bermula 1973-1974. Saat dimulai penambangan timah di Pulau Semujur.

    Awalnya, komunitas Suku Laut Sekak yang menetap di laut sekitar pulau tersebut dipindahkan ke daratan yang hingga saat ini mereka diami.

    Penambangan timah di pantai dan laut berlangsung setelah Suku Sekak dilarang melaut karena menggunakan bom ikan, sekitar 2009.

    Lokasi penambangan timah yang sampai saat ini terus berlangsung sebelumnya merupakan wilayah pencarian ikan Suku Laut Sekak.

    Sebagai informasi, sebelum adanya penambangan timah di laut, sekitar 45 ribu nelayan hidup di sepanjang pantai dan laut Pulau Bangka dan Belitung yang luas daratannya sekitar 1,6 juta hektar. Termasuk nelayan dari Suku Laut Sekak.

    Berdasarkan catatan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia [Walhi] Bangka Belitung, pada 2018 tercatat 298 IUP laut. Sementara di daratan 1.343 IUP. Luas pertambangan darat dan laut tersebut sekitar 595.381 hektar.

    Terkait laut yang mengalami kerusakan karena penambangan timah laut yang dilakukan PT. Timah [Persero] Tbk, perusahaan tersebut melakukan sejumlah rehabilitasi laut.

    Kegiatan ini berupa penempatan rumpon, fish shelter dan atraktor cumi, yang gunanya membantu meningkatkan hasil tangkapan ikan para nalayan di wilayah pesisir.

    Upaya tersebut sudah dilakukan di perairan Teluk Limau [Bangka Barat], Pulau Lampu Belinyu, Rebo dan Matras [Kabupaten Bangka], perairan Tanjung Beriga, Pulau Simbang, Pulau Ketawai dan Pulau Semujur [Bangka Tengah], perairan Pulau Selunduk [Belitung Timur], serta perairan Malang Guntur, Karang Aji, Tanjung Ular dan Teluk Limau [Bangka Barat].

    [Penulis, Nopri Ismi adalah mahasiswa Fakultas Dakwah UIN Raden Fatah Palembang, Sumatera Selatan, mengikuti pelatihan jurnalistik Mongabay Indonesia di Palembang pada 2017 dan 2018]

    Artikel "Ketika Suku Laut Tidak Lagi di Laut" merupakan konten kolaborasi dengan Mongabay Indonesia. Konten serupa bisa dilihat di sini

    (Visited 17 times, 1 visits today)
    Please follow and like us:
    error

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here