Para Pemanen Sagu

Panen pohon sagu di Desa Pangkalan Batang Barat masih dilakukan manual, dengan diangkut gerobak dan perahu menuju ke pabrik pengolahan sagu.

0
51
views
Bongo (45), berpose disela-sela kegiatanya saat memindahkan sagu batangan dari kebun menuju jalan raya, dengan cara didorong menggunakan kayu yang sudah di pasang besi, kemudian diapitkan ke kanan kiri sagu. Foto: Falahi Mubarok/ Mongabay Indonesia
  • Artikel 
  • Terik matahari begitu menyengat siang itu. Kendaraan truk membawa minyak sawit hilir-mudik melewati salah satu jalan raya di Desa Pangkalan Batang Barat, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau, membuat debu berterbangan, disaat musim kemarau panjang, debu-debu itu bisa menutupi jarak pandang tatkala berpapasan dengan truk.

    Dari kejauhan, nampak seorang pria membawa tumpukan batang pohon sagu di atas gerobak yang diikat dengan tali bekas ban dalam. Gerobak itu ditarik menggunakan kendaraan bermotor roda dua. Jalannya pelan, karena untuk menjaga keseimbangan agar batang sagu yang dia bawa itu tidak terjatuh.

    Untuk membawa hasil kebun seperti sawit, karet, gerobak merupakan salah satu alat transportasi yang digunakan oleh warga sekitar, tidak terkecuali juga batang tanaman sagu. Untuk itu, gerobak sudah tidak asing lagi di kabupaten berjuluk kota terubuk ini.

    “Sagu ini mau saya bawa ke tepi laut, nanti balik lagi ke kebun,” ujar Bakrie, saat ditanya akan dibawa kemana batang tanaman kaya karbohidrat.

    Dalam setengah hari, Bakrie mengaku sudah puluhan kali bolak-balik dari titik kebun sagu yang sedang dipanen ini menuju ke tepian laut, jaraknya kurang lebih 2,5 kilometer.

    Dari tepian laut, batang sagu yang sudah selesai dia usung itu, kemudian nantinya ada yang mengambil dengan menggunakan perahu untuk dikirim ke pabrik tepung sagu.

    Proses Tidak Mudah

    Saat proses pemanenan tanaman yang digunakan sebagai bahan tepung itu, Bakri bekerja bersama empat rekannya dengan tugas yang berbeda-beda.

    Empat temannya berada di kebun, sementara Bakri bertugas bolak-balik membawa sagu dari kebun ke tepian laut.

    Dari jalan raya yang dekat kebun sagu, Bakri bekerja bersama Ibrahim Abu Samah, mereka berdua kompak menaikkan batangan sagu yang sudah dipotong berukuran satu meter itu keatas gerobak.

    Sementara, di dalam kebun sudah ada tiga orang petugas yang berperan memanen, satu bagian menebang, dua orang lagi yang membawa sagu dari kebun ke jalan raya.

    Di dalam kebun, dua sosok pria terlihat sedang mendorong sagu, melewati batang daun sagu yang sudah dipersiapkan sebagai jalan masuk ke rumpun, agar memudahkan proses pengangkutan hasil tebangan, polanya seperti rel kereta api.

    Di kanan-kirinya masih terdapat rimbunan tanaman sagu yang belum dipangkas, sehingga dua orang ini seolah baru keluar dari gua yang ditumbuhi tanaman sagu.

    Peralatan yang digunakan untuk mendorong pun cukup sederhana, yaitu kayu berukuran tiga meter yang sudah dipasangi besi, kemudian diapitkan ke kanan kiri sagu.

    Ibrahim menjelaskan, proses pemanenan ini memang dilakukan dari dalam terlebih dahulu. Alasanya, jika penebangan sudah dekat dengan jalan raya, nantinya akan lebih ringan.

    “Prosesnya tidak mudah, karena masih dengan cara manual, sehingga membutuhkan banyak tenaga, apalagi sagu ini kan yang di panen batangnya,” ujar lelaki berumur 71 itu di perkebunan seluas satu hektare, dia mengaku lebih senior dari ke empat rekannya.

    Panen sagu, lanjutnya, bisa dilakukan saat pohon berusia 6-7 tahun, atau bila ujung batang mulai membengkak, disusul keluarnya selubung bunga dan pelepah daun berwarna putih, terutama pada bagian luarnya, untuk ketinggianya antara 10-15 m, dengan diameter 60-70 cm.

    Sementara itu, tebal kulit luar 10 cm, dan tebal batang yang mengandung sagu 50-60 cm.

    Lebih dari Seminggu

    Berbeda dengan Ibrahim yang sudah puluhan tahun makan asam garam menjadi buruh panen sagu, Abu Bakar (30), merupakan pendatang baru yang ada dilingkungan mereka.

    Dia menceritakan, awal mulanya diajak oleh Bongo (45) yang merupakan tetangga dekatnya, karena tidak ada pekerjaan dia mengiyakan tawaran itu.

    Baginya, ini merupakan pengalaman pertama sebagai buruh panen sagu, mereka sudah berhari-hari berada di pulau Bengkalis itu. Sementara dia dan rekanya mengaku berasal dari Kepulauan Meranti, Provinsi Riau.

    Abu sendiri bertugas sebagai tukang nebang. Dengan menggunakan mesin gergaji, dalam sehari dia mengaku bisa menebang rata-rata 100 tanaman sagu. Itu dimulai dar jam 06.00 WIB sampai dengan jam 04.00 WIB, waktu istirahatnya dari jam 10.00-13.00 WIB.

    Dia melanjutkan, tanaman sagu yang selesai ditebang itu kemudian dibersihkan, berikutnya dipotong menjadi 5-7 bagian, tergantung besar tingginya sagu. Selain gergaji mesin, alat lain yang digunakan yaitu kampak dan golok.

    Proses selanjutnya dibuatkan lubang hidung untuk tali, karena nantinya akan digabung dan ditarik dengan menggunakan perahu, “pekerjaan seperti ini membutuhkan tenaga kuat. Resikonya juga besar. Banyak durinya juga susah, belum nanti ada ularnya juga. Tapi demi keluarga apapun saya lakukan, asal pekerjaan itu halal” ucap Abu yang sesekali mengusap keringatnya menggunakan kaos lusuh yang dipakainya.

    Selain Abu, ada juga Kosel (40), diceritakannya, saat mencari rezeki ini dia dan rekannya sudah seminggu meninggalkan keluarga di rumah, dalam sehari Kosel mengaku dibayar Rp 100 ribu dari pemilik sagu.

    Dia mengaku menikmati pekerjaan ini, selain bisa mendapatkan rezeki, fisiknya juga bisa sehat. “Saya syukuri saja, mumpung masih kuat, saya anggap ini olahraga yang dibayar,” katanya.

    Untuk harga tanaman sagu di tingkat petani, katanya, per batangnya saat ini Rp 38 ribu. Badan Ketahanan Pangan Provinsi Riau, dilansir dari bisnis.com menjelaskan, untuk produksi tanaman sagu yang ada di Riau mampu mencapai hingga 246.000 ton/tahun yang dihasilkan dari lahan seluas 87.000 hektar.

    Beberapa daerah di Riau yang memproduksi sagu yaitu Kabupaten Kepulauan Meranti, Indragiri Hilir dan Kabupaten Bengkalis.

    [Penulis adalah kontributor Mongabay Indonesia. Tinggal di Riau]

    Artikel "Para Pemanen Sagu " merupakan konten kolaborasi dengan Mongabay Indonesia. Konten serupa bisa dilihat di sini

    (Visited 16 times, 1 visits today)
    Please follow and like us:
    error

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here